Archive for the social Category

Cerita Kami di Cibedug

Posted in School Work, social with tags , , , , on February 15, 2009 by technowyvern

Memasuki pekan awal pembelajaran di tahun 2009, murid-murid level 8 sampai 11 di MIT akan berkemah di kawasan Cibedug, Bogor. Meski sudah mempersiapkan ini dan itu, kami sesungguhnya tidak tahu bagaimana keadaan di sana dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Ini kemudian menimbulkan beberapa kesalahan dan kami terpaksa membuang “dead donkey” dari ransel-ransel kami. Tapi cerita mengenai itu nanti sajalah kuceritakan…

            Percaya atau tidak, absen pada hari Senin saat pekan sosial sepertinya sudah menjadi budayaku. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya, karena liburan tahun baru kemarin aku memang sakit. Untuk memulihkan diri dan meyakinkan bahwa aku sudah mulai sembuh, maka aku tak masuk di hari pertama itu. Lalu hasilnya: aku bersyukur tidak dijadikan ketua kelompok untuk acara berkemah.

            Apa pula sangkut paut antara tidak masuk dengan menjadi ketua kelompok? Yah, tahulah bagaimana segala hal mendasar yang harus diketahui atau diputuskan selalu dikerjakan pada hari Senin… dan karena aku tak masuk, maka tak ada yang bisa menjanjikan bahwa aku akan ikut kegiatan pekan itu. Jadi secara otomatis tak ada juga yang bisa mengangkatku jadi ketua, kan? Di situlah kaitannya.

            Budaya tidak masuk pada hari Senin atau budaya sakit pada hari Senin ini bisa jadi termasuk dalam sindrom “I don’t like Monday” yang entah kenapa telah menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Dan aku kebetulan adalah salah satunya. Inilah kenapa teman-teman, mentor-mentor, serta orangtuaku boleh merasa jengkel padaku jika menyangkut masalah rajin sekolah dan menjadi anak manja.

            Diputuskanlah untuk mengangkat Rifda (atau Bida) menjadi ketua salah satu kelompok. Sarah, Nafi, Anna, dan aku adalah anggotanya. Bida sendiri tidak ingin menjadi ketua kelompok, katanya. Tapi mau bagaimana lagi? Maka perundingan hari Senin terus berlanjut tanpa kuketahui ceritanya.

            Seperti yang mungkin telah ditebak oleh teman-teman, aku masuk sekolah di hari berikutnya. Aku katakan bahwa kesehatanku sudah membaik. Memang betul itu, tapi sebenarnya aku masih memiliki sedikit masalah pencernaan yang belum beres betul. Namun begitu mendengar rencana camping, tubuhku langsung beradaptasi dan menyesuaikan keadaan dengan kabar ini. Sudah menjadi kecenderunganku untuk tak mundur bila persoalan yang dihadapi adalah kepentingan bersama. Aku berpikir cepat dan memutuskan untuk ikut acara ini sebagai tanggung jawabku sebagai anggota. Aku kan tidak mungkin mundur setelah diamanahi barang-barang kebutuhan yang harus dibawa demi kesejahteraan kelompok?

            Hmm… aku tidak ingat apa lagi yang kami kerjakan di hari Selasa. Sepertinya hanya bagi-bagi tugas dan merencanakan kegiatan. Kami juga membuat peraturan-peraturan yang (walau tak banyak) kemudian terlupakan secara tidak sengaja olehku. Tidak tahu bagaimana dengan teman-teman yang lain. Untungnya kebanyakan dari peraturan yang ada adalah hal-hal umum seperti “buang sampah di tempatnya”, jadi aku hanya sempat dihukum sekali (akan kuceritakan detilnya nanti).

            Malam sebelum hari keberangkatan kami ke Cibedug, anak-anak berbelanja ke mini market terdekat untuk membeli kebutuhan kecil seperti snack dan mackerel kalengan. Aku sendiri sempat membeli voucher pulsa karena khawatir kalau tidak bisa menghubungi orang lain bila nanti ada keperluan mendadak.

            Di hari keberangkatan, kami seharusnya berkumpul di masjid. Biasanya aku selalu berjalan kaki ke sana setiap pagi, tapi kali itu aku naik mobil. Karena mendapat bagian membawa tenda (yang sangat berat dan besar), aku tak ingin menyeret-nyeret kantung besar berisi benda itu sendirian. Yang ada di pikiranku pada saat itu adalah bagaimana caranya agar cepat sampai ke masjid, dan aku hampir mengabaikan beban tenda yang sejak awal sudah merepotkan. Aku pikir kami bisa saja membawa tenda itu bersama-sama nantinya.

            Teman-temanku memang sudah berkumpul semua waktu itu, tapi belum ada tanda-tanda mereka hendak berangkat. Aku segera menghampiri mereka dan bertanya mengenai keadaan. Rupanya kami tidak jadi naik angkot ke stasiun kereta api, dan kami juga diminta untuk berkumpul di rumah Kak Riza terlebih dahulu. Barang-barang teman-teman pun dimasukkan ke dalam bagasi mobilku dan Rifda untuk dibawa ke sana. Setelah itu kami briefing dan diberi masukan oleh Kak Riza untuk menimbang-nimbang, barang mana yang betul-betul perlu kami bawa dan mana yang hanya akan menjadi tambahan beban saja (dead donkey).

            Setiap kelompok diperintahkan untuk mengumpulkan barang-barang yang telah dipersiapkan—baik barang pribadi atau milik kelompok—dan diberi waktu untuk berdiskusi mengenainya. Aku melihat bahwa satu dua orang merasa keberatan dengan hal ini, entah karena apa. Sementara itu, aku sendiri tidak merasa terganggu, hanya saja aku malas mendiskusikan hal ini. Apa lagi begitu tendaku divonis sebagai kandidat dead donkey terparah… aku benar-benar kesal. Tetapi aku tahu bahwa itu memang benar, dan aku tak ingin pula bersusah payah mengangkutnya.

            Namun dengan ditinggalkannya sang tenda, ini berarti anggota kelompokku dan dua orang mentor perempuan yang ikut bersama kami akan kehilangan tempat tidur. Kami kan tidak mungkin berkemah tanpa tenda? Aku sempat merasa teramat bingung karena mengkhawatirkan nasib kami. Jadi aku perlu memastikan bahwa ada solusi yang bisa dilakukan untuk menutupi kehilangan besar ini.

            Selanjutnya, setelah beberapa botol air minum 1.5 liter, setengah liter minyak, serta tenda yang dibawa kelompokku telah dikeluarkan dari daftar barang yang akan kami bawa, kami semua mencoba untuk mengangkat barang-barang yang tersisa dan memutuskan apabila ada barang lain yang harus ditinggalkan pula.

            Bila dilihat sekilas, maka akan terpikir bahwa semua kebutuhan yang divonis sebagai dead donkey yang hanya akan merepotkan di atas itu termasuk penting. Aku sendiri juga resah melihatnya. Tetapi setelah kupikir ulang, dan kuketahui bahwa di tempat kami berkemah nanti sebenarnya dekat dengan perkampungan, maka barang-barang di atas (kecuali tenda) memang tidak kritikal amat untuk dibawa.

            Meski belum pasti benar apa yang akan kami lakukan untuk mendapat tempat tidur yang layak nantinya, kami pasrah dan ingin segera berangkat ke lokasi. Rasanya aku juga tak ingin mengulur waktu lagi. Untunglah teman-teman dari kelompok lain tidak memiliki masalah dalam perbekalan. Jumlah barang yang mereka bawa pas.

Kami semua berkendara ke stasiun UI Depok. Ketika turun di depan sederet mahasiswa yang menunggu bus datang, aku dan teman-teman yang ikut dalam satu mobil merasa malu. Kami pun bingung hendak berjalan ke arah mana. Belum lagi hujan turun, sehingga tanah becek menambah gaya jalan kami terlihat makin konyol dengan ransel-ransel di punggung dan kantung-kantung di tangan.

            “Ke mana yang lainnya?” kami terus bertanya pada satu sama lain.

            Sewaktu berangkat dari rumah Kak Riza tadi, mobil-mobil kami memang tak beriringan. Entah deh, tapi sepertinya romobonganku telat karena menunggu aku mempersiapkan makan siang yang lupa aku bawa. Aku juga sempat mengantarkan makan siang untuk adik laki-lakiku yang hendak pergi outbond ke Ciseeng. Jadi saat kami sampai di stasiun, teman-teman lain sudah tak ada di luar. Agaknya mereka telah masuk ke dalam, maka kami pun segera ikut masuk ke ruang tunggu.

            Tiket kereta telah dibelikan oleh para mentor untuk kami semua. Kami hanya perlu memegang tiket masing-masing dan menunggu kereta datang. Maka kami pun menunggu dan menunggu. Namun tidak lama kemudian, sebuah kereta api jurusan Bogor berhenti di depan kami dengan jumlah penumpang yang sangat padat. Aku tak pernah naik yang sepadat itu sebelumnya.

            Karena khawatir tidak sempat naik ke kereta sebelum ia mulai berjalan lagi (sesuai dengan lagu kereta api yang berbunyi, “Ayo kawanku lekas naik. Keretaku tak berhenti lama”), kami berdesakan dengan penumpang-penumpang lain untuk dapat posisi yang aman. Penumpang yang hendak turun menjadi kesal karena sulit keluar dari gerbong kereta, terdorong dan terhalang oleh kami-kami yang takut tertinggal. Keadaan pun menjadi agak kacau selama beberapa menit.

            Kekacauan kecil tadi membuat rombongan kami terpisah. Aku, Kak Annis, Anna, Izhar, Syafiq, Tesar, Eko, Ieuan, Kak Syami, dan Rozan mendapat tempat di gerbong depan sementara Kak Mira, Thifal, Tania, Nafi, Mia, Zurai, Bida, Sarah, Adib, Rafi, Yahya, Imad, dan Kak Redi mendapat tempat di gerbong belakang. Kami tak mendapat tempat duduk dan hampir tak mendapat tempat untuk berpegangan.

