“See things the way it should be, not the way the world make it seems .. Real authority is not build through lies.” – Iffah Khairunnisa
DIJUAL Original BBC Knowledge Series VCD, Rp1.000.000/51 keping!! 100% keuntungan akan disumbangkan kepada korban gempa di Tasikmalaya, Cianjur, dll ..
Posted in School Work, pesan sosial, social with tags amal, Bandung, Cianjur, gempa, gempa di Tasikmalaya, Original BBC Knowledge Series VCD, penggalangan dana, santunan, seri VCD Original BBC Knowledge, Sukabumi, sumbangan on September 10, 2009 by technowyvernSekolah kami, M. I. TechnoNatura, sedang mengadakan penggalangan dana untuk membantu masyarakat di Cianjur, Tasikmalaya, Bandung, Sukabumi, dll yang tertimpa musibah gempa pada tanggal 2 September 2009 yang lalu. Karena itu, kami menawarkan berbagai macam produk dan jasa untuk mengumpulkan dana bantuan sebanyak-banyaknya.
Tawaran terbaik kami adalah seri VCD Original BBC Knowledge dengan harga Rp1.000.000/51 keping. Ada 11 seri yang tersedia:
1. The Human Mind (3 episode)
2. The Human Face (4 episode)
3. Human Instinct (4 episode)
4. The Life of Mammals (10 episode)
5. The Private Life of Plants (6 episode)
6. State of the Planet (3 episode)
7. The Human Body (4 episode)
8. How to Build a Human (4 episode)
9. The Planets (8 episode)
10. Horizon (2 episode)
11. Human Senses (3 episode)
Jika Anda tertarik untuk membeli, Anda bisa menghubungi: Saudara Eko di 085692235488 atau Iffah di 085694413200. Penawaran berlaku hingga hari Minggu, 13 September 2009!
Content Analysis – “Broken” by Lifehouse
Posted in School Work, social with tags broken, content analysis, interpretasi, lifehouse, tugas sosial on May 2, 2009 by technowyvern“Broken” adalah salah satu lagu andalan Lifehouse dalam album “Who We Are.” Asal mulanya, lagu ini dibuat pada jam 3 pagi setelah Jason Wade mengunjungi temannya yang harus menggunakan mesin dialisis (berfungi membantu penyaringan darah ketika kerja ginjal terganggu) dan hendak melaksanakan operasi transplantasi ginjal keduanya di Nashville, Tennessee. Keadaan temannya itu membuat Jason merasa pilu.
“Hatiku terasa sakit melihatnya seperti itu,” kata Jason, mengacu pada teman-nya, “Tapi aku juga terinspirasi pada saat yang sama. Aku menemaninya seharian itu, dan ketika pulang kembali ke kamar hotel, aku tak bisa tidur. Ini adalah salah satu lagu yang sangat ingin kutulis karena ia hampir menuliskan dirinya sendiri. Aku bangun jam tiga pagi, mengeluarkan kertas hotel, dan mulai menulis. Ini berlangsung selama 15 menit. Dan aku sudah lama tak menulis lagu seperti ini, yang selesai dalam waktu yang sangat singkat—sejak ‘Hanging By A Moment.’ Aku tahu ada sesuatu yang sangat spesial mengenai lagu ini. Aku memainkannya untuk temanku di hari berikutnya, lalu merekamnya, dan saat itu benar-benar saat yang emosional.”
Teman Jason tersebut tetap bertahan, berjuang menahan sakitnya. Karena itu, menurut Jason, bila kita mendengarkan lirik “Broken”, lagu itu bercerita mengenai perjuangan demi harapan, keinginan untuk terus hidup ketika segalanya terlihat begitu suram, dan bertahan. Selain itu ia berkata bahwa tema religi memang ada dalam lagu tersebut, hanya saja penggunaannya tidak terlalu banyak.
Meski lagu ini benar-benar menggambarkan perasaan teman Jason yang sakit keras tersebut, sesungguhnya ada arti lain yang tersirat di dalamnya. Meskipun bagian refrain dari lagu ini diambil dari perkataan teman Jason, entah mengapa kalimatnya seakan memiliki sangkut-paut dengan lagu-lagu lain milik Jason yang juga bertemakan religi. Dengan pemakaian bahasa yang penuh perumpamaan, lagi-lagi ia menciptakan sesuatu yang bermakna ambigu dan bisa diinterpretasikan dengan cara yang berbeda oleh orang-orang. Namun aku hanya akan membahas makna yang kutangkap.
“The broken clock is a comfort
It helps me sleep tonight
Maybe it can stop tomorrow
From stealing all my time
And I am here still waiting
Though I still have my doubts
I am damaged at best
Like you’ve already figured out.”
Dari bait pertama ini, aku sudah terpesona. Meski kesan yang ada di dalamnya terlihat suram, ada suatu keindahan dalam pemilihan bahasanya. Ia tidak menuliskan mengenai keputusasaan dengan cara yang payah, tapi dengan cara yang halus. Ketika jam tidak berfungsi, maka waktu seakan tak berjalan. Walau hal ini tentu saja adalah harapan semu, tapi pada saat seorang manusia berada di batas ketahanan mentalnya, ia bisa saja menemukan ketenangan dari “tak berjalannya waktu”.
Pasrah adalah kata yang pas untuk menggambarkan bagian kedua dari bait ini. Karena tentu saja waktu tetap berputar (tak peduli betapa rusaknya jam tadi), maka yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu hingga waktunya tiba—dan ini bisa diartikan dengan banyak hal. Dalam makna awal lagu ini, ia menunggu kesembuhannya datang atau malah akhiran dari penderitaannya dengan kematian. Ia tahu dirinya telah rusak parah (sakit keras, atau mungkin hancur secara fisik dan batin). Jason pernah berkata pada suatu wawancara bahwa temannya masih memiliki harapan dalam dirinya untuk sembuh, tak peduli berapa minimnya harapan itu dapat terkabul. Tuhan tentu sangat paham seberapa payah keadaannya, dan karena itu di sana tertulis, “seperti yang telah kau ketahui.” Dan lagi-lagi ini dapat ditujukan pada sesuatu selain Tuhan, namun aku hanya akan membahas pengertian lagu ini dari sudut pandang teman Jason dan dari sudut pandangku mengenai pesan Jason di dalamnya. Maka karena itu pada content analysis ini, “Broken” adalah lagu yang ditujukan bagi Sang Pencipta.
“I’m falling apart,
I’m barely breathing
With a broken heart
That’s still beating
In the pain, is there healing?
In your name, I find meaning
So I’m holding on
I’m barely holding on to you.”
Bagian refrain ini adalah inti dari “Broken.” Di sini digambarkan rasa sakit yang teramat, seakan jatuh dan pecah berkeping-keping karena sakit (atau patah) hati. Dan lebih menyakitkan lagi karena jantung (atau hati) yang terasa perih itu masih berdegup menandakan kehidupan. Dia bahkan hampir tidak bisa bernafas, sesak karena siksaan yang menghimpitnya. Kemudian dalam rasa sakit itu, adakah penyembuhan? Ini dapat berarti sakit yang dirasakan oleh “aku”. Bisa juga sakit itu adalah sakit yang dirasakan Yesus ketika ia disalib demi menebus dosa (menyembuhkan) umatnya. Dan ini terasa masuk akal karena pada baris selanjutnya tertulis, “dalam namamu kutemui arti,” yang kemudian aku anggap sebagai bentuk keimanan Jason atau temannya.
Lalu karena kemungkinan penyembuhan yang ada pada rasa sakit itu, dan juga karena keimanan atau kepercayaan pada Yesus, maka “aku” pun bertahan. Dia tetap bertahan menghadapi cobaan meskipun dengan susah payah (dengan menggunakan kata barely—yang berarti “hampir tidak” atau “sedikit sekali”). Dan kalimat itu terasa penuh emosi. Ini seperti memperlihatkan kelemahan sekaligus kekuatan dalam waktu yang sama dan menuntut kebebasan dengan cara yang halus.
“The broken locks were a warning
You got inside my head
I tried my best to be guarded
I’m an open book instead
And I still see your reflection
Inside of my eyes
That are looking for purpose
They’re still looking for life.”
Dalam bait ini, aku menganalisa dua arti yang agak berbeda. Entah bait ini ditulis dari sudut pandang Jason atau temannya. Jika dilihat dari sudut pandang Jason, maka kata “kau” di dalamnya mereferensi kepada teman Jason tersebut. Jason yang pergi menengok temannya sudah pasti datang untuk memberikan dukungan, karena itu Jason mungkin mencoba untuk tak memperlihatkan rasa iba pada temannya. Tapi sayang temannya itu dapat membaca pikiran Jason sehingga ia merasa seperti sebuah buku yang terbuka. Dan Jason masih dapat melihat dengan jelas bayangan temannya itu meski dia telah meninggalkan rumah sakit (ketika ia terbangun jam tiga pagi) dan mengingat wajah temannya yang merefleksikan keinginan untuk hidup.
Selain ini, kata “kau” tadi bisa juga mereferensi pada Tuhan. Dan kata “aku” bisa saja mereferensi pada Jason atau temannya. Mereka mencoba untuk merahasiakan perasaan, pemikiran, atau keadaan mereka, tapi Tuhan yang Maha Tahu mengetahui rahasia mereka dengan mudah. Dan terbayanglah oleh mereka wajah Yesus ketika ia disalib. Matanya masih memancarkan keinginan untuk hidup dan mecari-cari tujuan eksistensi dirinya. Maka apakah ia sungguh-sungguh melakukan penyembuhan dengan mengorbankan hidupnya? Benarkah dari pengorbanan yang dilakukan olehnya itu bisa didapatkan pengampunan? Bayangan itu menggoyahkan keyakinan mereka.
“I’m hanging on another day
Just to see what you will throw my way
And I’m hanging on to the words you say
You said that I will be okay.”
Dalam bridge ini, “aku” menyatakan bahwa dirinya terus bertahan sehari lagi, hanya untuk.mengetahui takdir apa yang akan diberikan kepadanya oleh Tuhan. Dan dia bertahan mempercayai firman Tuhannya (dalam Injil) yang mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja (dalam menjalani kehidupan di bumi atau menghadapi kehidupan setelah mati). Dan bagian ini bisa dilihat baik dari sudut pandang Jason atau temannya karena inti perasaan yang ingin dikemukakan oleh mereka adalah sama.
“The broken lights on the freeway
Left me here alone
I may have lost my way now
But I haven’t forgotten my way home.”
Dalam bagian ini, Jason menggunakan perumpamaan yang bagus lagi. Lampu-lampu jalanan yang mati tentunya akan menyulitkan orang untuk melihat. Jalur mana yang harus diambilnya saat semua penerangan menjadi padam? Sulit jadinya bila tidak ada yang dapat memperlihatkan atau membimbingnya ke jalur itu. Dan penerangan itu bisa diartikan sebagai harapan atau kemungkinan yang seakan sengaja dihilangkan (karena meninggalkan “aku” sendirian). Tapi bisa juga lampu-lampu tersebut diartikan sebagai petunjuk yang mengarah pada kebenaran yang kemudian lenyap, membuat “aku” merasa seolah-olah ditinggalkan dalam kegelapan (dalam keadaan clueless (tanpa ide atau jejak) yang membuat putus asa).
Namun begitu, meski ia telah kehilangan arah untuk terus maju dalam keadaan yang buyar itu, ia tak lupa cara untuk kembali pulang. Tetapi, apakah makna dari jalan pulang itu? Di sinilah letak poin penting dalam lagu “Broken” ini, yang rupanya malah sulit untuk diraba maksudnya. Mungkin jalan pulang yang dimaksudkan Jason adalah jalan kembali ke pendirian yang sebelumnya, pengertian atau keyakinan yang telah ia ketahui, atau bahkan kembali pada kepasrahan—yang bila dilihat dari sudut pandang teman Jason, maka kepasrahan ini mengacu pada hidup dan matinya.