            Sewaktu kereta mulai berjalan, aku mendengar Tesar terkekeh di belakangku. Ketika aku menoleh untuk memeriksa apa yang ditertawakannya, aku sadar ranselku yang menggembung itu menyenggol seorang bapak-bapak yang berdiri tepat di antara kami. Ia terus terdorong oleh ranselku yang menggembung itu dan aku terus meminta maaf padanya sampai ia mendapat tempat duduk dan berhasil menyelamatkan dirinya dari gangguan kecil yang bisa ditimbulkan seorang anak muda dan sebuah ransel. Aku akan merasa lebih baik bila ia menanggapi permintaan maafku, tapi bapak itu hanya diam dan memasang wajah datar.

            Suasana di dalam kereta ekonomi sesungguhnya amat menarik untuk dibahas. Orang-orang yang sering memakai jasa angkutan ini pasti tahu betul segala fenomena yang biasa terjadi di sana. Aku sendiri selalu mencoba untuk mengantisipasi segala kemungkinan dan mencari cara untuk menyikapi keadaan dengan wajar.

            Kali ini, seorang pengamen yang memiliki kekurangan dalam penglihatannya berdiri di dekat kami sambil memainkan gitar kecil yang termasyhur itu. Kalau kita perhatikan, instrumen satu ini seakan-akan adalah pengiring andalan para pengamen jalanan. Sayangnya, benda itu hanya berfungsi untuk mengiringi saja. Jarang ada pengamen yang sungguh-sungguh memainkannya.

Hal yang sama pun terjadi pada pengamen di kereta tadi—ia hanya menepuk dan menggerakkan tangannya dengan asal di atas senar. Aku tak yakin apa gerakan yang dilakukannya itu benar “kocokan”. Lagu yang dinyanyikannya pun tidak jelas. Lucunya, ia terus menyerukan terima kasih pada para penumpang kereta karena telah mendengarkannya. Dan aku tak tahan untuk tidak tertawa kecil melihat ekspresi di wajah Izhar yang sangat berbeda dibandingkan dengan penumpang lainnya.

Pernah lihat raut wajah karakter dalam komik yang selalu datar? Dengan mata setengah tertutup yang menatap bosan dan bibir membentuk garis tipis, Izhar terlihat persis seperti itu. Dia menatap sang pengamen tanpa berkedip sementara orang-orang lain berusaha untuk tidak meliriknya. Sang pengamen sendiri terus bernyanyi tanpa memedulikan keadaan sekitarnya yang entah dapat dia lihat dengan baik atau tidak. Aku pun terus bergerak-gerak gelisah karena tak tahu harus berbuat apa.

Biasanya beberapa pedagang buah (variasinya mulai dari jeruk hingga melon) hilir mudik di dalam kereta api sambil membawa troli-troli atau keranjang-keranjang penuh berisi dagangannya. Mereka pindah dari satu gerbong ke gerbong lain dengan menyeruak di antara penumpang kereta yang jumlahnya tidak sedikit. Tapi mereka tidak selalu menawarkan dagangannya. Mereka hanya berjalan santai dan menoleh ke kanan dan kiri, memerhatikan apabila ada orang yang berniat membeli. Namun, kali ini tak ada pedagang buah yang lewat.

Para “Penjual Segala” (yang menjual berbagai macam barang—dari gunting hingga casing handphone) juga sedang tidak banyak yang lewat. Padahal mereka rajin menggantung dagangannya di sela-sela jeruji kipas angin pada kesempatan lain.

Melewati beberapa stasiun, gerbong kereta api pun berangsur-angsur menjadi sepi dan satu-persatu dari kami mendapat tempat duduk. Tesar mempersilahkan Kak Anis, Anna, dan aku untuk duduk duluan di bangku kosong yang ada di dekatnya. Maka kami pun mendorong Anna untuk menerima pemberian itu. Setelah itu aku duduk, lalu Kak Anis, Tesar, dan Rozan. Izhar, Eko, dan Ieuan lebih memilih duduk di lantai kereta sementara Syafiq dan Kak Syami tetap berdiri.

 

Sebelum kami sampai di tempat perhentian dan kereta sedang melambatkan lajunya, kami semua bersiap-siap untuk turun. Barang-barang yang kami letakkan di lantai pun kami angkat. Aku pun merapikan bajuku, walau tak ada gunanya juga aku melakukan itu. Lalu kami jalan beriringan ke luar stasiun, ke sebuah pasar yang sejak lama berada di belakang stasiun tersebut. Dan kami pun pergi ke jalan untuk mencari angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan ke Cibedug.

Seperti biasa, setiap kali kami pergi ke Bogor naik kereta, kendaraan yang akan kami pakai setelah itu pasti adalah angkot. Tapi kami mencarter lebih banyak angkot kali ini daripada biasanya. Aku lupa berapa tepatnya jumlah angkot yang kami sewa. Apakah tiga? Habisnya jumlah anggota kami semua sampai dua puluhan orang. Jadi tidak heran bila kami membutuhkan kendaraan umum dengan kapasitas yang lumayan. Lagipula akan lebih sulit bila perjalanan dilakukan dengan cara biasa. Kami kan bukan orang Bogor, jadi mana tahu rute angkot-angkot di sana… lebih baik sewa sekalian daripada tersesat nantinya.

Begitu sampai di gang menanjak yang tak kutahu namanya (karena memang aku tidak ingat untuk melihat papan jalannya—bila pun ada), Kak Syammi memberi-tahukan bahwa kami akan berjalan kaki dari sana hingga ke tempat perkemahan, dan jaraknya berkilo-kilo meter pula!

Ah, lengkaplah sudah. Dengan beban tas ransel, alat-alat masak, dan sleeping bag: kami harus menanjak jalan berbatu dan berlumpur itu. Tapi keadaannya sama sekali tidak buruk, kok. Malah kami melakukan perjalanan yang lebih hebat lagi keesokan harinya. Aku bahkan senang karena anak-anak lelaki gagal memprediksikan kapan aku akan sampai ke lokasi (aku datang lebih cepat dari yang mereka kira).

Kami semua duduk di teras rumah pemilik lokasi perkemahan yang sebenar-nya adalah tempat anak-anak kawasan Cibedug bersekolah. Tempat sederhana yang terdiri dari satu mushala, taman dengan tiga buah saung, serta satu kios kecil berisi jajanan untuk anak-anak. Namun aku tak menangkap detail seperti itu dikali pertama aku menginjakkan kakiku. Aku malah bertanya-tanya, apa benar kami akan menginap di sana? Karena tempat itu tidak terlihat seperti lokasi perkemahan.

Ada beberapa murid SMP yang mencuri-curi pandang ke arah kami sambil berbisik-bisik ketika kami masih duduk-duduk di teras dan menunggu komando dari para mentor. Saat itu aku berpikir bahwa murid-murid SMP tersebut bersikap kurang menyenangkan. Tetapi aku tidak benar-benar ambil pikir (adakah istilah macam ini?) soal itu dan meneruskan obrolanku dengan Izhar.

Tak lama kemudian, kami salat dzuhur di taman bersaung yang telah kusebut sebelumnya. Ternyata kami akan mendirikan tenda di sana. Jadi kami tidak berkemah di tempat yang berhutan-hutan atau sepi seperti yang kukira. Tetapi syukurlah, kami memang membutuhkan saung untuk tempat tidur para mentor (kelompokku akhirnya dipinjamkan tenda oleh Adib) dan kamar mandi selama dua hari ini.

Setelah selesai salat dan meletakkan barang seadanya, kami semua diminta untuk berkumpul di mushala bersama anak-anak SMP tadi. Aku pun mengantisipasi kekakuan yang ada dengan bersikap konyol. Dan ketika aku dihukum bersama teman-teman lain karena kalah dalam permainan, aku bersikap seolah-olah aku menikmati hukuman itu. Pada akhirnya aku memang menikmatinya, karena toh hukuman yang dijatuhkan tidak buruk. Kami hanya perlu memperagakan sedikit deskripsi lucu untuk mendukung puisi tentang gajah yang dituliskan Kak Syammi di papan.

Aku berkenalan dengan beberapa anak perempuan dari sekolah itu. Mungkin ada sekitar 5 atau 6 orang. Tapi yang paling kuingat namanya hanya Maya, Syakila, Misnatih, dan Ayu. Tiga anak yang disebut pertama adalah anak-anak yang sempat mengobrol berempat denganku. Aku berimprovisasi saja karena pada awalnya aku melakukan ini hanya karena Kak Mira memberiku tugas untuk mewawancara mereka dan membuat suatu karya berupa puisi, sajak, atau biografi dari hasil perbincangan tersebut. Namun karena aku kekurangan informasi dan tidak berniat untuk melakukan tugas yang manapun, akhirnya aku menggambar Maya, Syakila, dan Misna. Yang kupikirkan waktu itu adalah sebuah karya seni sebagai pengganti.

Karena aku menggambar di tempat, mereka bertiga juga teman-teman mereka yang lain sempat melihat prosesnya. Mereka berkomentar bagus mengenai gambarku, tapi aku tahu salah satu dari mereka juga pasti memiliki bakat menggambar. Saat itu, Ayu yang telah kukenal sebelumnya karena sama-sama terkena hukum menunjukkan koleksi gambar karyanya sendiri yang dia simpan dalam binder. Menurutku gambar Ayu juga cukup bagus, hanya saja dia belum menemukan karakter khasnya sendiri (sama sepertiku) dan lebih sering mencontoh manga yang sudah ada.