Sementara itu, bila dilihat dari sudut pandang Jason, “jalan pulang” juga dapat diartikan sebagai saat-saat di mana keyakinan mengenai Tuhan dan segala firmannya ditelan saja olehnya tanpa mencari tahu sendiri mengenai kebenarannya. Seperti ketika orangtua Jason mengajarkan agama mereka kepadanya dan mendiktekan semua hal, dan ia mengiyakan saja, menganggukkan kepala, tanpa banyak bertanya dan menerima kewajiban mempercayai itu semua tanpa boleh bertanya.
Dan hal ini bukannya berarti negatif pula. Iya, bila dilihat dari kacamata Islam karena memang agama Kristen tidak benar. Namun maksud dari hal ini sebetulnya lebih seperti Umat Islam yang mempercayai adanya Allah SWT tanpa banyak tanya, meski kita mendapat bermiliar-miliar bukti keberadaan-Nya. Jason seakan meminta untuk diberikan alasan-alasan, petunjuk, fakta, atau bukti-bukti dari apa yang selama ini telah diimani olehnya. Bila ia dapat melihat itu semua, maka ia akan dapat berjalan terus ke depan: mantap dengan apa yang telah menjadi pegangannya. Namun bila dia tak mendapatkan semua itu, maka ia bisa saja tetap mengimaninya walau tanpa alasan yang jelas sekalipun. Atau ia akan mencari kebenaran lain bila yang satu ini tak sampai ia dapatkan. Ia seakan mengulur tali dan menariknya kembali dengan argumentasinya dalam setiap lagu bertemakan religi yang ia ciptakan.
Kemudian pada bagian terakhir pengulangan atau refrain lagu, ada penekanan yang sangat tebal dan berat pada kalimat “I’m barely holding on to you.” Harapan teman Jason untuk terus dapat sembuh atau harapan Jason sendiri untuk diberikan petunjuk oleh Tuhan mengenai eksistensinya serta tujuan hidupnya sangatlah besar, tapi juga terasa lemah karena adanya keraguan untuk menggantungkan diri atau berpasrah diri di sana. Namun mereka akan terus dan terus bertahan meski segalanya terlihat begitu suram—gelap tanpa titik terang—selama kemungkinan untuk berjuang masih ada.
Ini, menurutku, adalah karena kecintaan yang mereka miliki terhadap Tuhan mereka. Sehingga mereka tak ingin terburu-buru membuang kecenderungan mereka untuk berpasrah padanya. Dan tentu saja hal ini ironis, karena mereka masih melihat kepada Tuhan yang salah. Mereka justru harus segera berbalik arah dan mencari jalan lain yang akan mengantarkan mereka pada kebenaran dan ketenangan yang hakiki.
Content Analysis – “Storm” by Lifehouse
Posted in School Work, social with tags content analysis, interpretasi, lifehouse, lyrics, stom, tugas sosial on May 2, 2009 by technowyvernDalam album keempat Lifehouse, “Who We Are”, terdapat lagu-lagu yang menarik bagiku untuk ditelaah artinya. Jason Wade (vokalis merangkap gitaris dan penulis lagu dari band tersebut) memang suka menulis lirik lagu yang bermakna ambigu. Ia ingin pendengarnya dapat melibatkan diri secara personal dengan lagu-lagunya dan mem-biarkan mereka menginterpretasi lagu-lagunya sebebas mungkin, seperti yang pernah dikatakannya dalam banyak wawancara.
Aku selalu beranggapan bahwa Jason Wade seringkali menciptakan lagu yang bermakna religius. Aku tahu ia berasal dari keluarga Kristen yang taat, bahkan kedua orangtuanya adalah misionaris. Jason menghabiskan banyak dari masa kecilnya pergi bersama orangtuanya ke Jepang, Thailand, dan Singapur sebelum kemudian pindah ke Hong Kong dan tinggal di sana selama empat tahun dalam rangka menyebarkan misi Kristen yang mereka bawa.
Meski begitu, orangtua Jason bercerai ketika ia berumur 12 tahun. Masa-masa sulit yang dialami oleh mereka di Hong Kong sepertinya mempengaruhi hubungan mereka. Jason bercerita begini, “Orangtuaku memiliki banyak isu, tapi mereka tidak memperbolehkanku melihat masalah dalam hubungan mereka. Keluarga kami selalu terlihat damai; tidak pernah terjadi pertengkaran atau apapun. Kami terlihat sangat bahagia dari luar. Keadaannya seperti ‘Pleasantville’. Bagian terburuk adalah kenyataan bahwa aku tidak dapat melihat kesalahan apapun, jadi aku tak bisa melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Aku merasa tak berdaya.”
Di sinilah, kupikir, Jason menemukan kebimbangan atas agamanya. Bila kedua orangtuanya datang ke Hong Kong demi menyebarkan kepercayaan yang benar, maka seharusnya mereka disambut dengan baik—bukannya dengan perlakuan yang sangat tidak ramah, seperti ketika warga-warga di desa tempat mereka tinggal melemparkan mercon-mercon ke pintu rumah mereka setiap pagi.
“Mereka mengira kami adalah penyihir yang membawa kesialan bagi mereka, dan mereka bahkan mencuri kucing kami! Aku merasa amat ketakutan dan aku tidak memiliki satu pun teman di sana,” kata Jason pada sebuah kesempatan di wawancara untuk penulisan mini biography-nya.
Jadi setelah perceraian tadi, ia pindah ke Seattle, Washington, bersama ibunya. Ia mendapat kesenangan tersendiri dengan mencoba memainkan gitar milik ibunya yang tergeletak begitu saja di rumah. Perasaan perih dan gundah dari masa-masa sulit itu ia tuangkan ke dalam puisi-puisi.
“Ini sungguh lucu,” kata Jason, “aku tak pernah menjadi anak musikal—tak pernah mengikuti les musik ataupun mendengarkan radio. Tetapi tiba-tiba aku mulai menulis lirik-lirik dan menciptakan melodi. Kami tinggal di daerah berhutan, dan aku suka berjalan-jalan di sana dan lagu-lagu itu datang begitu saja.”
Setelah menemukan hiburan dalam musik, Jason akhirnya mulai beradaptasi dengan keadaan dan membiasakan diri dengan rumah barunya. Namun Ibu Jason memutuskan untuk pindah lagi ke Los Angeles dan Jason hampir menolak untuk pergi. “Aku sama sekali tak ingin pindah. Aku telah mendapatkan banyak teman, dan Washington telah menjadi tempat yang sangat nyaman bagiku di masa perceraian. Aku kira tempat itu akan menjadi rumahku selamanya.” Tapi justru di Los Angeles-lah band Lifehouse terbentuk, dan karir musik Jason pun dimulai.
Seperti ketiga album Lifehouse sebelumnya, “Who We Are” yang dirilis pada tanggal 19 Juni 2007 memiliki lagu-lagu dengan lirik yang berhubungan dengan tema spiritual dan romantis. Namun kali ini, Jason menggambarkan pengalaman yang jauh lebih spesifik sehingga maksud dari lagu-lagunya dapat dilihat dengan cukup jelas.
Jason mengatakan bahwa lagunya yang berjudul “Storm” memang memiliki orientasi spiritual. Lagu itu sebenarnya ia tulis ketika berumur 16 tahun (ini artinya tiga belas tahun lalu, karena ia lahir pada tahun 1980) dan sempat direkan ke dalam album indie pertama bandnya—Blyss. Alasan mengapa lagu tersebut dibuat ulang olehnya adalah karena para fans beratnya sering kali meneriakkan permintaan baginya untuk menyanyikan lagu tersebut setiap kali Lifehouse mengadakan konser.
Nah sekarang, aku akan membahas arti dari lagu ini, bait per bait. Akan kutulis pesan yang aku tangkap dari setiap kalimatnya, dengan mereferensi pada sifat Jason sendiri, pengalaman, dan keyakinannya (yang telah kupelajari atau kucaritahu selama setengah tahun—walaupun aku telah mendengarkan Lifehouse sejak album keduanya (“Stanley Climbfall”) dan telah menganggap diriku sebagai simpatisan Jason setelah mendengar dan melihat lagunya yang berjudul “Blind” serta mengetahui asal-muasal lagu itu dibuat olehnya ketika ia masih remaja). Dan inilah dia, lagu yang membuatku malu karena tak memikirkan hal yang sama sebelumnya, tapi juga membuatku tenang:
“How long have I been in this storm?
So overwhelmed by the ocean’s shapeless form
Water’s getting harder to tread,
With these waves crashing over my head.”
Dalam bait pertama “Storm”, Jason menceritakan bahwa ia lupa berapa lama dirinya telah berada dalam badai (masalah). Persoalan-persoalan itu terasa sangat rumit (shapeless—abstrak, tak berbentuk) dan berlebihan untuknya. Hari-hari (air diandaikan sebagai media) biasa pun jadi susah untuk ia lewati, dengan ombak (rintangan) yang menghantam ke kepalanya bertubi-tubi. Ini adalah keadaan yang sangat meresahkan, seakan ia hampir tenggelam. Kemudian di dalam bridge (bagian yang menjembatani antara bait sebelumnya dengan refrain), tertulis:
“If I could just see you, everything would be alright
If I’d see you, this darkness would turn to light.”
Di sini Jason berandai-andai, bila saja ia dapat melihat Sang Pencipta—atau paling tidak bukti keberadaannya—ia pasti akan merasa lebih tenang. Semuanya akan menjadi baik-baik saja. Semua perasaan putus asa dan kesuraman (kegelapan) yang dialaminya akan sirna dan berubah menjadi kebahagiaan (cahaya).
Dalam bridge tadi sesungguhnya juga ada makna lain yang tertangkap olehku. Ini mungkin agak dramatis, tapi aku pernah membaca sesuatu yang mirip di lagu-lagu buatan Jason yang lain. Seperti dalam “Out Of Breath” dan “Take Me Away”, Jason sepertinya senang sekali mengulangi kalimat yang membuat dirinya seolah-olah ingin cepat kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Ia menuliskan kalimat-kalimat yang serupa dengan kalimat dalam bridge tadi, seperti “And I am waiting, I keep living for the day that I’m with you,” dan “Take me away. I’ve got nothing left to say, just take me away.” Selain itu dalam “Breathing”, Jason menuliskan kalimat, “I want nothing more than to sit outside Heaven’s door.” Inti yang kulihat sama: ia ingin bertemu dengan Sang Pencipta.
“And I will walk on water
And you will catch me if I fall
And I will be lost into your eyes
I know everything will be alright
I know everything is alright.”
Dalam bait di atas, ada dua arti yang mungkin menjadi maksudnya. Makna yang kutangkap adalah keadaan yang akan berbalik begitu ia mendapatkan izin untuk menyaksikan keberadaan Sang Pencipta. Ia akan dapat menghadapi hari-harinya (atau persoalannya) dengan mudah dan apabila nanti ia terjatuh (melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan), Sang Pencipta akan menangkapnya (menyokong, membantu memperbaiki keadaannya). Dengan begitu ia tahu segalanya akan jadi baik-baik saja.
Selain itu, bisa saja bait tersebut terinspirasi oleh cerita di dalam Injil—surat Matius ayat 14—di mana Peter berjalan di atas ombak lautan ke arah Yesus. Tapi saat ia mengalihkan pandangannya dari Yesus, ia mulai tenggelam. Yesus lalu menangkap tangan Peter dan menyelamatkannya. Namun aku agak meragukan versi ini karena Jason yang berumur 16 tahun pada saat lagu ini ditulisnya, mungkin tidak memikirkan cerita itu. Bisa saja Jason hanya melanjutkan apa yang telah ditulisnya di bait pertama. Toh ini juga membentuk cerita yang serupa.
“I know you didn’t bring me out here to drown
So why am I ten feet under and upside down?
Barely surviving has become my purpose
‘Cause I’m so used to living underneath the surface.”
Keraguan Jason pada kepercayaannya tergambar dalam bait di atas. Namun ini lebih seperti meragukan pertolongan dari-Nya, bukan meragukan keberadaan-Nya. Ia tahu Sang Pencipta tidak membawanya ke dunia hanya untuk tenggelam (mendapat kesulitan dan merasa nelangsa), tapi ia bingung karena keadaannya saat itu sangatlah terpuruk. Ia berada sepuluh kaki di bawah permukaan laut, dan dalam kondisi yang terbalik pula! Hal ini sudah pasti dapat membuat orang mengira riwayatnya akan habis (tenggelam dalam persoalan atau bahkan mati secara harafiah).