Alhamdulillah, aku mendapat inspirasi untuk membuat sajak mengenai semua anak-anak sekolah itu ketika kami pulang di kemudian hari. Gambarku tidak diterima sebagai pengganti tugas karena tentu saja jauh lebih sederhana daripada seharusnya. Namun sajak yang kubuat pun tidak kalah sederhananya. Aku sungguh tidak mahir merangkai kata-kata puitis, apalagi membuat tulisan panjang mengenai riwayat hidup seseorang… Aku mungkin tidak akan dapat feel­-nya.

Begitu acara perkenalan itu dibubarkan, aku dan teman-teman dari MIT pun kembali ke tempat perkemahan dan mulai membenahi barang. Kami memasang tenda dan menyiapkan makan malam. Setelah itu ada permainan menangkap ikan di sawah berlumpur yang seharusnya bisa menjadi kegiatan yang lebih seru kalau saja aku tak terlalu jijik dengan ikan hidup. Sementara itu acara makan siang telah kami lakukan di sela-sela waktu salat Dzuhur tadi, dengan bekal yang dipersiapkan dari rumah. Dan salat Ashar pun sepertinya sudah dijamak bersama.

            Aku merasa tidak enak kalau harus jadi orang yang tidak melakukan apa-apa pada hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Maka karena aku menolak membersihkan ikan-ikan setelah melihat cara Izhar membunuh mereka dan bagaimana Tania, Adib, serta Kak Annis mengulitinya (meski memang begitulah caranya—tak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan), aku memilih untuk menyiapkan bumbu saja. Aku pun berniat pergi bersama Nafi ke warung untuk membeli cuka atau jeruk nipis dan kecap manis. Tapi belum sempat kami keluar dari area perkemahan, istri dari bapak pemilik tempat tersebut menanyakan keperluan kami dan serta merta memberikan kecap manis dan tiga buah jeruk nipis pada kami.

            Aku sungguh senang dan bersyukur atas pemberian ini, tapi aku merasa tidak puas karena aku tidak mendapatkan kebutuhan ini dari hasil usahaku sendiri. Maka aku pun mencari cara untuk melakukan sesuatu yang lain. Nah, kali ini aku mencoba membumbui ikan-ikan tersebut. Anna dan Nafi membantuku… atau lebih tepatnya, aku dan Nafi membantu Anna melakukannya. Di sini aku menemukan ketidakpuasan lain yang lagi-lagi membuatku kesal pada diri sendiri dan menjadikanku terjebak dalam suasana hati yang aneh, agak murung sekaligus angker. Hahaha.

Ke mana pun pergi, aku selalu tidak dapat tidur dengan cepat. Apalagi bila aku tak merasa nyaman, bisa-bisa aku tidak tidur semalaman. Hal ini pun terjadi saat tiba waktu bagi kami untuk beristirahat di perkemahan. Walaupun tenda kecil yang kami pinjam sesungguhnya sudah cukup enak, tapi aku benar-benar sulit tidur. Sarah yang juga kesulitan pada akhirnya tertidur dengan permen karet masih berada dalam mulut. Kalau saja aku tahu, dia akan kularang tidur sambil mengunyahnya. Untunglah ia tidak apa-apa karena permen karet itu tidak tertelan olehnya.

Ketika Kak Mira datang ke tenda kami sekitar jam dua malam atau lebih, mataku langsung terbuka begitu mendengarnya berlutut di pintu tenda. Aku sungguh terjaga semalaman itu. Aku biarkan diriku berbaring tak bergeming untuk sementara dan menenangkan diriku yang sesungguhnya sangat ingin tidur. Lalu aku mengikat rambutku dan memakai kerudung. Anna dan Sarah pun bangun dari tidur mereka, juga anggota kelompok kami yang menumpang tidur di tenda milik Tania.

Aku tidak begitu ingat soal ini, tapi aku, Nafi, dan seorang lagi (apakah Mia?) sangat memerlukan waktu untuk pergi ke kamar mandi sebentar sebelum berkumpul di sawah bersama teman-teman yang lain. Kami berteriak meminta izin kepada kakak mentor, lalu melesat pergi ke kamar mandi. Tapi karena kamar mandi yang dipakai hanya satu dan urusan kami berbeda-beda, maka waktu 5 menit yang diberikan oleh Kak Annis pun terlewat sudah. Kami pun mendapat hukuman ringan sebentar.

Setelah itu, kami semua dipisah menjadi kelompok-kelompok kecil berjumlah dua orang, kemudian kami disebar ke seluruh penjuru area. Kami diminta menulis mengenai tujuan utama kami pergi ke sana, perasaan kami, kebohongan terbesar yang pernah kami lakukan, dan opini mengenai pasangan kami masing-masing.

Aku mendapat tempat di depan gerbang, berdua dengan Tania. Mengenai ini, aku berasumsi bahwa Kak Mira lah yang memasang-masangkan kami. Kalau tidak, aku dan Tania mungkin tidak akan bersama. Untunglah pasanganku Tania, jadi kami bisa berdiskusi dan menulis dengan jujur tanpa merasa terlalu terbebani. Masalahnya, kami lebih sibuk bercerita daripada menulis hingga tak sempat menyelesaikan seluruh bagian dari essay yang harus kami tulis. Untunglah kami tidak terkena hukuman apapun karena hal ini.

Menjelang subuh, kami semua mendapat nasihat panjang dari Kak Syammi. Isinya pas sekali dan mengena. Seperti biasa, aku akan menampakkan gaya kasual untuk menyembunyikan kegelisahanku. Jadi aku berdiri dengan sikap yang lumayan santai (menurutku) dan terus memposisikan badanku menghadap kakak-kakak mentor secara langsung yang berarti, “aku mengerti di mana letak masalahnya” atau sesuatu yang bahkan lebih percaya diri dari itu.

Pada saat salat Subuh, aku mendapat jatah sebagai imam bagi anak-anak perempuan dan aku benar-benar gugup karena harus membaca doa dengan suara yang tidak terlalu keras, tapi juga tidak terlalu pelan. Aku tidak tahu apakah salat yang kupimpin berlangsung dengan benar atau tidak, terlalu cepat atau sudah pas, dan seterusnya.

Kami membaca almatsurat (dengan dipimpin Syafiq) setelah salat subuh, mendengar kultum mengenai kejujuran dari Yahya, dan mengobrol sedikit sambil melepas ketegangan yang tertinggal akibat acara di malam harinya. Aku merasa amat mengantuk, tapi tak ada usahaku untuk tidur meski pun diberi waktu hingga jam tujuh atau delapan. Aku malah membuat sarapan dan bertahan tanpa istirahat.

Jam delapan, kami diminta berkumpul untuk ikut berjalan-jalan santai. Bila ada yang tidak ingin ikut, maka boleh saja menunggu di perkemahan. Tapi aku toh memilih untuk ikut berjalan-jalan daripada berusaha tidur karena tidak ingin melewatkan bagian yang paling kusenang, yaitu sight-seeing! Kuganti sandal yang sejak kemarin kupakai dengan sepatu kets, lalu kuambil botol air minumku dan bersiap untuk pergi.

Mau ke mana, nih? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sejak pertama kami memulai jalan pagi dengan melewati sawah-sawah yang basah dan terus dilanjutkan ke jalan menanjak yang berbatu-batu. Kami bahkan melewati tempat sapi perah dan perkuburan warga. Jalan yang kami lalui lama-kelamaan semakin sulit hingga membuat kami tersandung akar berkali-kali, persediaan minum kami habis, dan  keringat membanjiri tubuh kami.

Jadi kegiatan ini bukan hanya sekedar jalan-jalan pagi, pada kenyataannya.

Entah berapa kilo jauhnya kami berjalan, tapi lagi-lagi aku mendapat pengalaman hiking seru dengan pemandangan indah dan kondisi jalan yang bervariasi pula, membuatku menjadi amat bersemangat. Kami bahkan sempat berfoto-foto dulu dan menikmati suasana. Dan berterimakasihlah aku pada bapak pemilik tempat perkemahan, karena rute panjang dan berbukit-bukit yang dipilihnya berhasil membuatku amat kelelahan sehingga aku dapat tidur walau hanya setengah jam kurang begitu aku sampai kembali ke tenda.

Setelah mandi, makan siang, salat Dzuhur, dan membereskan barang-barang, kami semua segera bersiap untuk pulang. Tapi rasanya aku tak ingin terburu-buru meninggalkan Cibedug, walau tubuhku sudah sangat merindukan rumah.

Perjalanan turun ke jalan raya yang sudah tidak asing kini tak memberiku banyak dorongan lagi. berbeda dengan saat pertama datang, aku malah menjadi yang terakhir sampai ke tempat kami menunggu angkot. Di sini kami mendapat kesulitan membujuk supir-supir angkot yang lewat untuk menerima tawaran kami untuk menyewakan angkotnya untuk mengantar kami samapi ke Depok.

Ya, ke Depok. Kami tidak ingin naik kereta lagi sambil membawa barang-barang itu. Kami juga masih kelelahan karena acara jalan pagi tadi, sehingga kaki-kaki kami menjadi agak malas untuk dipakai berdiri terlalu lama. Alhamdulillah pada akhirnya ada juga angkot yang mau disewakan.

Adzan Ashar sudah lewat ketika kami sampai di rumah Kak Riza. Kebanyakan dari kami tertidur sepanjang perjalanan. Tapi aku tidak tidur. Aku terus memutar ulang lagu yang sedang menjadi favoritku dan menyanyikannya sendirian. Aku juga termasuk orang yang paling terakhir pulang ke rumah. Aku bahkan sempat melihat Kak Syami (yang tidak turut naik angkot bersama kami) turun dari ojek yang membawanya dan melihat Amir yang tersiksa karena muntah-muntah akibat makanan yang dimakannya siang tadi.

Sungguh menyenangkan ketika Kak Riza menawarkan es krim kepada kami yang tersisa, yang masih berleha-leha di teras rumahnya. Setelah makan es krim dan membantu adik-adik kelas menyiapkan bagian mereka, aku pun pulang ke rumah.

Tapi tidak semudah itu bagiku untuk pulang. Izhar terus-terusan menggangguku dengan bermain kucing-kucingan sambil membawa kabur carabiner milikku (meski aku tak terlalu keberatan bermain dengannya). Aku juga terpaksa meninggalkan tendaku yang telah lama menjadi dead donkey. Aku tak mampu mengangkutnya sendirian. Dan aku bahkan melupakannya hampir setiap hari. Dan kini sudah lewat sebulan, belum juga kubawa pulang tendaku itu!

Wah, sesungguhnya detail acara kami di Cibedug belum sempat kuceritakan dengan baik di sini. Tapi aku kehabisan waktu dan aku butuh tidur. Aku juga amat kelaparan. Kurasa cukuplah dulu sampai di sini. Lain kali bila ada waktu, akan kutambahi. Karena bila dipikir-pikir, memang ada pelajaran yang dapat kuambil dari acara berkemah ini. Bukan mengenai kejujuran, tapi mengenai tanggung jawab.

Sajak Anak Cibedug

Posted in School Work, social with tags , on January 11, 2009 by technowyvern

Menanjak jalan berbatu ke naungan pendidikan
Yang memberi seadanya dan tak meminta balas

Di cuaca berkabut dan dingin meradang
Matahari bersembunyi, tak berarti sirna berkas harapan

Dengan denting gitar mengalun nada irama
Menceritakan peran yang dimainkan anak pinggiran kota

Keceriaan mereka tak redup karena nasib
Dambaan atas citanya tak hilang karena keadaan

Padang ilalang tinggi dan hutan-hutan sepanjang bukit
Berjalan kaki berpuluh meter tak surutkan semangat

Meski kekhawatiran sering merebak sesaki dada
Memalingkan wajah dari asa bukanlah pilihan

(gahh, I’m not feeling confident with this one >_<)

Menolong Korban Kebakaran Ps. Kramat Jati

Posted in School Work, social with tags , , , on December 22, 2008 by technowyvern

Pada hari Ahad, 23 November 2008, terjadi kebakaran di perkampungan dekat pasar Kramat Jati yang menyebabkan hilangnya tempat tinggal bagi 391 jiwa yang bermukim di sana. Peristiwa tersebut diberitakan di televisi dan dimuat di koran, tapi aku baru mengetahuinya setelah para mentor menjelaskan bahwa kami semua (murid level 6 hingga 11) akan menolong korban-korban bencana tersebut pada pekan sosial kali ini.

            Seperti biasa, hari Senin kami semua berkumpul di saung. Aku agak heran juga ketika sampai ke teras belakang dan melihat banyaknya orang yang duduk mendengarkan Kak Syami berbicara. Setelah pelajaran tahfidz, aku tidak langsung pergi ke rumah Kak Riza dan sarapan dulu di rumahku. Makanya sewaktu melihat keadaan itu, aku jadi bingung. Aku kira tak akan ada tempat duduk buatku.

            Begitu kami disuruh menentukan PIC (person in charge), secara kompak, kami semua menegang. Aku merasa bersemangat walaupun gelisah juga. Dan Kak Riza menanti hingga ada yang bersedia mengajukan diri sebagai PIC, dan kakak mentor yang lain pun menunggu, dan kami semua pun menunggu.

Aku sampai frustasi karena tak ada yang tunjuk tangan. Kebanyakan malah menunjuk temannya atau memilih untuk diam sama sekali. Aku hampir saja mau menyalonkan diri, tapi aku sangat ingin seorang murid laki-laki yang memimpin kami untuk kegiatan ini. Jadi aku terus mengurungkan niatku.

Di saat-saat terakhir, Rafi bangkit dari duduknya dan menuliskan namanya di papan tulis sebagai tanda bahwa ia mengajukan diri. Kemudian Amir pun ikut menuliskan namanya, padahal ia ada kesibukan lain untuk pekan ini (entah robot atau roket air yang dikerjakannya). Lalu, karena Kak Riza memang menginginkan tiga nama untuk PIC, Tania bergerak cepat menuliskan namanya di depan. Sudah pasti ia kesal karena anak-anak lelaki yang mestinya bisa memimpin malah tidak mengajukan nama. Aku juga merasakan kekecewaan yang sama.

Setelah tiga nama terkumpul, ketiga-tiganya langsung diangkat sebagai PIC dan aku terheran-heran lagi karena mengira hanya akan ada satu PIC seperti biasa. Tetapi tak apa juga. Setidaknya kami memiliki Tania di antara mereka. Aku akan membantunya sebisaku dan aku yakin ia dapat diandalkan.

 Namun mengingat ketakutanku pada kata “menganggur” dan “free rider”, seharusnya aku langsung mencari-cari kesibukan yang dapat melepaskanku dari dua istilah yang dapat menurunkan derajat seseorang dalam komunitas sosial itu. Aku memang melakukan hal yang pantas di hari pertama, tapi tidak begitu di hari selanjutnya. Yah, pokoknya aku merasa kurang berpartisipasi.

Aku segera meminta para PIC untuk mengirimku ke lokasi kebakaran untuk mengadakan survei lapangan singkat. Aku, Eko, Rifda, Badii, Anna, Fatih, dan Kak Wanto pergi ke sana menggunakan mobil yang disupir oleh Pak Yadi (nama ini kelihatannya akan terus disebut dalam semua laporan sosialku). Kami semua mengobrol sedikit di perjalanan yang lumayan singkat itu. Dan rupanya, reaksi pertama kami sewaktu turun dari mobil adalah mengernyit mencium bau.

Seperti yang Kak Wanto katakan, Pasar Induk Kramat Jati sekarang tidak sebecek dulu lagi. Jelas-jelas ada ruko-ruko dan bangunan terbuka yang cukup luas bagi para pedagang untuk meletakkan barang dagangan mereka. Tapi hal ini tidak mengubah fakta bahwa ciri khas pasar adalah baunya yang menjijikkan. Sayur-sayur dan buah-buahan bertumpukan di atas genangan air, dikerumuni lalat. Padahal aku tidak melihat adanya tanda-tanda kebusukan pada sayur-sayuran dan buah-buahan itu. Tak tahulah mataku yang salah melihat, atau memang pedagang di sana biasa menyia-nyiakan dagangan mereka (ini tentu terdengar tidak lazim).

Truk-truk berwarna kuning diparkir di mana-mana di sekeliling bangunan. Kendaraan besar itu kadang membawa muatan yang berbau tidak sedap, kadang juga menurunkan para pekerja pasar yang berteriak-teriak tidak jelas. Aku lebih terkesan dengan sampah-sampah yang menggunung di setiap sisi pasar.

Kami diberitahukan bahwa jalan masuk terdekat ke perkampungan yang hendak kami kunjungi itu adalah dengan melewati selokan besar yang jelas-jelas tercemar limbah pasar. Untuk menyeberanginya, kami harus menunduk di bawah dinding semen yang berlubang dan melompati batu-batu kecil, naik ke jembatan kayu bambu yang lebarnya kira-kira sebesar satu ubin.

Agar lebih efektif, kami memilih untuk mencari ketua RT 07/02 itu saja ketimbang bertanya pada warga sekitar tentang penampungan korban kebakaran dan kebutuhan penyaluran bantuan. Tetapi alih-alih ketua RT, kami menemukan posko bantuan yang letaknya di samping masjid perkampungan tersebut. Di sana kami menemui Pak Madhi, selaku pengurus posko bantuan di sana.

Kepada kami, Pak Madhi menjelaskan rincian bantuan yang telah masuk dan keadaan di penampungan. Ia memberitahu kami apa saja yang diperlukan para korban pada saat itu dan bagaimana cara agar kami bisa ikut menyumbang.

Aku memperhatikan keadaan dan membuka-buka catatan pemasukan dana dan bantuan pada korban kebakaran untuk mencatat poin-poin penting yang bisa kami gunakan dalam perencanaan bakti sosial kami nantinya. Aku menanyakan beberapa hal kepada Pak Madhi dan mengobrol sedikit dengan warga sekitar yang menyapa atau yang terlihat ramah.

Sesungguhnya selama survei ini berlangsung, aku merasa canggung setiap kali berbicara pada orang-orang di sana. Mungkin karena kami orang asing atau karena perbedaan nasib yang sangat kentara, kedatangan kami yang tidak berisik pun sudah cukup menarik perhatian. Seorang ibu-ibu yang sedang menggendong balita bahkan berbicara dengan nada congkak pada kami, “Kalau mau nyumbang, nyumbang susu buat bayi aja.” Dia juga mengatakan hal-hal lain, tapi perhatianku teralih pada seorang ibu-ibu muda yang tiba-tiba berdiri di sampingku.

Lain dengan ibu yang bersikap sinis tadi, ibu yang satu ini tersenyum cukup lebar sehingga membuatku malu. Aku menganggukkan kepalaku dan menyapanya. Ia bertanya-tanya soal kunjungan kami dan bercerita sedikit mengenai kebakaran yang terjadi. Sepertinya ia hendak bercerita lebih banyak, tapi kami semua telah selesai melihat-lihat dan Kak Wanto mengajak kami untuk kembali ke mobil. Ibu tadi terus tersenyum seakan menunggu pertanyaan dariku, tapi aku malah pamit padanya dan segera melangkah pergi.

Jujur deh, aku merasa tidak enak waktu itu. Aku agak kaget karena setelah mendapat perlakuan yang agak kaku dan dingin dari warga lain, ibu muda tadi begitu ramahnya padaku. Yah, setidaknya aku tidak mengabaikannya. Tapi kalau saja aku tidak gugup waktu itu, mungkin aku bisa mendapatkan cerita yang bagus dan mendapat gambaran yang cukup mengenai masalah yang dihadapinya.