Ia mengira dirinya memang ditakdirkan untuk selamat, namun hampir. Seakan hanya ada harapan kecil untuk selamat dari kehidupan dunia (atau mendapat balasan yang baik di akhirat) yang bisa dilihatnya. Karena ia merasa dirinya terlalu sering (dan terbiasa) berada di bawah permukaan (dalam keadaan susah), sehingga sulit pula bagi-nya untuk mempertahankan keyakinannya. Ini sama dengan keadaan yang dirasakan oleh manusia manapun, yang meragukan Sang Pencipta ketika dirinya berada dalam kesulitan. Kita sering kali menyalahkan-Nya dan tidak bersikap proaktif (menyadari kesalahan diri sendiri). Dan karena itulah kita membutuhkan pertolongan-Nya.
Setelah ini, Jason mengulangi lagi bagian bridge dan refrain untuk menekankan mengenai keinginannya melihat bukti keberadaan Sang Pencipta. Atau lebih tepatnya, meminta Sang Pencipta untuk membimbingnya ke dalam kebenaran secepat mungkin (karena—seperti dalam bait pertama—ia merasa telah berada dalam kesulitan terlalu lama) agar Sang Pencipta dapat memperlihatkan padanya apakah kebenaran itu, di manakah kebenaran itu, dan apakah jalan yang dilaluinya sekarang sudah benar.
“If I could just see you, everything would be alright
If I’d see you, this darkness would turn to light.”
“And I will walk on water
And you will catch me if I fall
And I will be lost into your eyes
I know everything will be alright
I know everything is alright.”
Kemudian di bagian akhir dari lagu ini, Jason menambahkan dua baris kalimat yang meskipun terlihat yakin, sebenarnya terdengar penuh harap dan masih ada rasa membutuhkan yang tersirat di sana. Maka lagu ini seakan-akan adalah bentuk dari keimanan Jason. Bahwa seperti manusia manapun, ia memiliki iman itu pada dirinya, tapi ia tak dapat melihat bukti yang jelas—apakah boleh baginya untuk meminta Sang Pencipta memperlihatkan bukti keberadaan-Nya? Jika saja itu dapat tercapai, atau jika ia dapat menghadap-Nya, ia akan merasa tenang. Ia akan merasa puas. Ia akan merasa bahwa dirinya tidak salah telah bergantung pada-Nya selama ini.
“Everything’s alright, yeah
Everything’s alright…”
Sekianlah makna yang kutangkap dari lagu “Storm” ini. Nadanya yang lembut dan mengambang benar-benar membuatku berpikir. Emosi yang terasa tidak negatif, bahkan sangat positif. Jason membuat lagu ini terdengar tulus dan jujur. Hanya sedikit sekali suara instrumen yang terdengar selama durasi empat menit lagu tersebut. Walau begitu, lagu ini tetap enak. Rasanya menyejukkan.
Aku harap Jason dapat menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya. Ia telah mendapatkan esensi dari mengimani Sang Pencipta, namun ia masih menghadap pada Tuhan yang salah. Inilah yang menurutku adalah sumber dari badai yang menerpanya selama ini. Aku berharap Allah SWT akan memberi Jason jalan untuk kembali pada Pencipta yang sesungguhnya. Tentu saja hidayah hanya ada di tangan-Nya.
Cerita Kami di Cibedug
Posted in School Work, social with tags berkemah, cibedug, dead donkey, hiking, kejujuran on February 15, 2009 by technowyvernMemasuki pekan awal pembelajaran di tahun 2009, murid-murid level 8 sampai 11 di MIT akan berkemah di kawasan Cibedug, Bogor. Meski sudah mempersiapkan ini dan itu, kami sesungguhnya tidak tahu bagaimana keadaan di sana dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Ini kemudian menimbulkan beberapa kesalahan dan kami terpaksa membuang “dead donkey” dari ransel-ransel kami. Tapi cerita mengenai itu nanti sajalah kuceritakan…
Percaya atau tidak, absen pada hari Senin saat pekan sosial sepertinya sudah menjadi budayaku. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya, karena liburan tahun baru kemarin aku memang sakit. Untuk memulihkan diri dan meyakinkan bahwa aku sudah mulai sembuh, maka aku tak masuk di hari pertama itu. Lalu hasilnya: aku bersyukur tidak dijadikan ketua kelompok untuk acara berkemah.
Apa pula sangkut paut antara tidak masuk dengan menjadi ketua kelompok? Yah, tahulah bagaimana segala hal mendasar yang harus diketahui atau diputuskan selalu dikerjakan pada hari Senin… dan karena aku tak masuk, maka tak ada yang bisa menjanjikan bahwa aku akan ikut kegiatan pekan itu. Jadi secara otomatis tak ada juga yang bisa mengangkatku jadi ketua, kan? Di situlah kaitannya.
Budaya tidak masuk pada hari Senin atau budaya sakit pada hari Senin ini bisa jadi termasuk dalam sindrom “I don’t like Monday” yang entah kenapa telah menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Dan aku kebetulan adalah salah satunya. Inilah kenapa teman-teman, mentor-mentor, serta orangtuaku boleh merasa jengkel padaku jika menyangkut masalah rajin sekolah dan menjadi anak manja.
Diputuskanlah untuk mengangkat Rifda (atau Bida) menjadi ketua salah satu kelompok. Sarah, Nafi, Anna, dan aku adalah anggotanya. Bida sendiri tidak ingin menjadi ketua kelompok, katanya. Tapi mau bagaimana lagi? Maka perundingan hari Senin terus berlanjut tanpa kuketahui ceritanya.
Seperti yang mungkin telah ditebak oleh teman-teman, aku masuk sekolah di hari berikutnya. Aku katakan bahwa kesehatanku sudah membaik. Memang betul itu, tapi sebenarnya aku masih memiliki sedikit masalah pencernaan yang belum beres betul. Namun begitu mendengar rencana camping, tubuhku langsung beradaptasi dan menyesuaikan keadaan dengan kabar ini. Sudah menjadi kecenderunganku untuk tak mundur bila persoalan yang dihadapi adalah kepentingan bersama. Aku berpikir cepat dan memutuskan untuk ikut acara ini sebagai tanggung jawabku sebagai anggota. Aku kan tidak mungkin mundur setelah diamanahi barang-barang kebutuhan yang harus dibawa demi kesejahteraan kelompok?
Hmm… aku tidak ingat apa lagi yang kami kerjakan di hari Selasa. Sepertinya hanya bagi-bagi tugas dan merencanakan kegiatan. Kami juga membuat peraturan-peraturan yang (walau tak banyak) kemudian terlupakan secara tidak sengaja olehku. Tidak tahu bagaimana dengan teman-teman yang lain. Untungnya kebanyakan dari peraturan yang ada adalah hal-hal umum seperti “buang sampah di tempatnya”, jadi aku hanya sempat dihukum sekali (akan kuceritakan detilnya nanti).
Malam sebelum hari keberangkatan kami ke Cibedug, anak-anak berbelanja ke mini market terdekat untuk membeli kebutuhan kecil seperti snack dan mackerel kalengan. Aku sendiri sempat membeli voucher pulsa karena khawatir kalau tidak bisa menghubungi orang lain bila nanti ada keperluan mendadak.
Di hari keberangkatan, kami seharusnya berkumpul di masjid. Biasanya aku selalu berjalan kaki ke sana setiap pagi, tapi kali itu aku naik mobil. Karena mendapat bagian membawa tenda (yang sangat berat dan besar), aku tak ingin menyeret-nyeret kantung besar berisi benda itu sendirian. Yang ada di pikiranku pada saat itu adalah bagaimana caranya agar cepat sampai ke masjid, dan aku hampir mengabaikan beban tenda yang sejak awal sudah merepotkan. Aku pikir kami bisa saja membawa tenda itu bersama-sama nantinya.
Teman-temanku memang sudah berkumpul semua waktu itu, tapi belum ada tanda-tanda mereka hendak berangkat. Aku segera menghampiri mereka dan bertanya mengenai keadaan. Rupanya kami tidak jadi naik angkot ke stasiun kereta api, dan kami juga diminta untuk berkumpul di rumah Kak Riza terlebih dahulu. Barang-barang teman-teman pun dimasukkan ke dalam bagasi mobilku dan Rifda untuk dibawa ke sana. Setelah itu kami briefing dan diberi masukan oleh Kak Riza untuk menimbang-nimbang, barang mana yang betul-betul perlu kami bawa dan mana yang hanya akan menjadi tambahan beban saja (dead donkey).
Setiap kelompok diperintahkan untuk mengumpulkan barang-barang yang telah dipersiapkan—baik barang pribadi atau milik kelompok—dan diberi waktu untuk berdiskusi mengenainya. Aku melihat bahwa satu dua orang merasa keberatan dengan hal ini, entah karena apa. Sementara itu, aku sendiri tidak merasa terganggu, hanya saja aku malas mendiskusikan hal ini. Apa lagi begitu tendaku divonis sebagai kandidat dead donkey terparah… aku benar-benar kesal. Tetapi aku tahu bahwa itu memang benar, dan aku tak ingin pula bersusah payah mengangkutnya.
Namun dengan ditinggalkannya sang tenda, ini berarti anggota kelompokku dan dua orang mentor perempuan yang ikut bersama kami akan kehilangan tempat tidur. Kami kan tidak mungkin berkemah tanpa tenda? Aku sempat merasa teramat bingung karena mengkhawatirkan nasib kami. Jadi aku perlu memastikan bahwa ada solusi yang bisa dilakukan untuk menutupi kehilangan besar ini.
Selanjutnya, setelah beberapa botol air minum 1.5 liter, setengah liter minyak, serta tenda yang dibawa kelompokku telah dikeluarkan dari daftar barang yang akan kami bawa, kami semua mencoba untuk mengangkat barang-barang yang tersisa dan memutuskan apabila ada barang lain yang harus ditinggalkan pula.
Bila dilihat sekilas, maka akan terpikir bahwa semua kebutuhan yang divonis sebagai dead donkey yang hanya akan merepotkan di atas itu termasuk penting. Aku sendiri juga resah melihatnya. Tetapi setelah kupikir ulang, dan kuketahui bahwa di tempat kami berkemah nanti sebenarnya dekat dengan perkampungan, maka barang-barang di atas (kecuali tenda) memang tidak kritikal amat untuk dibawa.
Meski belum pasti benar apa yang akan kami lakukan untuk mendapat tempat tidur yang layak nantinya, kami pasrah dan ingin segera berangkat ke lokasi. Rasanya aku juga tak ingin mengulur waktu lagi. Untunglah teman-teman dari kelompok lain tidak memiliki masalah dalam perbekalan. Jumlah barang yang mereka bawa pas.
Kami semua berkendara ke stasiun UI Depok. Ketika turun di depan sederet mahasiswa yang menunggu bus datang, aku dan teman-teman yang ikut dalam satu mobil merasa malu. Kami pun bingung hendak berjalan ke arah mana. Belum lagi hujan turun, sehingga tanah becek menambah gaya jalan kami terlihat makin konyol dengan ransel-ransel di punggung dan kantung-kantung di tangan.
“Ke mana yang lainnya?” kami terus bertanya pada satu sama lain.
Sewaktu berangkat dari rumah Kak Riza tadi, mobil-mobil kami memang tak beriringan. Entah deh, tapi sepertinya romobonganku telat karena menunggu aku mempersiapkan makan siang yang lupa aku bawa. Aku juga sempat mengantarkan makan siang untuk adik laki-lakiku yang hendak pergi outbond ke Ciseeng. Jadi saat kami sampai di stasiun, teman-teman lain sudah tak ada di luar. Agaknya mereka telah masuk ke dalam, maka kami pun segera ikut masuk ke ruang tunggu.
Tiket kereta telah dibelikan oleh para mentor untuk kami semua. Kami hanya perlu memegang tiket masing-masing dan menunggu kereta datang. Maka kami pun menunggu dan menunggu. Namun tidak lama kemudian, sebuah kereta api jurusan Bogor berhenti di depan kami dengan jumlah penumpang yang sangat padat. Aku tak pernah naik yang sepadat itu sebelumnya.
Karena khawatir tidak sempat naik ke kereta sebelum ia mulai berjalan lagi (sesuai dengan lagu kereta api yang berbunyi, “Ayo kawanku lekas naik. Keretaku tak berhenti lama”), kami berdesakan dengan penumpang-penumpang lain untuk dapat posisi yang aman. Penumpang yang hendak turun menjadi kesal karena sulit keluar dari gerbong kereta, terdorong dan terhalang oleh kami-kami yang takut tertinggal. Keadaan pun menjadi agak kacau selama beberapa menit.
Kekacauan kecil tadi membuat rombongan kami terpisah. Aku, Kak Annis, Anna, Izhar, Syafiq, Tesar, Eko, Ieuan, Kak Syami, dan Rozan mendapat tempat di gerbong depan sementara Kak Mira, Thifal, Tania, Nafi, Mia, Zurai, Bida, Sarah, Adib, Rafi, Yahya, Imad, dan Kak Redi mendapat tempat di gerbong belakang. Kami tak mendapat tempat duduk dan hampir tak mendapat tempat untuk berpegangan.
Sewaktu kereta mulai berjalan, aku mendengar Tesar terkekeh di belakangku. Ketika aku menoleh untuk memeriksa apa yang ditertawakannya, aku sadar ranselku yang menggembung itu menyenggol seorang bapak-bapak yang berdiri tepat di antara kami. Ia terus terdorong oleh ranselku yang menggembung itu dan aku terus meminta maaf padanya sampai ia mendapat tempat duduk dan berhasil menyelamatkan dirinya dari gangguan kecil yang bisa ditimbulkan seorang anak muda dan sebuah ransel. Aku akan merasa lebih baik bila ia menanggapi permintaan maafku, tapi bapak itu hanya diam dan memasang wajah datar.
Suasana di dalam kereta ekonomi sesungguhnya amat menarik untuk dibahas. Orang-orang yang sering memakai jasa angkutan ini pasti tahu betul segala fenomena yang biasa terjadi di sana. Aku sendiri selalu mencoba untuk mengantisipasi segala kemungkinan dan mencari cara untuk menyikapi keadaan dengan wajar.
Kali ini, seorang pengamen yang memiliki kekurangan dalam penglihatannya berdiri di dekat kami sambil memainkan gitar kecil yang termasyhur itu. Kalau kita perhatikan, instrumen satu ini seakan-akan adalah pengiring andalan para pengamen jalanan. Sayangnya, benda itu hanya berfungsi untuk mengiringi saja. Jarang ada pengamen yang sungguh-sungguh memainkannya.
Hal yang sama pun terjadi pada pengamen di kereta tadi—ia hanya menepuk dan menggerakkan tangannya dengan asal di atas senar. Aku tak yakin apa gerakan yang dilakukannya itu benar “kocokan”. Lagu yang dinyanyikannya pun tidak jelas. Lucunya, ia terus menyerukan terima kasih pada para penumpang kereta karena telah mendengarkannya. Dan aku tak tahan untuk tidak tertawa kecil melihat ekspresi di wajah Izhar yang sangat berbeda dibandingkan dengan penumpang lainnya.
Pernah lihat raut wajah karakter dalam komik yang selalu datar? Dengan mata setengah tertutup yang menatap bosan dan bibir membentuk garis tipis, Izhar terlihat persis seperti itu. Dia menatap sang pengamen tanpa berkedip sementara orang-orang lain berusaha untuk tidak meliriknya. Sang pengamen sendiri terus bernyanyi tanpa memedulikan keadaan sekitarnya yang entah dapat dia lihat dengan baik atau tidak. Aku pun terus bergerak-gerak gelisah karena tak tahu harus berbuat apa.
Biasanya beberapa pedagang buah (variasinya mulai dari jeruk hingga melon) hilir mudik di dalam kereta api sambil membawa troli-troli atau keranjang-keranjang penuh berisi dagangannya. Mereka pindah dari satu gerbong ke gerbong lain dengan menyeruak di antara penumpang kereta yang jumlahnya tidak sedikit. Tapi mereka tidak selalu menawarkan dagangannya. Mereka hanya berjalan santai dan menoleh ke kanan dan kiri, memerhatikan apabila ada orang yang berniat membeli. Namun, kali ini tak ada pedagang buah yang lewat.
Para “Penjual Segala” (yang menjual berbagai macam barang—dari gunting hingga casing handphone) juga sedang tidak banyak yang lewat. Padahal mereka rajin menggantung dagangannya di sela-sela jeruji kipas angin pada kesempatan lain.
Melewati beberapa stasiun, gerbong kereta api pun berangsur-angsur menjadi sepi dan satu-persatu dari kami mendapat tempat duduk. Tesar mempersilahkan Kak Anis, Anna, dan aku untuk duduk duluan di bangku kosong yang ada di dekatnya. Maka kami pun mendorong Anna untuk menerima pemberian itu. Setelah itu aku duduk, lalu Kak Anis, Tesar, dan Rozan. Izhar, Eko, dan Ieuan lebih memilih duduk di lantai kereta sementara Syafiq dan Kak Syami tetap berdiri.
Sebelum kami sampai di tempat perhentian dan kereta sedang melambatkan lajunya, kami semua bersiap-siap untuk turun. Barang-barang yang kami letakkan di lantai pun kami angkat. Aku pun merapikan bajuku, walau tak ada gunanya juga aku melakukan itu. Lalu kami jalan beriringan ke luar stasiun, ke sebuah pasar yang sejak lama berada di belakang stasiun tersebut. Dan kami pun pergi ke jalan untuk mencari angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan ke Cibedug.
Seperti biasa, setiap kali kami pergi ke Bogor naik kereta, kendaraan yang akan kami pakai setelah itu pasti adalah angkot. Tapi kami mencarter lebih banyak angkot kali ini daripada biasanya. Aku lupa berapa tepatnya jumlah angkot yang kami sewa. Apakah tiga? Habisnya jumlah anggota kami semua sampai dua puluhan orang. Jadi tidak heran bila kami membutuhkan kendaraan umum dengan kapasitas yang lumayan. Lagipula akan lebih sulit bila perjalanan dilakukan dengan cara biasa. Kami kan bukan orang Bogor, jadi mana tahu rute angkot-angkot di sana… lebih baik sewa sekalian daripada tersesat nantinya.
Begitu sampai di gang menanjak yang tak kutahu namanya (karena memang aku tidak ingat untuk melihat papan jalannya—bila pun ada), Kak Syammi memberi-tahukan bahwa kami akan berjalan kaki dari sana hingga ke tempat perkemahan, dan jaraknya berkilo-kilo meter pula!
Ah, lengkaplah sudah. Dengan beban tas ransel, alat-alat masak, dan sleeping bag: kami harus menanjak jalan berbatu dan berlumpur itu. Tapi keadaannya sama sekali tidak buruk, kok. Malah kami melakukan perjalanan yang lebih hebat lagi keesokan harinya. Aku bahkan senang karena anak-anak lelaki gagal memprediksikan kapan aku akan sampai ke lokasi (aku datang lebih cepat dari yang mereka kira).
Kami semua duduk di teras rumah pemilik lokasi perkemahan yang sebenar-nya adalah tempat anak-anak kawasan Cibedug bersekolah. Tempat sederhana yang terdiri dari satu mushala, taman dengan tiga buah saung, serta satu kios kecil berisi jajanan untuk anak-anak. Namun aku tak menangkap detail seperti itu dikali pertama aku menginjakkan kakiku. Aku malah bertanya-tanya, apa benar kami akan menginap di sana? Karena tempat itu tidak terlihat seperti lokasi perkemahan.
Ada beberapa murid SMP yang mencuri-curi pandang ke arah kami sambil berbisik-bisik ketika kami masih duduk-duduk di teras dan menunggu komando dari para mentor. Saat itu aku berpikir bahwa murid-murid SMP tersebut bersikap kurang menyenangkan. Tetapi aku tidak benar-benar ambil pikir (adakah istilah macam ini?) soal itu dan meneruskan obrolanku dengan Izhar.
Tak lama kemudian, kami salat dzuhur di taman bersaung yang telah kusebut sebelumnya. Ternyata kami akan mendirikan tenda di sana. Jadi kami tidak berkemah di tempat yang berhutan-hutan atau sepi seperti yang kukira. Tetapi syukurlah, kami memang membutuhkan saung untuk tempat tidur para mentor (kelompokku akhirnya dipinjamkan tenda oleh Adib) dan kamar mandi selama dua hari ini.
Setelah selesai salat dan meletakkan barang seadanya, kami semua diminta untuk berkumpul di mushala bersama anak-anak SMP tadi. Aku pun mengantisipasi kekakuan yang ada dengan bersikap konyol. Dan ketika aku dihukum bersama teman-teman lain karena kalah dalam permainan, aku bersikap seolah-olah aku menikmati hukuman itu. Pada akhirnya aku memang menikmatinya, karena toh hukuman yang dijatuhkan tidak buruk. Kami hanya perlu memperagakan sedikit deskripsi lucu untuk mendukung puisi tentang gajah yang dituliskan Kak Syammi di papan.
Aku berkenalan dengan beberapa anak perempuan dari sekolah itu. Mungkin ada sekitar 5 atau 6 orang. Tapi yang paling kuingat namanya hanya Maya, Syakila, Misnatih, dan Ayu. Tiga anak yang disebut pertama adalah anak-anak yang sempat mengobrol berempat denganku. Aku berimprovisasi saja karena pada awalnya aku melakukan ini hanya karena Kak Mira memberiku tugas untuk mewawancara mereka dan membuat suatu karya berupa puisi, sajak, atau biografi dari hasil perbincangan tersebut. Namun karena aku kekurangan informasi dan tidak berniat untuk melakukan tugas yang manapun, akhirnya aku menggambar Maya, Syakila, dan Misna. Yang kupikirkan waktu itu adalah sebuah karya seni sebagai pengganti.
Karena aku menggambar di tempat, mereka bertiga juga teman-teman mereka yang lain sempat melihat prosesnya. Mereka berkomentar bagus mengenai gambarku, tapi aku tahu salah satu dari mereka juga pasti memiliki bakat menggambar. Saat itu, Ayu yang telah kukenal sebelumnya karena sama-sama terkena hukum menunjukkan koleksi gambar karyanya sendiri yang dia simpan dalam binder. Menurutku gambar Ayu juga cukup bagus, hanya saja dia belum menemukan karakter khasnya sendiri (sama sepertiku) dan lebih sering mencontoh manga yang sudah ada.
Alhamdulillah, aku mendapat inspirasi untuk membuat sajak mengenai semua anak-anak sekolah itu ketika kami pulang di kemudian hari. Gambarku tidak diterima sebagai pengganti tugas karena tentu saja jauh lebih sederhana daripada seharusnya. Namun sajak yang kubuat pun tidak kalah sederhananya. Aku sungguh tidak mahir merangkai kata-kata puitis, apalagi membuat tulisan panjang mengenai riwayat hidup seseorang… Aku mungkin tidak akan dapat feel-nya.
Begitu acara perkenalan itu dibubarkan, aku dan teman-teman dari MIT pun kembali ke tempat perkemahan dan mulai membenahi barang. Kami memasang tenda dan menyiapkan makan malam. Setelah itu ada permainan menangkap ikan di sawah berlumpur yang seharusnya bisa menjadi kegiatan yang lebih seru kalau saja aku tak terlalu jijik dengan ikan hidup. Sementara itu acara makan siang telah kami lakukan di sela-sela waktu salat Dzuhur tadi, dengan bekal yang dipersiapkan dari rumah. Dan salat Ashar pun sepertinya sudah dijamak bersama.