Sesampainya kami di rumah Kak Riza, aku dipersilahkan untuk memberi keterangan mengenai poin-poin hasil survei kepada teman-teman yang menunggu di saung. Jadi kukemukakan saja apapun yang ada di kepalaku sambil berharap informasi tersebut tidak sia-sia, agar informasi tersebut berguna, dan peran kami sebagai petugas inspeksi benar-benar terlaksana.

Setelah itu Rafi dan Amir membagi-bagikan tugas belanja. Aku tidak ingat aku dimasukkan ke seksi apa, tetapi sepertinya di bagian makanan. Tania saat itu sudah sibuk dengan teman-teman yang dimasukkan dalam kelompok Dana Usaha. Tak banyak lagi yang dapat dikerjakan karena jam pulang sekolah telah lewat. Kami memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan di hari Selasa.

Masalahnya, aku agak lupa ingatan soal pekerjaan di hari kedua tersebut. Aku tidak dapat mengingat banyak mengenai apa yang kukerjakan. Aku hanya ingat bahwa aku menuliskan sesuatu seperti “Posko Bantuan Korban Kebakaran Pasar Kramat Jati” di papan tulis yang diletakkan di depan rumah Kak Riza agar orang-orang yang kebetulan lewat atau yang ingin mengantarkan sumbangan dapat menemukannya dengan mudah. Aku menggambar api-api dan gambar-gambar sederhana di sana hanya untuk memberikan sentuhan yang “tidak monoton.”

Selain itu, yang kuingat hanya duduk di meja bundar dan membantu Thifal menghitung setiap dana yang masuk dan menghitung pengeluarannya. Kami tidak bisa menunggu hingga semua orang sudah menyumbang baru kemudian uang ter-sebut akan kami pakai untuk keperluan-keperluan. Jadi begitu ada barang yang harus dibeli, kami keluarkanlah dana secukupnya dari apa yang sudah terkumpul. Ini nantinya akan menyulitkan pendataan keuangan kami, tapi pada saat itu kami tak benar-benar memikirkan dampaknya. Lagipula, tak banyak pula waktu yang kami punya untuk menunggu pemasokkan dana.

Sepertinya ada hal-hal lain yang kukerjakan hari itu, tapi tak terlalu penting. Rasanya waktu itu aku sedang dalam mood yang payah. Kalau tidak salah, aku sempat membantu Kak Mira dan yang lain menuliskan daftar harga dan barang-barang yang hendak kami beli untuk disumbangkan. Hal seperti itu pun sebaiknya dipertimbangkan dulu, mengingat dana yang terbatas, kami tak boleh menentukan segalanya sembarangan. Paling tidak, semua bentuk bantuan yang kami berikan harus bermanfaat bagi para korban kebakaran.

Hari Rabu yang biasanya berfungsi sebagai hari action—di mana semua orang mengerjakan hal utama yang menjadi pokok kegiatan dalam sepekan—kali ini berubah menjadi “hari mempersiapkan segalanya” besar-besaran. Kami sibuk mengurus apapun yang dapat kami urus dan melakukan apapun yang dapat kami lakukan demi menyelesaikan segala keperluan. Sebagai gantinya, kami akan pergi ke lokasi kebakaran esok harinya.

Pada mulanya aku merasa amat bosan dan kesal ketika harus bersekolah di pagi hari (ini benar-benar membuktikan bahwa aku termasuk anak manja yang bahkan masih keberatan melangkah ke masjid meskipun masuk jam delapan. Tapi aku punya alasan), aku merasakan nyeri, ngilu, serta rasa tak nyaman yang amat menyebalkan di bagian perut dan pinggangku. Benar-benar tamu bulanan yang tak sopan. Tapi aku tahu ia akan membersihkan racun-racun dari tubuhku.

Entah bagaimana, Ustadz Duddin selalu saja memberikanku kenyamanan tersendiri yang bahkan bisa terasa hanya dengan melihatnya membagikan kertas fotokopi kumpulan haditsnya pada teman-temanku. Aku merasa agak mendingan setelah pelajaran tahfidz, tapi mood burukku berlanjut hingga aku sampai di rumah Kak Riza. Aku tidak langsung siaga dan mengulur waktu dengan duduk-duduk di samping Thifal sambil membantunya menghitung uang.

Aku heran juga karena menghitung uang rupanya bisa meringankan rasa sakitku walau tidak sungguh-sungguh hilang. Aku agak lamban dalam menghitung dan melakukan pekerjaan semacam ini membuatku lebih berkonsentrasi sehingga aku dapat melupakan sedikit rasa sakitnya dan bertahan duduk di sana.

Hal lucu yang kusadari di hari Rabu ini adalah suatu kebetulan yang hebat. Mungkin kebanyakan dari kami sedang semangat-semangatnya mengerjakan tugas (pada awalnya ini tidak berlaku buatku—seperti yang telah kusebutkan di atas), hingga orang yang memakai baju berwarna merah pada saat itu lumayan banyak jumlahnya. Semuanya ada tujuh orang: termasuk aku, Kak Mira, Devin, Thifal, Tesar, Adib, dan juga Badii. Aku menertawakan hal ini beberapa kali.

Mendekati istirahat salat Dzuhur, aku mendapat tugas membeli beberapa kardus air mineral 1.5 liter dan beberapa pak pembalut di toko dekat perumahan tempatku tinggal. Dan lagi-lagi, keperluan semacam ini pun diberikan budget terbatas sehingga aku memutuskan untuk menghubungi toko tersebut via telepon dan menanyakan harga-harga yang tersedia sebelum memesannya.

Kukira aku akan semakin tak bersemangat melewati siang, tapi yang terjadi malah hal sebaliknya. Ketika aku bosan, aku mulai membantu teman-teman dari seksi pakaian membungkus kardus-kardus berisi baju-baju bekas dengan kertas kopi berwarna cokelat. Awalnya aku masih mengerucutkan bibir karena rasa sakit di perutku masih berdenyut-denyut menyebalkan. Tetapi Rafi mengatakan sesuatu yang membuatku malu. Kurang-lebih ia berkata begini, “Kalau lagi sakit, jangan dibawa susah. Nanti makin menjadi-jadi sakitnya. Dibawa enak aja.”

Aku selalu tertawa jika sedang menghadapi Rafi. Masalah dulu, sewaktu aku sempat merasa amat kesal padanya, sudah lama hilang. Entah kalau nanti dia melakukan sesuatu yang membuatku sebal lagi. Tetapi saat ini, celetukannya yang sok bijak terdengar lucu dan memang pas sekali dengan keadaan. Sudah beberapa kali ini dia membuatku tertawa saat aku sedang bete. Jadi kupikir ini adalah suatu perubahan yang bagus sekali. Lebih baik banyak kawan daripada lawan.

Sesudah itu, kegiatan membungkus pakaian bekas terus berlanjut hingga semua pakaian yang layak pakai telah kami benahi. Aku senang sekali melihat betapa banyaknya pakaian yang terkumpul, hingga kardusnya bertumpuk-tumpuk di ruang komputer. Sungguh hebat. Aku tidak dapat menyangka jumlahnya.

Sebenarnya kami telah bekerja hingga lewat waktu pulang sekolah. Kami biasa pulang jam 2 siang, tapi kali ini aku bahkan tak tahu kapan tepatnya akan pulang. Tapi ini bukannya kali pertama kami mengalami hal seperti ini, jadi kami tidak gelisah. Sepertinya aku malah merasa sayang bila pulang lebih awal.

Karena jam makan siang tadi sudah lama lewat (sehingga perut mulai terasa lapar kembali), atau mungkin karena sedang ingin saja—Kak Syammi, Nafi, Icah, Izhar, dan Mia makan asinan di saung sambil istirahat sebentar dari pekerjaannya. Rafi, Badii, Devin, Sarah, dan beberapa anak lain juga sibuk bermain internet.

Aku dan Sarah gemas sekali dengan urusan pencatatan keuangan. Ketika semua orang menyudahkan pekerjaan dan berniat melanjutkannya esok hari, kami masih berkutat dengan bon-bon dan Microsoft Excel. Kami lelah menghitung dana yang anehnya selalu berubah jumlahnya ketika dihitung ulang. Bahkan di saat-saat kami mengira jumlahnya tak akan berubah lagi, Hisyam memberikan sumbangan tambahan sebesar empat ribu seratus rupiah. Kami sampai tergelak.

Izhar bercerita mengenai pengalamannya beserta Tesar dan Rozan ketika mereka ditugaskan berbelanja di suatu supermarket. Beberapa orang pegawai di supermarket tersebut sempat mengganggu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Mungkin karena mereka membeli banyak sekali barang, padahal terlihat seakan masih sangat muda (sehingga dianggap tak memiliki cukup uang untuk membayar semua barang), mereka dijadikan incaran lelucon para pegawai. Untungnya Tesar berhasil membalas sang pegawai dengan celetukannya yang lucu. Ini membuat si pegawai jadi tak bisa mencemooh lebih banyak lagi.

Keesokan harinya, aku kembali telat pergi ke sekolah. Padahal semua orang sudah bersiap-siap agar cepat sampai ke lokasi bencana. Sudah begitu, selain telat, aku memakai baju yang berbeda pula. Teman-teman memakai seragam sekolah. Begitu juga para mentor. Seragamku yang pertama telah lama luntur dan aku tak pernah ingat untuk memesan gantinya.

Mobil-mobil yang akan dikendarai kami rupanya sudah siap, anak-anak sudah naik ke dalamnya. Beberapa masih hiruk-pikuk mengangkut barang. Tetapi jelas-jelas aku datang di saat semua orang sudah selesai melakukan persiapan. Aku ditertawai seperti biasa karena telat. Namun aku lega karena tak ada yang marah padaku karenanya. Malahan Kak Uning memberiku seragam baru untuk dipakai sebelum aku berangkat dengan kloter terakhir.

Sebelum pergi, aku diberi amanah oleh Kak Riza berupa uang lima ratus ribu rupiah untuk dibagikan kepada anak-anak korban kebakaran. Masing-masing diberi lima ribu rupiah saja, kata Beliau. Bila ada sisa, baru dibagikan lagi.