Aku merasa tidak enak kalau harus jadi orang yang tidak melakukan apa-apa pada hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Maka karena aku menolak membersihkan ikan-ikan setelah melihat cara Izhar membunuh mereka dan bagaimana Tania, Adib, serta Kak Annis mengulitinya (meski memang begitulah caranya—tak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan), aku memilih untuk menyiapkan bumbu saja. Aku pun berniat pergi bersama Nafi ke warung untuk membeli cuka atau jeruk nipis dan kecap manis. Tapi belum sempat kami keluar dari area perkemahan, istri dari bapak pemilik tempat tersebut menanyakan keperluan kami dan serta merta memberikan kecap manis dan tiga buah jeruk nipis pada kami.
Aku sungguh senang dan bersyukur atas pemberian ini, tapi aku merasa tidak puas karena aku tidak mendapatkan kebutuhan ini dari hasil usahaku sendiri. Maka aku pun mencari cara untuk melakukan sesuatu yang lain. Nah, kali ini aku mencoba membumbui ikan-ikan tersebut. Anna dan Nafi membantuku… atau lebih tepatnya, aku dan Nafi membantu Anna melakukannya. Di sini aku menemukan ketidakpuasan lain yang lagi-lagi membuatku kesal pada diri sendiri dan menjadikanku terjebak dalam suasana hati yang aneh, agak murung sekaligus angker. Hahaha.
Ke mana pun pergi, aku selalu tidak dapat tidur dengan cepat. Apalagi bila aku tak merasa nyaman, bisa-bisa aku tidak tidur semalaman. Hal ini pun terjadi saat tiba waktu bagi kami untuk beristirahat di perkemahan. Walaupun tenda kecil yang kami pinjam sesungguhnya sudah cukup enak, tapi aku benar-benar sulit tidur. Sarah yang juga kesulitan pada akhirnya tertidur dengan permen karet masih berada dalam mulut. Kalau saja aku tahu, dia akan kularang tidur sambil mengunyahnya. Untunglah ia tidak apa-apa karena permen karet itu tidak tertelan olehnya.
Ketika Kak Mira datang ke tenda kami sekitar jam dua malam atau lebih, mataku langsung terbuka begitu mendengarnya berlutut di pintu tenda. Aku sungguh terjaga semalaman itu. Aku biarkan diriku berbaring tak bergeming untuk sementara dan menenangkan diriku yang sesungguhnya sangat ingin tidur. Lalu aku mengikat rambutku dan memakai kerudung. Anna dan Sarah pun bangun dari tidur mereka, juga anggota kelompok kami yang menumpang tidur di tenda milik Tania.
Aku tidak begitu ingat soal ini, tapi aku, Nafi, dan seorang lagi (apakah Mia?) sangat memerlukan waktu untuk pergi ke kamar mandi sebentar sebelum berkumpul di sawah bersama teman-teman yang lain. Kami berteriak meminta izin kepada kakak mentor, lalu melesat pergi ke kamar mandi. Tapi karena kamar mandi yang dipakai hanya satu dan urusan kami berbeda-beda, maka waktu 5 menit yang diberikan oleh Kak Annis pun terlewat sudah. Kami pun mendapat hukuman ringan sebentar.
Setelah itu, kami semua dipisah menjadi kelompok-kelompok kecil berjumlah dua orang, kemudian kami disebar ke seluruh penjuru area. Kami diminta menulis mengenai tujuan utama kami pergi ke sana, perasaan kami, kebohongan terbesar yang pernah kami lakukan, dan opini mengenai pasangan kami masing-masing.
Aku mendapat tempat di depan gerbang, berdua dengan Tania. Mengenai ini, aku berasumsi bahwa Kak Mira lah yang memasang-masangkan kami. Kalau tidak, aku dan Tania mungkin tidak akan bersama. Untunglah pasanganku Tania, jadi kami bisa berdiskusi dan menulis dengan jujur tanpa merasa terlalu terbebani. Masalahnya, kami lebih sibuk bercerita daripada menulis hingga tak sempat menyelesaikan seluruh bagian dari essay yang harus kami tulis. Untunglah kami tidak terkena hukuman apapun karena hal ini.
Menjelang subuh, kami semua mendapat nasihat panjang dari Kak Syammi. Isinya pas sekali dan mengena. Seperti biasa, aku akan menampakkan gaya kasual untuk menyembunyikan kegelisahanku. Jadi aku berdiri dengan sikap yang lumayan santai (menurutku) dan terus memposisikan badanku menghadap kakak-kakak mentor secara langsung yang berarti, “aku mengerti di mana letak masalahnya” atau sesuatu yang bahkan lebih percaya diri dari itu.
Pada saat salat Subuh, aku mendapat jatah sebagai imam bagi anak-anak perempuan dan aku benar-benar gugup karena harus membaca doa dengan suara yang tidak terlalu keras, tapi juga tidak terlalu pelan. Aku tidak tahu apakah salat yang kupimpin berlangsung dengan benar atau tidak, terlalu cepat atau sudah pas, dan seterusnya.
Kami membaca almatsurat (dengan dipimpin Syafiq) setelah salat subuh, mendengar kultum mengenai kejujuran dari Yahya, dan mengobrol sedikit sambil melepas ketegangan yang tertinggal akibat acara di malam harinya. Aku merasa amat mengantuk, tapi tak ada usahaku untuk tidur meski pun diberi waktu hingga jam tujuh atau delapan. Aku malah membuat sarapan dan bertahan tanpa istirahat.
Jam delapan, kami diminta berkumpul untuk ikut berjalan-jalan santai. Bila ada yang tidak ingin ikut, maka boleh saja menunggu di perkemahan. Tapi aku toh memilih untuk ikut berjalan-jalan daripada berusaha tidur karena tidak ingin melewatkan bagian yang paling kusenang, yaitu sight-seeing! Kuganti sandal yang sejak kemarin kupakai dengan sepatu kets, lalu kuambil botol air minumku dan bersiap untuk pergi.
Mau ke mana, nih? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sejak pertama kami memulai jalan pagi dengan melewati sawah-sawah yang basah dan terus dilanjutkan ke jalan menanjak yang berbatu-batu. Kami bahkan melewati tempat sapi perah dan perkuburan warga. Jalan yang kami lalui lama-kelamaan semakin sulit hingga membuat kami tersandung akar berkali-kali, persediaan minum kami habis, dan keringat membanjiri tubuh kami.
Jadi kegiatan ini bukan hanya sekedar jalan-jalan pagi, pada kenyataannya.
Entah berapa kilo jauhnya kami berjalan, tapi lagi-lagi aku mendapat pengalaman hiking seru dengan pemandangan indah dan kondisi jalan yang bervariasi pula, membuatku menjadi amat bersemangat. Kami bahkan sempat berfoto-foto dulu dan menikmati suasana. Dan berterimakasihlah aku pada bapak pemilik tempat perkemahan, karena rute panjang dan berbukit-bukit yang dipilihnya berhasil membuatku amat kelelahan sehingga aku dapat tidur walau hanya setengah jam kurang begitu aku sampai kembali ke tenda.
Setelah mandi, makan siang, salat Dzuhur, dan membereskan barang-barang, kami semua segera bersiap untuk pulang. Tapi rasanya aku tak ingin terburu-buru meninggalkan Cibedug, walau tubuhku sudah sangat merindukan rumah.
Perjalanan turun ke jalan raya yang sudah tidak asing kini tak memberiku banyak dorongan lagi. berbeda dengan saat pertama datang, aku malah menjadi yang terakhir sampai ke tempat kami menunggu angkot. Di sini kami mendapat kesulitan membujuk supir-supir angkot yang lewat untuk menerima tawaran kami untuk menyewakan angkotnya untuk mengantar kami samapi ke Depok.
Ya, ke Depok. Kami tidak ingin naik kereta lagi sambil membawa barang-barang itu. Kami juga masih kelelahan karena acara jalan pagi tadi, sehingga kaki-kaki kami menjadi agak malas untuk dipakai berdiri terlalu lama. Alhamdulillah pada akhirnya ada juga angkot yang mau disewakan.
Adzan Ashar sudah lewat ketika kami sampai di rumah Kak Riza. Kebanyakan dari kami tertidur sepanjang perjalanan. Tapi aku tidak tidur. Aku terus memutar ulang lagu yang sedang menjadi favoritku dan menyanyikannya sendirian. Aku juga termasuk orang yang paling terakhir pulang ke rumah. Aku bahkan sempat melihat Kak Syami (yang tidak turut naik angkot bersama kami) turun dari ojek yang membawanya dan melihat Amir yang tersiksa karena muntah-muntah akibat makanan yang dimakannya siang tadi.
Sungguh menyenangkan ketika Kak Riza menawarkan es krim kepada kami yang tersisa, yang masih berleha-leha di teras rumahnya. Setelah makan es krim dan membantu adik-adik kelas menyiapkan bagian mereka, aku pun pulang ke rumah.
Tapi tidak semudah itu bagiku untuk pulang. Izhar terus-terusan menggangguku dengan bermain kucing-kucingan sambil membawa kabur carabiner milikku (meski aku tak terlalu keberatan bermain dengannya). Aku juga terpaksa meninggalkan tendaku yang telah lama menjadi dead donkey. Aku tak mampu mengangkutnya sendirian. Dan aku bahkan melupakannya hampir setiap hari. Dan kini sudah leat sebulan, belum juga kubawa pulang tendaku itu!
Wah, sesungguhnya detail acara kami di Cibedug belum sempat kuceritakan dengan baik di sini. Tapi aku kehabisan waktu dan aku butuh tidur. Aku juga amat kelaparan. Kurasa cukuplah dulu sampai di sini. Lain kali bila ada waktu, akan kutambahi. Karena bila dipikir-pikir, memang ada pelajaran yang dapat kuambil dari acara berkemah ini. Bukan mengenai kejujuran, tapi mengenai tanggung jawab.
Sajak Anak Cibedug
Posted in School Work, social with tags cibedug, puisi on January 11, 2009 by technowyvernMenanjak jalan berbatu ke naungan pendidikan
Yang memberi seadanya dan tak meminta balas
Di cuaca berkabut dan dingin meradang
Matahari bersembunyi, tak berarti sirna berkas harapan
Dengan denting gitar mengalun nada irama
Menceritakan peran yang dimainkan anak pinggiran kota
Keceriaan mereka tak redup karena nasib
Dambaan atas citanya tak hilang karena keadaan
Padang ilalang tinggi dan hutan-hutan sepanjang bukit
Berjalan kaki berpuluh meter tak surutkan semangat
Meski kekhawatiran sering merebak sesaki dada
Memalingkan wajah dari asa bukanlah pilihan
(gahh, I’m not feeling confident with this one >_<)
The Effect of Temperature on How High a Rubber Ball Bounces
Posted in School Work, science with tags bounce, elasticity, rubber ball, science project, temperature on December 22, 2008 by technowyvernPREFACE
Elasticity is the ability of a material to return to its original length, shape, or size immediately after a deforming force has been removed.
OBJECTIVE
To determine the effect of temperature on how high a rubber ball bounces.
MATTERS
- Does temperature effect the height of a rubber ball’s bounce?
- In what kind of temperature does a rubber ball bounce higher?
HYPOTHESIS
- Temperature does effect the height of a rubber ball’s bounce.
- A rubber ball will bounce higher in a hot or warm temperature.
MATERIALS & TOOLS
- Pencil
- Thermometer
- Freezer
- Two rubber balls
- Boiled water
- Ruler
PROCEDURE I
- Two rubber balls with the same shape and size are prepared (the colour is Turquoise and Orange)
- The Orange ball is being put in the freezer (O° C) for a couple of minutes.
- The temperature of the freezer is measured using a room temperature thermometer.
- The Orange ball is dropped from 1 m height and being caught at its arch point (highest height of bounce).
- Height of the bounce is measured by marking a wall and by counting the mark height using a ruler.
- The steps are done repeatedly.
- Result is noted on a paper.
PROCEDURE II
- Water is boiled until it reaches 100°C.
- The Turquoise ball is being put into the boiling water for 5 minutes.
- The Turquoise ball is dropped from 1 m height and being caught at its arch point.
- The rest of the steps are the same as the previous procedure.
PROCEDURE III
- The Orange and Turquoise rubber balls are placed in a normal temperature room (the temperature is measured using a thermometer) for a few hours to get them back to their original temperature.
- Both balls are dropped from 1 m height by turns and being caught at their arch point.
- The rest of the steps are the same as the previous procedure.
DATA & RESULT


ANALYSIS
- Because the balls weren’t tested at a 28°C from the start, it cannot be assured whether they have different bounce heights from the beginning.
- After being boiled, the Turquoise ball gets a little sticky. On the contrary, the Orange ball’s surface was really smooth after being frozen.
- When the balls were put out from hot or cold temperature, the bounce height decreases.
- The frozen Orange ball bounced higher than the boiled Turquoise ball.
- There seems to be about 5.375 cm difference between the bounce height of both rubber balls.
EVALUATION
- The rubber balls do work like how they should when they are dropped to the ground: “When a ball is dropped to a hard floor, it will rebound. But even the bounciest ball will not bounce back to its starting position.”
- “The height of the bounce increases as the temperature increases is because as the temperature of the ball has increased, this heat has two effect: the air inside the ball becomes pressurized, and the rubber compound from which the ball is made becomes more resilient.”
- The rubber balls used in this experiment don’t have any air inside of them. Instead, they are a solid material. This makes the theory of pressurized air doesn’t work with these kind of rubber balls – which explained why temperature doesn’t effect much of their bounce height.
CONCLUSION
- Temperature does effect the bounce height of a rubber ball (it is resulted in this experiment that the bounce height changed after the balls were being put into boiled water and freezer).
- The rubber balls used in this experiment don’t work the same way as a squash ball etc., so the bounce height wouldn’t increase as the temperature goes higher.
Menolong Korban Kebakaran Ps. Kramat Jati
Posted in School Work, social with tags bakti sosial, kebakaran, pasar kramat jati, penggalangan dana on December 22, 2008 by technowyvern
Pada hari Ahad, 23 November 2008, terjadi kebakaran di perkampungan dekat pasar Kramat Jati yang menyebabkan hilangnya tempat tinggal bagi 391 jiwa yang bermukim di sana. Peristiwa tersebut diberitakan di televisi dan dimuat di koran, tapi aku baru mengetahuinya setelah para mentor menjelaskan bahwa kami semua (murid level 6 hingga 11) akan menolong korban-korban bencana tersebut pada pekan sosial kali ini.
Seperti biasa, hari Senin kami semua berkumpul di saung. Aku agak heran juga ketika sampai ke teras belakang dan melihat banyaknya orang yang duduk mendengarkan Kak Syami berbicara. Setelah pelajaran tahfidz, aku tidak langsung pergi ke rumah Kak Riza dan sarapan dulu di rumahku. Makanya sewaktu melihat keadaan itu, aku jadi bingung. Aku kira tak akan ada tempat duduk buatku.
Begitu kami disuruh menentukan PIC (person in charge), secara kompak, kami semua menegang. Aku merasa bersemangat walaupun gelisah juga. Dan Kak Riza menanti hingga ada yang bersedia mengajukan diri sebagai PIC, dan kakak mentor yang lain pun menunggu, dan kami semua pun menunggu.
Aku sampai frustasi karena tak ada yang tunjuk tangan. Kebanyakan malah menunjuk temannya atau memilih untuk diam sama sekali. Aku hampir saja mau menyalonkan diri, tapi aku sangat ingin seorang murid laki-laki yang memimpin kami untuk kegiatan ini. Jadi aku terus mengurungkan niatku.
Di saat-saat terakhir, Rafi bangkit dari duduknya dan menuliskan namanya di papan tulis sebagai tanda bahwa ia mengajukan diri. Kemudian Amir pun ikut menuliskan namanya, padahal ia ada kesibukan lain untuk pekan ini (entah robot atau roket air yang dikerjakannya). Lalu, karena Kak Riza memang menginginkan tiga nama untuk PIC, Tania bergerak cepat menuliskan namanya di depan. Sudah pasti ia kesal karena anak-anak lelaki yang mestinya bisa memimpin malah tidak mengajukan nama. Aku juga merasakan kekecewaan yang sama.
Setelah tiga nama terkumpul, ketiga-tiganya langsung diangkat sebagai PIC dan aku terheran-heran lagi karena mengira hanya akan ada satu PIC seperti biasa. Tetapi tak apa juga. Setidaknya kami memiliki Tania di antara mereka. Aku akan membantunya sebisaku dan aku yakin ia dapat diandalkan.
Namun mengingat ketakutanku pada kata “menganggur” dan “free rider”, seharusnya aku langsung mencari-cari kesibukan yang dapat melepaskanku dari dua istilah yang dapat menurunkan derajat seseorang dalam komunitas sosial itu. Aku memang melakukan hal yang pantas di hari pertama, tapi tidak begitu di hari selanjutnya. Yah, pokoknya aku merasa kurang berpartisipasi.
Aku segera meminta para PIC untuk mengirimku ke lokasi kebakaran untuk mengadakan survei lapangan singkat. Aku, Eko, Rifda, Badii, Anna, Fatih, dan Kak Wanto pergi ke sana menggunakan mobil yang disupir oleh Pak Yadi (nama ini kelihatannya akan terus disebut dalam semua laporan sosialku). Kami semua mengobrol sedikit di perjalanan yang lumayan singkat itu. Dan rupanya, reaksi pertama kami sewaktu turun dari mobil adalah mengernyit mencium bau.
Seperti yang Kak Wanto katakan, Pasar Induk Kramat Jati sekarang tidak sebecek dulu lagi. Jelas-jelas ada ruko-ruko dan bangunan terbuka yang cukup luas bagi para pedagang untuk meletakkan barang dagangan mereka. Tapi hal ini tidak mengubah fakta bahwa ciri khas pasar adalah baunya yang menjijikkan. Sayur-sayur dan buah-buahan bertumpukan di atas genangan air, dikerumuni lalat. Padahal aku tidak melihat adanya tanda-tanda kebusukan pada sayur-sayuran dan buah-buahan itu. Tak tahulah mataku yang salah melihat, atau memang pedagang di sana biasa menyia-nyiakan dagangan mereka (ini tentu terdengar tidak lazim).
Truk-truk berwarna kuning diparkir di mana-mana di sekeliling bangunan. Kendaraan besar itu kadang membawa muatan yang berbau tidak sedap, kadang juga menurunkan para pekerja pasar yang berteriak-teriak tidak jelas. Aku lebih terkesan dengan sampah-sampah yang menggunung di setiap sisi pasar.
Kami diberitahukan bahwa jalan masuk terdekat ke perkampungan yang hendak kami kunjungi itu adalah dengan melewati selokan besar yang jelas-jelas tercemar limbah pasar. Untuk menyeberanginya, kami harus menunduk di bawah dinding semen yang berlubang dan melompati batu-batu kecil, naik ke jembatan kayu bambu yang lebarnya kira-kira sebesar satu ubin.
Agar lebih efektif, kami memilih untuk mencari ketua RT 07/02 itu saja ketimbang bertanya pada warga sekitar tentang penampungan korban kebakaran dan kebutuhan penyaluran bantuan. Tetapi alih-alih ketua RT, kami menemukan posko bantuan yang letaknya di samping masjid perkampungan tersebut. Di sana kami menemui Pak Madhi, selaku pengurus posko bantuan di sana.
Kepada kami, Pak Madhi menjelaskan rincian bantuan yang telah masuk dan keadaan di penampungan. Ia memberitahu kami apa saja yang diperlukan para korban pada saat itu dan bagaimana cara agar kami bisa ikut menyumbang.
Aku memperhatikan keadaan dan membuka-buka catatan pemasukan dana dan bantuan pada korban kebakaran untuk mencatat poin-poin penting yang bisa kami gunakan dalam perencanaan bakti sosial kami nantinya. Aku menanyakan beberapa hal kepada Pak Madhi dan mengobrol sedikit dengan warga sekitar yang menyapa atau yang terlihat ramah.
Sesungguhnya selama survei ini berlangsung, aku merasa canggung setiap kali berbicara pada orang-orang di sana. Mungkin karena kami orang asing atau karena perbedaan nasib yang sangat kentara, kedatangan kami yang tidak berisik pun sudah cukup menarik perhatian. Seorang ibu-ibu yang sedang menggendong balita bahkan berbicara dengan nada congkak pada kami, “Kalau mau nyumbang, nyumbang susu buat bayi aja.” Dia juga mengatakan hal-hal lain, tapi perhatianku teralih pada seorang ibu-ibu muda yang tiba-tiba berdiri di sampingku.
Lain dengan ibu yang bersikap sinis tadi, ibu yang satu ini tersenyum cukup lebar sehingga membuatku malu. Aku menganggukkan kepalaku dan menyapanya. Ia bertanya-tanya soal kunjungan kami dan bercerita sedikit mengenai kebakaran yang terjadi. Sepertinya ia hendak bercerita lebih banyak, tapi kami semua telah selesai melihat-lihat dan Kak Wanto mengajak kami untuk kembali ke mobil. Ibu tadi terus tersenyum seakan menunggu pertanyaan dariku, tapi aku malah pamit padanya dan segera melangkah pergi.
Jujur deh, aku merasa tidak enak waktu itu. Aku agak kaget karena setelah mendapat perlakuan yang agak kaku dan dingin dari warga lain, ibu muda tadi begitu ramahnya padaku. Yah, setidaknya aku tidak mengabaikannya. Tapi kalau saja aku tidak gugup waktu itu, mungkin aku bisa mendapatkan cerita yang bagus dan mendapat gambaran yang cukup mengenai masalah yang dihadapinya.
Sesampainya kami di rumah Kak Riza, aku dipersilahkan untuk memberi keterangan mengenai poin-poin hasil survei kepada teman-teman yang menunggu di saung. Jadi kukemukakan saja apapun yang ada di kepalaku sambil berharap informasi tersebut tidak sia-sia, agar informasi tersebut berguna, dan peran kami sebagai petugas inspeksi benar-benar terlaksana.
Setelah itu Rafi dan Amir membagi-bagikan tugas belanja. Aku tidak ingat aku dimasukkan ke seksi apa, tetapi sepertinya di bagian makanan. Tania saat itu sudah sibuk dengan teman-teman yang dimasukkan dalam kelompok Dana Usaha. Tak banyak lagi yang dapat dikerjakan karena jam pulang sekolah telah lewat. Kami memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan di hari Selasa.
Masalahnya, aku agak lupa ingatan soal pekerjaan di hari kedua tersebut. Aku tidak dapat mengingat banyak mengenai apa yang kukerjakan. Aku hanya ingat bahwa aku menuliskan sesuatu seperti “Posko Bantuan Korban Kebakaran Pasar Kramat Jati” di papan tulis yang diletakkan di depan rumah Kak Riza agar orang-orang yang kebetulan lewat atau yang ingin mengantarkan sumbangan dapat menemukannya dengan mudah. Aku menggambar api-api dan gambar-gambar sederhana di sana hanya untuk memberikan sentuhan yang “tidak monoton.”
Selain itu, yang kuingat hanya duduk di meja bundar dan membantu Thifal menghitung setiap dana yang masuk dan menghitung pengeluarannya. Kami tidak bisa menunggu hingga semua orang sudah menyumbang baru kemudian uang ter-sebut akan kami pakai untuk keperluan-keperluan. Jadi begitu ada barang yang harus dibeli, kami keluarkanlah dana secukupnya dari apa yang sudah terkumpul. Ini nantinya akan menyulitkan pendataan keuangan kami, tapi pada saat itu kami tak benar-benar memikirkan dampaknya. Lagipula, tak banyak pula waktu yang kami punya untuk menunggu pemasokkan dana.
Sepertinya ada hal-hal lain yang kukerjakan hari itu, tapi tak terlalu penting. Rasanya waktu itu aku sedang dalam mood yang payah. Kalau tidak salah, aku sempat membantu Kak Mira dan yang lain menuliskan daftar harga dan barang-barang yang hendak kami beli untuk disumbangkan. Hal seperti itu pun sebaiknya dipertimbangkan dulu, mengingat dana yang terbatas, kami tak boleh menentukan segalanya sembarangan. Paling tidak, semua bentuk bantuan yang kami berikan harus bermanfaat bagi para korban kebakaran.