            Rombongan kami dipandangi oleh warga sekitar pemukiman ketika kami berjalan beriringan menelusuri jalan kecil di sana. Orang-orang menanyakan dari sekolah dan daerah mana kami berasal. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sambil lewat, tidak menyempatkan diri untuk berhenti dan menjawab lebih banyak pertanyaan lagi. Aku benar-benar tidak ingin ketinggalan rombongan.

Entah bagaimana, jalan yang kulalui kemarin dulu sewaktu pertama survei terasa berbeda saat ini, ketika aku sedang melaluinya lagi bersama teman-teman yang lain. Rasanya seakan lebih panjang, dan aku menemukan detail lain yang tak kutemukan sewaktu survei. Kupikir, benar juga bahwa manusia biasa memerhati-kan sesuatu dengan lebih baik dikali kedua mereka melakukannya.

Kami semua berkumpul dulu di masjid yang letaknya di belakang posko. Atau lebih tepatnya mungkin posko itu sebenarnya adalah bagian dari masjid yang digunakan sebagai posko bantuan untuk sementara waktu ini, karena keperluan mendadak. Pada saat itu, teman-teman yang telah lebih dulu sampai sedang duduk melingkar di teras dalam masjid. Aku melihat ada makanan dan minuman ringan yang tersedia bagi kami, diletakkan di tengah-tengah lingkaran.

Kakak-kakak mentor mengobrol sebentar dengan Pak Madhi dan beberapa orang lain yang mengurus bantuan bagi korban kebakaran mengenai rencana kami berkunjung ke pengungsian hari itu. Setelah menunggu keputusan (yang agaknya menyangkut masalah teknis) mentor dan pengurus posko, aku dan teman-teman pergi keluar masjid dan mengangkut beberapa kardus berisi sumbangan dari kami untuk dibawa ke tenda pengungsian. Kardus-kardus itu nantinya akan dijadikan bukti sekaligus tanda penyerahan bantuan dari kami kepada para korban.

Walau ruangannya sempit, pada akhirnya kami semua tetap diajak masuk ke dalam tenda pengungsian yang beralaskan tikar seadanya. Tapi di tempat kami berdiri—di bagian depan atau mungkin lebih tepatnya di bagian kanan tenda yang dijadikan panggung dadakan untuk kami—pijakannya hanyalah tanah berumpun. Kardus-kardus berisi sumbangan yang telah kami angkat dari posko bertumpuk-tumpukan di belakang, menambah sempit tempat yang tersisa.

Sebagai PIC, maka Rafi diwajibkan menyerahkan bantuan secara simbolik kepada salah seorang wakil dari korban kebakaran Pasar Kramat Jati. Awalnya dia hendak memberi sambutan kecil juga, tapi Kak Syammi malah menggantikannya. Padahal aku ingin tahu apa yang akan Rafi katakan dalam pidato kecilnya (tolong sisipkan evil laugh di sini).

Waktu itu Thifal sempat mengambil gambar Rafi yang sedang berjabatan dengan cara yang menurutku cukup profesional. Bergabung bersama para korban yang duduk di tikar, ia memposisikan dirinya di bagian yang tepat dan mendapat sudut yang pas untuk memotret. Aku biasanya memilih untuk mengambil gambar seadanya saja bila keadaan terlalu ramai karena merasa malu dan segan. Tapi tak begitu dengan Thifal—ia tetap melaksanakan tugas dokumentasinya dengan baik meski harus menyusup dalam kerumunan.

Demi menyalurkan uang 500 ribu rupiah yang diamanahkan oleh Kak Riza, kami meminta izin kepada pengurus di sana untuk memisahkan korban kebakaran menjadi dua kelompok: yaitu kelompok orang tua dan anak-anak. Kami kan hanya akan membagikan sejumlah uang tadi kepada anak-anak, maka dipisahkanlah me-reka dari orang tuanya untuk menghindari keramaian yang (mungkin) terjadi saat para orang tua memastikan anaknya sudah mendapat bagian.

Aku, Thifal, Tania, Adib, dan Eko segera pergi bersama-sama ke rumah Pak Madhi. Kami telah diberi izin oleh beliau untuk melanjutkan acara sederhana kami (yang hanya diisi dengan sedikit lagu, permainan, dan sedekah) di rumahnya. Anak-anak yang telah dipanggil namanya satu-satu di pengungsian juga ikut dengan kami. Sayangnya ada banyak orang tua yang tak mau dipisahkan dengan anak mereka. Agaknya mereka sedikit penasaran karena kami sempat berulang kali meminta agar mereka bersedia meninggalkan anaknya.

Sungguh bingung ketika semua anak-anak sudah berkumpul, kami tidak tahu harus mengajak mereka bermain apa. Ide yang muncul di kepalaku hanya ide untuk mengajak mereka bernyanyi. Maka kumulai saja acara menyanyi “bersama” itu, yang berakhir seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan (metafora ini agak aneh, bukan?). Kami memang bukan penyanyi yang buruk, tapi rupanya pemirsa kami tetap kesulitan mengikuti. Kami berpikir untuk mengganti lagu, tapi sekali lagi Kak Syammi menolong muridnya yang kesulitan…

Harus aku katakan bahwa Kak Syammi memiliki bakat seorang performa, seorang entertain, yang dapat menghibur bahkan di saat orang lain bingung. Enak sekali gayanya mengajak anak-anak itu bermain. Aku kira permainan sederhana tidak akan menghibur, tapi rupanya tradisi tetap menjadi pilihan nomor satu. Dan nyanyian “kepala-pundak-lutut-kaki” yang termasyur itu pun meramaikan acara sederhana kami dengan anak-anak korban kebakaran. Aku dan kawan-kawan pun hanya bisa mengikuti alur Kak Syammi dan meramaikan seadanya—kami menjadi penggembira. Tapi aku tidak menyesal karena sebelumnya sudah berusaha.

Sewaktu adzan Dzuhur, kami berhenti sebentar untuk mendengarkan. Tidak lama setelah itu, kami pun menyudahi acara dengan anak-anak itu. Kami meminta agar mereka berbaris dan keluar dari teras rumah Pak Madhi satu-persatu dengan rapi agar kami dapat membagikan sedekah dengan mudah.

Walau sudah ditangani olehku, Sarah, dan Adib sekaligus, proses sedekah tadi masih saja kacau. Banyak orang yang kembali masuk ke area teras setelah mendapatkan bagian dengan alasan mengambil alas kaki. Satu dua orang meminta kembali bagiannya padahal mereka jelas-jelas sudah mendapatkannya. Dan yang kami coba hindari akhirnya terjadi pula—hiruk pikuk yang disebabkan oleh para orang tua yang semangat empat lima memastikan anaknya dan anak saudara serta temannya juga sudah mendapat bagian. Bisa dimengerti mengapa mereka bersikap begitu antusias atau bahkan agresif terhadap hal ini. Rasanya menyedihkan sekali melihat betapa berharganya lima ribu rupiah bagi mereka.

Kalau tidak salah, uang sedekah tadi tersisa sekitar seratus ribu lebih. Uang ini kemudian diberikan kepada Pak Madhi untuk membeli keperluan lain bagi para korban kebakaran. Bagaimana pun caranya, uang itu harus tersalurkan sepenuhnya untuk kepentingan korban (terutama anak-anak dan manula). Rasanya melegakan setelah menyelesaikan tugas. Kami pun segera kembali ke masjid pemukiman dan berkumpul dengan teman yang lain.

Tadinya kami hendak makan siang dan salat Dzuhur di masjid pemukiman, tapi kami memutuskan untuk melakukan keduanya setelah pulang ke rumah Kak Riza. Kami berpamitan dengan Pak Madhi dan rekan-rekannya seraya melangkah pergi ke arah parkiran pasar. Alhamdulillah aku sempat berpamitan pula dengan ibu-ibu yang bekerja di dapur umum, yang kutemui di hari Senin ketika survei. Ia melambai balik kepadaku dan menganggukkan kepalanya.

Di hari berikutnya, hari Jumat, kami mencoba menyelesaikan laporan yang nantinya akan diberikan kepada warga perumahan dan orang tua murid yang telah menyumbangkan dana serta pakaian bekas bagi korban kebakaran. Aku, Thifal, Sarah, dan Tania bertugas menata laporan keuangan. Karena itulah kami sangat kebingungan ketika uang sejumlah lima ratus enam puluh sembilan ribu dua ratus lima puluh tiga rupiah tak tercatat pengeluarannya (nah, panjang benar kan kalau ditulis begini). Padahal, uang tersebut sudah habis tak bersisa.

Kami telah bolak-balik meneliti daftar belanja, menghitung ulang semua pemasukan dan pengeluaran, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada sejumlah uang tadi. Untungnya kami mendapatkan jalan untuk menyelesaikan perkara ini pada akhirnya (dengan bantuan kakak-kakak mentor). Senang juga ketika kulihat surat berisi laporan kami dibagi-bagikan kepada murid dan warga perumahan tempat kami bersekolah—walau kemudian diketemukan beberapa kesalahan pengetikan di dalamnya.

Dari kegiatan bakti sosial kali ini, aku mempelajari bahwa spontanitas pun bisa menjadi terarah dan membuahkan sesuatu yang baik. Karena kami hanya me-miliki dua sampai tiga hari untuk menggalang dana dan mempersiapkan semuanya, kami hampir melakukan setiap hal dengan spontan. Namun tujuan kami yang satu dan pikiran yang terfokus pada tema “menolong korban kebakaran”, membantu kami (atau lebih tepatnya, membantuku) untuk tidak melenceng terlalu jauh dari maksud semula kegiatan kami ini.