Hari Rabu yang biasanya berfungsi sebagai hari action—di mana semua orang mengerjakan hal utama yang menjadi pokok kegiatan dalam sepekan—kali ini berubah menjadi “hari mempersiapkan segalanya” besar-besaran. Kami sibuk mengurus apapun yang dapat kami urus dan melakukan apapun yang dapat kami lakukan demi menyelesaikan segala keperluan. Sebagai gantinya, kami akan pergi ke lokasi kebakaran esok harinya.
Pada mulanya aku merasa amat bosan dan kesal ketika harus bersekolah di pagi hari (ini benar-benar membuktikan bahwa aku termasuk anak manja yang bahkan masih keberatan melangkah ke masjid meskipun masuk jam delapan. Tapi aku punya alasan), aku merasakan nyeri, ngilu, serta rasa tak nyaman yang amat menyebalkan di bagian perut dan pinggangku. Benar-benar tamu bulanan yang tak sopan. Tapi aku tahu ia akan membersihkan racun-racun dari tubuhku.
Entah bagaimana, Ustadz Duddin selalu saja memberikanku kenyamanan tersendiri yang bahkan bisa terasa hanya dengan melihatnya membagikan kertas fotokopi kumpulan haditsnya pada teman-temanku. Aku merasa agak mendingan setelah pelajaran tahfidz, tapi mood burukku berlanjut hingga aku sampai di rumah Kak Riza. Aku tidak langsung siaga dan mengulur waktu dengan duduk-duduk di samping Thifal sambil membantunya menghitung uang.
Aku heran juga karena menghitung uang rupanya bisa meringankan rasa sakitku walau tidak sungguh-sungguh hilang. Aku agak lamban dalam menghitung dan melakukan pekerjaan semacam ini membuatku lebih berkonsentrasi sehingga aku dapat melupakan sedikit rasa sakitnya dan bertahan duduk di sana.
Hal lucu yang kusadari di hari Rabu ini adalah suatu kebetulan yang hebat. Mungkin kebanyakan dari kami sedang semangat-semangatnya mengerjakan tugas (pada awalnya ini tidak berlaku buatku—seperti yang telah kusebutkan di atas), hingga orang yang memakai baju berwarna merah pada saat itu lumayan banyak jumlahnya. Semuanya ada tujuh orang: termasuk aku, Kak Mira, Devin, Thifal, Tesar, Adib, dan juga Badii. Aku menertawakan hal ini beberapa kali.
Mendekati istirahat salat Dzuhur, aku mendapat tugas membeli beberapa kardus air mineral 1.5 liter dan beberapa pak pembalut di toko dekat perumahan tempatku tinggal. Dan lagi-lagi, keperluan semacam ini pun diberikan budget terbatas sehingga aku memutuskan untuk menghubungi toko tersebut via telepon dan menanyakan harga-harga yang tersedia sebelum memesannya.
Kukira aku akan semakin tak bersemangat melewati siang, tapi yang terjadi malah hal sebaliknya. Ketika aku bosan, aku mulai membantu teman-teman dari seksi pakaian membungkus kardus-kardus berisi baju-baju bekas dengan kertas kopi berwarna cokelat. Awalnya aku masih mengerucutkan bibir karena rasa sakit di perutku masih berdenyut-denyut menyebalkan. Tetapi Rafi mengatakan sesuatu yang membuatku malu. Kurang-lebih ia berkata begini, “Kalau lagi sakit, jangan dibawa susah. Nanti makin menjadi-jadi sakitnya. Dibawa enak aja.”
Aku selalu tertawa jika sedang menghadapi Rafi. Masalah dulu, sewaktu aku sempat merasa amat kesal padanya, sudah lama hilang. Entah kalau nanti dia melakukan sesuatu yang membuatku sebal lagi. Tetapi saat ini, celetukannya yang sok bijak terdengar lucu dan memang pas sekali dengan keadaan. Sudah beberapa kali ini dia membuatku tertawa saat aku sedang bete. Jadi kupikir ini adalah suatu perubahan yang bagus sekali. Lebih baik banyak kawan daripada lawan.
Sesudah itu, kegiatan membungkus pakaian bekas terus berlanjut hingga semua pakaian yang layak pakai telah kami benahi. Aku senang sekali melihat betapa banyaknya pakaian yang terkumpul, hingga kardusnya bertumpuk-tumpuk di ruang komputer. Sungguh hebat. Aku tidak dapat menyangka jumlahnya.
Sebenarnya kami telah bekerja hingga lewat waktu pulang sekolah. Kami biasa pulang jam 2 siang, tapi kali ini aku bahkan tak tahu kapan tepatnya akan pulang. Tapi ini bukannya kali pertama kami mengalami hal seperti ini, jadi kami tidak gelisah. Sepertinya aku malah merasa sayang bila pulang lebih awal.
Karena jam makan siang tadi sudah lama lewat (sehingga perut mulai terasa lapar kembali), atau mungkin karena sedang ingin saja—Kak Syammi, Nafi, Icah, Izhar, dan Mia makan asinan di saung sambil istirahat sebentar dari pekerjaannya. Rafi, Badii, Devin, Sarah, dan beberapa anak lain juga sibuk bermain internet.
Aku dan Sarah gemas sekali dengan urusan pencatatan keuangan. Ketika semua orang menyudahkan pekerjaan dan berniat melanjutkannya esok hari, kami masih berkutat dengan bon-bon dan Microsoft Excel. Kami lelah menghitung dana yang anehnya selalu berubah jumlahnya ketika dihitung ulang. Bahkan di saat-saat kami mengira jumlahnya tak akan berubah lagi, Hisyam memberikan sumbangan tambahan sebesar empat ribu seratus rupiah. Kami sampai tergelak.
Izhar bercerita mengenai pengalamannya beserta Tesar dan Rozan ketika mereka ditugaskan berbelanja di suatu supermarket. Beberapa orang pegawai di supermarket tersebut sempat mengganggu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Mungkin karena mereka membeli banyak sekali barang, padahal terlihat seakan masih sangat muda (sehingga dianggap tak memiliki cukup uang untuk membayar semua barang), mereka dijadikan incaran lelucon para pegawai. Untungnya Tesar berhasil membalas sang pegawai dengan celetukannya yang lucu. Ini membuat si pegawai jadi tak bisa mencemooh lebih banyak lagi.
Keesokan harinya, aku kembali telat pergi ke sekolah. Padahal semua orang sudah bersiap-siap agar cepat sampai ke lokasi bencana. Sudah begitu, selain telat, aku memakai baju yang berbeda pula. Teman-teman memakai seragam sekolah. Begitu juga para mentor. Seragamku yang pertama telah lama luntur dan aku tak pernah ingat untuk memesan gantinya.
Mobil-mobil yang akan dikendarai kami rupanya sudah siap, anak-anak sudah naik ke dalamnya. Beberapa masih hiruk-pikuk mengangkut barang. Tetapi jelas-jelas aku datang di saat semua orang sudah selesai melakukan persiapan. Aku ditertawai seperti biasa karena telat. Namun aku lega karena tak ada yang marah padaku karenanya. Malahan Kak Uning memberiku seragam baru untuk dipakai sebelum aku berangkat dengan kloter terakhir.
Sebelum pergi, aku diberi amanah oleh Kak Riza berupa uang lima ratus ribu rupiah untuk dibagikan kepada anak-anak korban kebakaran. Masing-masing diberi lima ribu rupiah saja, kata Beliau. Bila ada sisa, baru dibagikan lagi.
Rombongan kami dipandangi oleh warga sekitar pemukiman ketika kami berjalan beriringan menelusuri jalan kecil di sana. Orang-orang menanyakan dari sekolah dan daerah mana kami berasal. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sambil lewat, tidak menyempatkan diri untuk berhenti dan menjawab lebih banyak pertanyaan lagi. Aku benar-benar tidak ingin ketinggalan rombongan.
Entah bagaimana, jalan yang kulalui kemarin dulu sewaktu pertama survei terasa berbeda saat ini, ketika aku sedang melaluinya lagi bersama teman-teman yang lain. Rasanya seakan lebih panjang, dan aku menemukan detail lain yang tak kutemukan sewaktu survei. Kupikir, benar juga bahwa manusia biasa memerhati-kan sesuatu dengan lebih baik dikali kedua mereka melakukannya.
Kami semua berkumpul dulu di masjid yang letaknya di belakang posko. Atau lebih tepatnya mungkin posko itu sebenarnya adalah bagian dari masjid yang digunakan sebagai posko bantuan untuk sementara waktu ini, karena keperluan mendadak. Pada saat itu, teman-teman yang telah lebih dulu sampai sedang duduk melingkar di teras dalam masjid. Aku melihat ada makanan dan minuman ringan yang tersedia bagi kami, diletakkan di tengah-tengah lingkaran.
Kakak-kakak mentor mengobrol sebentar dengan Pak Madhi dan beberapa orang lain yang mengurus bantuan bagi korban kebakaran mengenai rencana kami berkunjung ke pengungsian hari itu. Setelah menunggu keputusan (yang agaknya menyangkut masalah teknis) mentor dan pengurus posko, aku dan teman-teman pergi keluar masjid dan mengangkut beberapa kardus berisi sumbangan dari kami untuk dibawa ke tenda pengungsian. Kardus-kardus itu nantinya akan dijadikan bukti sekaligus tanda penyerahan bantuan dari kami kepada para korban.
Walau ruangannya sempit, pada akhirnya kami semua tetap diajak masuk ke dalam tenda pengungsian yang beralaskan tikar seadanya. Tapi di tempat kami berdiri—di bagian depan atau mungkin lebih tepatnya di bagian kanan tenda yang dijadikan panggung dadakan untuk kami—pijakannya hanyalah tanah berumpun. Kardus-kardus berisi sumbangan yang telah kami angkat dari posko bertumpuk-tumpukan di belakang, menambah sempit tempat yang tersisa.
Sebagai PIC, maka Rafi diwajibkan menyerahkan bantuan secara simbolik kepada salah seorang wakil dari korban kebakaran Pasar Kramat Jati. Awalnya dia hendak memberi sambutan kecil juga, tapi Kak Syammi malah menggantikannya. Padahal aku ingin tahu apa yang akan Rafi katakan dalam pidato kecilnya (tolong sisipkan evil laugh di sini).
Waktu itu Thifal sempat mengambil gambar Rafi yang sedang berjabatan dengan cara yang menurutku cukup profesional. Bergabung bersama para korban yang duduk di tikar, ia memposisikan dirinya di bagian yang tepat dan mendapat sudut yang pas untuk memotret. Aku biasanya memilih untuk mengambil gambar seadanya saja bila keadaan terlalu ramai karena merasa malu dan segan. Tapi tak begitu dengan Thifal—ia tetap melaksanakan tugas dokumentasinya dengan baik meski harus menyusup dalam kerumunan.
Demi menyalurkan uang 500 ribu rupiah yang diamanahkan oleh Kak Riza, kami meminta izin kepada pengurus di sana untuk memisahkan korban kebakaran menjadi dua kelompok: yaitu kelompok orang tua dan anak-anak. Kami kan hanya akan membagikan sejumlah uang tadi kepada anak-anak, maka dipisahkanlah me-reka dari orang tuanya untuk menghindari keramaian yang (mungkin) terjadi saat para orang tua memastikan anaknya sudah mendapat bagian.
Aku, Thifal, Tania, Adib, dan Eko segera pergi bersama-sama ke rumah Pak Madhi. Kami telah diberi izin oleh beliau untuk melanjutkan acara sederhana kami (yang hanya diisi dengan sedikit lagu, permainan, dan sedekah) di rumahnya. Anak-anak yang telah dipanggil namanya satu-satu di pengungsian juga ikut dengan kami. Sayangnya ada banyak orang tua yang tak mau dipisahkan dengan anak mereka. Agaknya mereka sedikit penasaran karena kami sempat berulang kali meminta agar mereka bersedia meninggalkan anaknya.
Sungguh bingung ketika semua anak-anak sudah berkumpul, kami tidak tahu harus mengajak mereka bermain apa. Ide yang muncul di kepalaku hanya ide untuk mengajak mereka bernyanyi. Maka kumulai saja acara menyanyi “bersama” itu, yang berakhir seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan (metafora ini agak aneh, bukan?). Kami memang bukan penyanyi yang buruk, tapi rupanya pemirsa kami tetap kesulitan mengikuti. Kami berpikir untuk mengganti lagu, tapi sekali lagi Kak Syammi menolong muridnya yang kesulitan…
Harus aku katakan bahwa Kak Syammi memiliki bakat seorang performa, seorang entertain, yang dapat menghibur bahkan di saat orang lain bingung. Enak sekali gayanya mengajak anak-anak itu bermain. Aku kira permainan sederhana tidak akan menghibur, tapi rupanya tradisi tetap menjadi pilihan nomor satu. Dan nyanyian “kepala-pundak-lutut-kaki” yang termasyur itu pun meramaikan acara sederhana kami dengan anak-anak korban kebakaran. Aku dan kawan-kawan pun hanya bisa mengikuti alur Kak Syammi dan meramaikan seadanya—kami menjadi penggembira. Tapi aku tidak menyesal karena sebelumnya sudah berusaha.
Sewaktu adzan Dzuhur, kami berhenti sebentar untuk mendengarkan. Tidak lama setelah itu, kami pun menyudahi acara dengan anak-anak itu. Kami meminta agar mereka berbaris dan keluar dari teras rumah Pak Madhi satu-persatu dengan rapi agar kami dapat membagikan sedekah dengan mudah.
Walau sudah ditangani olehku, Sarah, dan Adib sekaligus, proses sedekah tadi masih saja kacau. Banyak orang yang kembali masuk ke area teras setelah mendapatkan bagian dengan alasan mengambil alas kaki. Satu dua orang meminta kembali bagiannya padahal mereka jelas-jelas sudah mendapatkannya. Dan yang kami coba hindari akhirnya terjadi pula—hiruk pikuk yang disebabkan oleh para orang tua yang semangat empat lima memastikan anaknya dan anak saudara serta temannya juga sudah mendapat bagian. Bisa dimengerti mengapa mereka bersikap begitu antusias atau bahkan agresif terhadap hal ini. Rasanya menyedihkan sekali melihat betapa berharganya lima ribu rupiah bagi mereka.
Kalau tidak salah, uang sedekah tadi tersisa sekitar seratus ribu lebih. Uang ini kemudian diberikan kepada Pak Madhi untuk membeli keperluan lain bagi para korban kebakaran. Bagaimana pun caranya, uang itu harus tersalurkan sepenuhnya untuk kepentingan korban (terutama anak-anak dan manula). Rasanya melegakan setelah menyelesaikan tugas. Kami pun segera kembali ke masjid pemukiman dan berkumpul dengan teman yang lain.
Tadinya kami hendak makan siang dan salat Dzuhur di masjid pemukiman, tapi kami memutuskan untuk melakukan keduanya setelah pulang ke rumah Kak Riza. Kami berpamitan dengan Pak Madhi dan rekan-rekannya seraya melangkah pergi ke arah parkiran pasar. Alhamdulillah aku sempat berpamitan pula dengan ibu-ibu yang bekerja di dapur umum, yang kutemui di hari Senin ketika survei. Ia melambai balik kepadaku dan menganggukkan kepalanya.
Di hari berikutnya, hari Jumat, kami mencoba menyelesaikan laporan yang nantinya akan diberikan kepada warga perumahan dan orang tua murid yang telah menyumbangkan dana serta pakaian bekas bagi korban kebakaran. Aku, Thifal, Sarah, dan Tania bertugas menata laporan keuangan. Karena itulah kami sangat kebingungan ketika uang sejumlah lima ratus enam puluh sembilan ribu dua ratus lima puluh tiga rupiah tak tercatat pengeluarannya (nah, panjang benar kan kalau ditulis begini). Padahal, uang tersebut sudah habis tak bersisa.
Kami telah bolak-balik meneliti daftar belanja, menghitung ulang semua pemasukan dan pengeluaran, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada sejumlah uang tadi. Untungnya kami mendapatkan jalan untuk menyelesaikan perkara ini pada akhirnya (dengan bantuan kakak-kakak mentor). Senang juga ketika kulihat surat berisi laporan kami dibagi-bagikan kepada murid dan warga perumahan tempat kami bersekolah—walau kemudian diketemukan beberapa kesalahan pengetikan di dalamnya.
Dari kegiatan bakti sosial kali ini, aku mempelajari bahwa spontanitas pun bisa menjadi terarah dan membuahkan sesuatu yang baik. Karena kami hanya me-miliki dua sampai tiga hari untuk menggalang dana dan mempersiapkan semuanya, kami hampir melakukan setiap hal dengan spontan. Namun tujuan kami yang satu dan pikiran yang terfokus pada tema “menolong korban kebakaran”, membantu kami (atau lebih tepatnya, membantuku) untuk tidak melenceng terlalu jauh dari maksud semula kegiatan kami ini.
The Human’s Olfaction
Posted in School Work, science with tags experiment, odor, olfaction, olfactory system, scent, sense of smell, smell on November 14, 2008 by technowyvernPREFACE
- Olfaction or the sense of smell is one of the five senses. It is mediated by specialized sensory cells of the nasal cavity of vertebrates, and by analogy, sensory cells of the antennae of invertebrates.
- The chemicals which activate the olfactory system, generally at very low concentrations, are called odors.
OBJECTIVES
- To find out whether familiarity of a scent affects human’s olfaction.
- To measure human’s speed of guessing the source of a smell.
MATTERS
- Does familiarity of a scent affects the work of human’s olfaction?
- How fast can one guesses a smell?
HYPOTHESIS
- Familiarity does affect the olfaction ability. People can guess the source of a scent more accurately if they have already smelled it before.
- One’s speed of guessing a smell can be as fast as one second.
MATERIALS & TOOLS
- Blind fold
- Mango
- Plastic bags
- Melon
- Peanut butter
- Orange
- Cod liver oil
- Stop watch
PROCEDURE I
- Samples of scents are being placed in plastic bags.
- A participant closes his eyes using blind fold or by his own hands.
- Samples are being put below the participant’s nose for him to smell.
- The participant guesses the source of the scents he smells while the time is being count using stop watch.
PROCEDURE II
- The participant is allowed to know (see and smell) and is told about all of the samples that are going to be tested.
- The rest of the steps are the same as the one showed above.
DATAS
ANALYSIS
- In the 1st experiment, the participants had trouble guessing the cod liver oil.
- The orange’s scent was sweet instead of sour like what the participants expected. They were quite unsure and hesitated on guessing it.
- The fastest guessing time was 1.45 seconds and the longest time was 28.96 seconds.
- In the 2nd experiment, the participants already know what the samples are and have also smelled them.
- The cod liver oil was still the hardest sample to guess.
- The fastest guessing time was 1.59 seconds and the longest time was 22.68 seconds.
- The participants could guess melon and peanut butter the best because the scents were quite strong and were familiar to them.
- The cod liver oil is not commonly known or familiar, which explains why it was the hardest sample to guess – even if it has the most peculiar smell.
CONCLUSION
- Familiarity does affect the human’s olfaction ability.
- The olfactory system works properly, but the brain cannot provide the name of the source accurately without having a similar experience and being told of the scent before.
- Most of us can guess the source of a familiar scent or smell in one to two seconds at best. But when the smell isn’t familiar, it’ll take a lot more time to guess or just to describe it.
Business Plan: TiRaI Photo & Art Studio
Posted in School Work, enterpreneurship with tags art studio, bisnis, iklan, manajemen, pemasaran, perencanaan, seni, studio foto on November 7, 2008 by technowyvernPENGENALAN
Berlokasi di Cihampelas, Bandung, TiRaI Photo & Art Studio adalah sebuah studio yang tidak hanya menawarkan fasilitas pemotretan dan pencetakan foto saja, tetapi juga pembuatan lukisan, karikatur, dan animasi. Selain itu, TiRaI juga menawarkan fasilitas café, art & photography store, dan juga mushala.
MISI TIRAI PHOTO & ART STUDIO
- Membantu mensejahterakan bangsa Indonesia dengan membuka lapangan kerja bagi masyarakatnya.
- Memperkenalkan bisnis kreatif kepada masyarakat Indonesia.
- Mengenalkan suatu merek dagang asli Indonesia kepada dunia internasional.
- Menunjukkan kebolehan bangsa kita dalam dunia bisnis dan perdagangan internasional.
MANAJEMEN SDM
- Fotografer (2 orang) Rp6.000.000
- Asisten (2 orang) Rp1.500.000
- Administrator (2 orang) Rp400.000
- Store keeper (1 orang) Rp300.000
- Painter (1 orang) Rp2.000.000
- Creative editor (2 orang) Rp2.000.000
- Chef (1 orang) Rp500.000
- Pelayan (2 orang) Rp500.000
- Total gaji pegawai Rp13.000.000
PERANGKAT/PERALATAN KERJA
- Kamera DSLR (3) Rp36.000.000
- Unit komputer (5) Rp40.000.000
- Set studio lighting (2) Rp40.000.000
- Background roll (2) Rp3.000.000
- Mesin cetak foto Rp60.000.000
- Tripod Rp5.000.000
- Total biaya Rp184.000.000
STRATEGI PEMASARAN
- Memberikan harga promosi yang murah selama dua bulan berturut-turut setelah pembukaan TiRaI Studio.
- Memberikan voucher seharga Rp20.000 untuk setiap transaksi sebanyak Rp250.000 yang dilakukan oleh pelanggan.
- Memberikan potongan harga sebesar 10% bagi pelanggan yang telah mendaftarkan diri sebagai pelanggan setia TiRaI Studio.
- Memperluas jangkauan pemasaran lewat iklan radio, pemasangan billboard, penyebaran brosur, dan menyediakan website khusus yang dapat diakses oleh masyarakat luas untuk memperoleh info serta memesan jasa TiRaI Studio.
RISIKO BISNIS
- Adanya pesaing
- Sepi pengunjung
- Kurangnya ketertarikan masyarakat
- dan lain-lain
RENCANA MENDATANG
- Meluaskan area atau bangunan TiRaI Photo & Art Studio yang berpusat di Bandung.
- Mengembangkan fasilitas yang sudah ada dan menambahkan fasilitas-fasilitas baru, seperti membuat iklan layanan masyarakat ataupun komersial, membuat buku tahunan, dan menyediakan kostum khusus pemotretan yang akan berganti tema setiap tiga bulan sekali.
- Membuka cabang TiRaI Studio di kota-kota besar di setiap daerah di Indonesia.
- Membuka cabang TiRaI Studio di negara-negara ASEAN dan Australia, sebelum berlanjut ke negara-negara lainnya.
FASILITAS STUDIO
- Administration – tempat bagi pelanggan untuk mencari informasi tentang segala fasilitas dan jasa yang disediakan atau ditawarkan, sebagai tempat untuk memesan jasa, serta mendaftrakan diri sebagai anggota pelanggan setia TiRaI.
- Photo Studio – sebuah studio foto dan editing yang menerima berbagai macam jasa pemotretan, pencetakan, dan pengeditan foto.
- Art Studio – merangkap studio animasi, karikatur, dan juga lukis.
- TiRaI Café – menjual makanan dan minuman ringan bagi pelanggan yang sedang menunggu kerabat atau temannya maupun yang hanya ingin bersantai saja.
- TiRaI Art & Photography Store – menjual bingkai foto dan lukisan, scrapbook, film, kamera, album foto, baterai, alat-alat melukis, dll.
- Mushala bagi pengunjung atau pelanggan yang ingin salat, sekedar beristirahat, atau mengaji.
- Rest Room atau kamar mandi umum.
DAFTAR HARGA UNTUK PHOTO DAN ART STUDIO
- Foto studio Rp95.000 (4 orang) dan jika lebih dari jumlah tersebut, maka akan dikenakan charge sebanyak Rp15.000/orang.
- Foto karikatur, animasi, atau lukisan Rp175.000 untuk ukuran kecil, Rp350.000 untuk ukuran sedang, dan Rp475.000 untuk ukuran besar.
- Harga pencetakan foto berkisar dari Rp7.000 hingga Rp185.000.