 

 

Back To School: Halal Bihalal

Posted in School Work, social with tags , , , , , on October 17, 2008 by technowyvern

           Akhirnya hari-hari liburan menyenangkan selama tiga minggu berakhir pula. Aku kembali bersekolah pada tanggal 13 Oktober 2008. Pada saat itu aku tak mengira bahwa tema pertama yang akan kami hadapi adalah tema Sosial. Apalagi ketika dikatakan bahwa kegiatannya adalah Halal Bihalal. Aku pikir kami sudah lakukan acara itu saat kami bermaaf-maafan kemarin dulu, ketika hendak liburan.

            Rencananya di hari pertama dan kedua, anak-anak level 9 hingga 11 pergi bertandang ke rumah orangtua setiap anggotanya dengan tujuan bersilaturahim. Anak-anak dari level lain juga melakukan kegiatan yang sama. Tetapi, cara kami untuk mencapai tujuan-tujuan itulah yang berbeda. Ada yang pergi dengan naik kendaraan dan ada yang memilih untuk berjalan kaki.

            Level kami mengunjungi enam rumah di hari Senin. Rumah pertama yang kami kunjungi adalah rumah Thifal dan Rifda yang baru saja mendapatkan adik baru bernama Milhan. Kami duduk-duduk di beranda depan rumah mereka sambil menunggu Tante Tita—Umi Thifal—yang sedang dipanggilkan.

            Kami pun meminta maaf kepada Tante Tita dan Nenek Thifal. Siapa tahu kami pernah membuat keributan atau membuat rumahnya berantakan saat kami melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sana. Kami mengobrol sebentar dan makan cheese cake serta minum sirup jeruk. Kami juga sempat melihat Milhan. Milhan kelihatan amat sehat dan beratnya ketika lahir pun mencapai tiga koma sembilan kilogram. Dia sedang tidur saat itu.

            Rumah kedua yang kami kunjungi adalah rumahku. Letaknya tidak jauh dari rumah Thifal dan Rifda. Tetapi rupanya anak-anak level 2 (adikku Ihsan dan teman-temannya yang lain) serta Kak Wulan sedang berada di rumahku juga. Mama yang tadinya hendak menjemput Azzam di TKIT akhirnya tak jadi pergi. “Azzam bisa dijemput Pak Yadi,” katanya.

            Kami duduk melingkar di lantai ruang tamu tengah. Mama menyuguhkan kue-kue kering juga lapis legit dan sirup untuk kami. Mama pun bercerita tentang Ihsan yang pergi memancing ikan dan menangkap ubur-ubur. Ihsan menanggapi dengan ikut bercerita dengan nada bicaranya yang cepat seperti biasa.

            Setelah kami rasa cukup, kami berpamitan dan pergi lagi ke rumah Tania. Di sana kami bertemu Tante Ratna yang ternyata telah menyiapkan makan siang untuk kami semua. Maka kami pun makanlah di rumahnya setelah meminta maaf terlebih dahulu dan bercakap-cakap tentang ini dan itu.

            Sewaktu Dzuhur, anak-anak perempuan level kami salat di rumah Tante Ratna, berjamaah dan diimami oleh beliau. Sementara itu anak-anak laki-laki salat di masjid seperti biasa, baru kemudian mereka semua kembali ke rumah tersebut untuk makan siang bersama.

            Ketika sedang menunggu yang lain selesai menyantap hidangan, Adib tertidur pulas di ruang tamu rumah Tania. Aku bingung melihat gaya tidurnya yang berkesan santai walau tidur di rumah orang lain. Itu sepertinya akibat puasa di hari yang terik oleh matahari dan lelah karena harus berjalan kaki sepanjang puluhan meter (jika dihitung setiap rute yang kami ambil) untuk mengunjungi tiap rumah anggota level kami yang memungkinkan untuk dikunjungi. Aku pikir dia akan segera dibangunkan, tapi kami malah hampir meninggalkannya.

Aku minum sirup markisa hingga dua cangkir setelah selesai makan. Aku rasa aku memang mudah sekali kehausan. Dan kenyataan bahwa tas-tas kami tak kami bawa serta selama perjalanan membuat minuman yang disediakan di setiap rumah adalah pembasmi rasa haus dan gerah yang menyiksa kami (di sini kita dapat mempelajari majas hiperbola yang berarti melebih-lebihkan).

Kami segera pergi menuju rumah Yahya setelah berpamitan dengan Tante Ratna. Tetapi sebelum kami sampai ke jalan menanjak tempat pintu gerbang hijau perumahan Griya Tugu Asri berdiri ramah dengan segala kesederhanaan dan juga kerapuhannya, aku menyempatkan diri berlari pulang ke rumah karena ada suatu alasan dan perkara yang tidak bisa ditunda.

Aku kira aku telah ditinggal oleh yang lainnya karena aku tidak banyak menjelaskan kenapa aku berbelok ke rumahku. Aku hanya berlari-lari kecil sambil melambaikan tangan dan berseru, “Ntar aja! Gampang,” ketika Kak Mira bertanya apakah aku ingin mereka menunggu. Walau berkata begitu, aku bersyukur teman-teman bersedia menungguku karena sesungguhnya aku tidak tahu di mana letak rumah Yahya. Tadinya aku berpikir aku mungkin bisa menyusul mereka sebelum mereka hilang di pertigaan jalan.

Sesampainya kami di rumah Yahya, aku duduk di ruang tamu bersama anak-anak perempuan lainnya sementara anak-anak laki-laki menunggu di teras. Aku menyangka Umi Yahya—Bu Fathonah, mantan guruku sewaktu SD—sedang ada di rumah. Jadi aku menunggunya, tapi ternyata beliau tidak ada. Kami sempat bermaafan dengan seorang ibu yang sudah lanjut usia, tapi aku tidak tahu apakah ia adalah Nenek Yahya atau bukan.

Kami menyeberang ke gang kecil di sebelah mini market dan berjalan terus mengikuti jalan kecil melalui kawasan Nurul Fikri, kemudian berbelok ke perumahan Timah, untuk kemudian menuju ke rumah Syafiq yang teduh dan letaknya tepat di samping masjid Baitul Qur’an.

Sungguh lega ketika kami akhirnya sampai di rumah tersebut. Tetapi Umi Syafiq sedang ada tamu lain pada saat itu dan kami tak bisa langsung bercakap-cakap dengan beliau. Maka kami melihat-lihat marmot dan kelinci peliharaan Syafiq dan saudara-saudaranya terlebih dulu. Marmot-marmot itu lucu sekali dan kelihatan cukup aktif. Kelinci-kelincinya gemuk, berbulu putih dengan pola-pola bulat hitam seperti pada sapi. Pasti akan lebih menyenangkan jika saja aku dapat melihat mereka di alam bebas.

            Setelah kami selesai makan mangga dan minum sirup yang disuguhkan oleh Umi Syafiq, perjalanan kami lanjutkan lagi ke rumah Sarah. Kami bertemu dengan ibunya dan kakak-kakak mentor bercakap sedikit dengannya. Saat itu aku mencicipi kue-kue yang disediakan di meja dan sempat menanyakan pula pada Umi Sarah mengenai anak-anaknya. Kebetulan kakak Sarah yang paling sulung, Marwah, adalah teman sekolahku di SMP dan ketika masih kelas satu SMA.

            Begitulah kegiatan silaturahim yang kami lakukan dan tak kami lanjutkan lagi di hari kedua karena kurangnya waktu yang kami punya untuk menyelesaikan persiapan acara Halal Bihalal yang akan dilaksanakan pada hari Rabu.

            Kami semua telah memutuskan bahwa PIC atau person in charge kali ini adalah Sarah. Selain itu kami juga menentukan penanggung jawab untuk keper-luan konsumsi, perlengkapan, permainan, dan sebagainya. Aku sendiri terpilih (lewat hompimpah) sebagai MC acara Halal Bihalal bersama Thifal.

            Masalah konsumsi, sedapat mungkin kami tak boleh merepotkan orang tua, jadi diputuskanlah untuk membawa cemilan, makanan ringan, kue kering, atau apa saja yang ada di rumah dan dapat dengan mudah dipersiapkan oleh kami serta orang tua kami. Selain itu anak-anak diperkenankan membawa uang untuk berjaga-jaga apabila harus membeli sesuatu nantinya. Lalu perihal minuman pun kami meminta setiap anak untuk membawanya langsung dari rumah.

            Hari Rabu pagi aku telat bangun karena tidurku tidak nyenyak. Aku sudah merencanakan untuk tetap mengikuti tahfidz di masjid, tapi pada akhirnya aku tak sempat ke sana. Aku ditelepon oleh Kak Mira dan diminta untuk mengirim supir dan mobil ke rumah Kak Riza untuk mengangkut barang-barang.

            Aku dan sejumlah anak lainnya harus menunggu mobilku dan mobil Pak Nunu kembali dari mengantar murid-murid lain ke lokasi acara di taman yang berseberangan dengan masjid kampus, dipisahkan oleh danau yang cukup luas dan pemandangan yang bagus.

            Ketika aku dan teman-teman yang berangkat paling akhir telah sampai di lokasi acara, aku melihat murid-murid lainnya sudah duduk rapi mengitari pohon yang rimbun di samping danau. Kak Mira dan Thifal juga sudah mulai mengajari anak-anak salah satu permainan ice breaking yang kami rencanakan. Dan mereka mulai menyanyikan lagunya.

 

I want to be your friend, a little bit more. I want to be your friend, a little bit more. I want to be your friend, a little bit more. I want to be your friend, a little bit more. A little bit, a little bit, a little bit more.”

           

            Wah, kupikir. Tidak enak juga kalau Kak Mira sampai menggantikan aku mengajari anak-anak permainan itu. Tetapi aku memilih untuk melakukan tugas dokumentasi saja hingga mereka berdua selesai. Aku merasa tidak percaya diri untuk langsung mengambil alih sebagai pembawa acara. Aku meminjam kamera Kak Fira dan mengarahkan lensa pada anak-anak yang sibuk meniru gerakan Kak Mira dan Thifal sambil bernyanyi.

            Kemudian aku berdiri di depan bersama Thifal dan melaksanakan tugasku sebagai MC. Aku melakukan pembukaan singkat yang agak canggung karena baru kurencanakan pagi-pagi setelah salat Subuh. Memang persiapan dan pelaksanaan acara yang terburu-buru selalu saja jadi kelemahanku. Apalagi aku demam pang-gung sejak dulu. Jadi mungkin aku terdengar agak kaku.

            Setelah pembukaan, sesi selanjutnya adalah sambutan dari ketua panitia atau PIC. Aku dan Thifal memanggilkan Sarah untuk maju ke depan. Tetapi dia rupanya lupa membawa teks sambutan yang telah dia buat. Ia belum hafal isinya karena kalau tidak salah, dia memang baru sempat menyiapkannya pada malam sebelumnya. Namun kami sudah terlanjur memintanya memberikan sambutan di depan, jadi apa boleh buat—bangkitlah ia dari duduknya.

            Sarah memang gugup saat itu, tapi dia menuturkan sambutan dengan baik. Kalau saja ia tak berkali-kali menoleh pada kami dan bertanya, “Terus apa lagi,” orang mungkin tak akan tahu bahwa ia belum siap memberikan sambutan. Aku dan teman-teman putri dari level 8 saja sempat bertepuk tangan ketika mendengar kalimat-kalimat awal Sarah dalam sambutannya tersebut.

            Setelah itu, kami bermain macam-macam permainan. Penanggung jawab-nya adalah Rifda dan Icah serta Adib dan Eko. Aku, Thifal, Yahya, Syafiq, Sarah, dan Tesar hanya membantu mereka menjelaskan cara bermain.

            Permainan berlangsung seru di pihak laki-laki tapi berjalan agak lambat dan membosankan di pihak anak perempuan. Rupanya beberapa permainan agak sulit dimengerti oleh adik-adik dari level kecil. Adzan pun berkumandang ketika anak-anak perempuan baru paham bagaimana cara bermainnya. Maka dibubarkan-lah permainan. Sebagian besar anak mengambil peralatan salat dan langsung lari ke masjid lewat jalan memutar.

            Teman-temanku ternyata memilih untuk makan siang terlebih dulu, baru kemudian salat Dzuhur. Aku tidak ingin pergi ke masjid sendirian, jadi aku ingin ikut mereka makan siang. Tapi Kak Mira mengajakku salat dan aku pun ikut saja dengannya. Toh aku merasa tak nyaman jika salat belakangan. Yah, sebenarnya aku hanya butuh seseorang untuk menemaniku ke masjid.

            Kemudian ketika hendak mengambil wudhu, aku melihat seorang mantan kakak kelasku dulu sewaktu aku masih bersekolah di NF. Kak Farah namanya. Sepertinya dialah yang mengujiku masuk OSIS ketika SMP. Dan aku ingat betul ketika ia mengimami salat Maghrib berjamaah murid-murid perempuan di acara masa orientasi siswa baru.

            Aku dan Kak Farah mengobrol sebentar sebelum aku naik ke lantai dua masjid kampus untuk salat. Ternyata Kak Farah kuliah di jurusan Psikologi UI. Pantas saja dia semangat ketika aku bilang aku sedang tertarik bidang psikologi. Ia mengatakan padaku bahwa pelajaran yang didapatnya amat seru—mirip dengan respon yang diberikan seorang seniorku dari Karang Taruna.

            Begitu selesai salat, aku ingin cepat-cepat kembali ke lokasi acara agar dapat merasakan angin yang berhembus di atas permukaan danau yang tenang. Udara di jalan dan di lingkungan masjid terasa amat panas. Aku kehausan dan berharap bisa meminum sesuatu yang dingin, tapi aku lupa membawa dompet ke masjid. Dompet itu aku tinggalkan di tasku di tempat kami melangsungkan acara. Aku menyesal sekali.

            Teman-teman yang lain membeli teh kotak di toko buku di depan masjid. Seorang kakak mentor mentraktir mereka. Aku merasa tidak enak ingin meminta satu untukku, tapi akhirnya aku katakan juga. Sayang uangnya hanya cukup untuk membelikan empat teh kotak, jadi aku tidak kebagian. Namun Kak Mira mengalah untukku dan aku pun berhutang Rp2.500 padanya dan Kak Wulan.

            Setelah selesai makan siang, acara kami lanjutkan dengan pentas seni. Aku membawakan acara sendirian setelah istirahat makan siang karena Thifal harus pulang lebih awal untuk pergi ke dokter. Aku pun berusaha untuk membawa acara dengan santai, tapi jatuhnya canggung juga.

            Level yang tampil pertama adalah level 1 yang menampilkan nasyid berjudul Alhamdulillah dari Opick. Mereka agak malu-malu menyanyikannya, tetapi suara mereka terdengar jelas dan nada lagunya pun sudah pas.

Lalu tampilah level 2 yang menampilkan puppet show. Salwa menjadi narator sementara teman-temannya menjadi dalang yang menggerakkan boneka-boneka dari balik kain sarung.

Asad dan kawan-kawannya dari level 3 mempertunjukkan kebolehan me-reka membawakan dua buah nasyid dari Shaoutul Harokah. Sayang sekali anak-anak perempuannya hanya mengiringi dan tidak ikut bernyanyi.

Langit mulai mendung dan cuaca menjadi berangin. Acara yang masih cukup panjang akhirnya dipersingkat dan kami langsung melompat ke sesi tukar kado. Semua anak sudah diingatkan sebelumnya untuk membawa kado dengan harga minimal Rp5.000 tanpa batasan maksimal tertentu.

Begitu aku mengumumkan acara tukar kado, anak-anak langsung berteriak senang dan bertepuk tangan ramai. Padahal mereka terlihat lemas di acara pentas seni dan tak banyak memberikan apresiasi bagi teman-temannya yang tampil. Aku sungguh amat terkesan dengan fakta bahwa anak-anak kecil hanya membutuhkan sedikit alasan untuk berbahagia.

Anak-anak perempuan terburu-buru berbaris rapi, berjajar ke belakang, menunggu gilirannya mengambil kertas undian. Anak-anak laki-laki entah sangat bersemangat atau bagaimana: mereka berbaris rapi pada mulanya, tetapi segera berkerumun lagi mengitari tumpukan kado dan menatap teman-temannya yang mengambil undian dengan penuh antusiasme.

Aku lega karena sebentar lagi acara akan ditutup dan selesailah tugasku sebagai MC tunggal. Namun aku sebenarnya merasa senang juga bisa melakukan tugas yang biasanya tak diberikan orang kepadaku. Walau membutuhkan arahan dan tips-tips yang lebih banyak mengenai cara-cara yang menyenangkan untuk membawakan acara, aku bukanlah pilihan yang buruk untuk diamanahi tugas ini (atau begitulah pikirku).

Karena aku terus berkeliling dan mengingatkan orang-orang untuk, “buang sampah di tempatnya, ya,” dan “tolong dibereskan barang-barangnya,” serta “kita operasi semut setelah ini,” juga “kadonya dibuka kalau semuanya sudah dapat bagian”—maka aku menjadi orang terakhir yang menarik undian tukar kado.

Aku mendapat kado nomor 27 berbungkus kertas kado warna biru. Kado yang kubawa diberi nomor 12 dan akhirnya menjadi milik Zurai. Aku berharap kado gantungan boneka dariku itu dapat melegakan hatinya (atau paling tidak tak akan merusak kegembiraannya bertukar kado). Aku khawatir karena aku rasa aku tidak begitu pandai memilih kado ataupun tahu betul benda apa yang bisa diterima oleh anak perempuan dengan kisaran usia 7 hingga 16 tahun.

Kak Arie diminta untuk menutup acara setelah sesi tukar kado selesai dan anak-anak selesai membersihkan sampah di sekitar lokasi acara. Kami pun berdiri dalam formasi lingkaran dan berdoa bersama. Lagi-lagi Sarah, selaku PIC, kami tunjuk untuk memberikan kesan-pesan terakhir sebelum acara usai.

Mobil jemputan pun berdatangan dan barang-barang diangkut ke dalam bagasi. Anak-anak yang lebih muda diberikan kesempatan pulang lebih awal. Aku dan anak-anak lain yang lebih tua mengalah dan menunggu sangat lama sampai bisa pulang kembali ke rumah Kak Riza.

Sebenarnya supirku (supir keluargaku—bukan supirku pribadi), Pak Yadi, diminta oleh Mama untuk menjemput adikku di SMP. Tetapi kami semua masih menunggu giliran untuk pulang dan mobil yang ada hanya mobil yang dikendarai Pak Nunu dan mobilku (oke, itu mobil Ayahku, tapi tak apalah disebut sebagai mobilku juga. Aku kan tidak menyatakan bahwa mobil itu benar-benar milikku. Aku hanya memakainya kalau perlu).

Sambil menunggu kendaraan, kami yang masih tertinggal di halaman luas universitas bermain-main sendiri untuk mengusir jenuh. Aku meminjam kamera milik Kak Fira dan meminta tolong kakak-kakak mentor untuk mengambil gam-barku dan teman-teman putri level 8 hingga 10 yang sedang bergaya.

Angin yang berhembus kencang menghilangkan penat dan rasa bosan yang melanda kami. Duduk di pinggiran danau, di atas gundukan tanah yang hijau oleh rumput; kami mengobrol dan bercanda, menikmati sore hari. Kami makan es krim tiga rasa (vanilla, cokelat, dan stoberi) sisa makan siang tadi yang dibelikan oleh Kak Riza, yang sudah tercampur aduk karena meleleh. Namun rasanya tetap enak dan dinginnya masih dapat menyegarkan tenggorokan kami.

Pak Yadi akhirnya datang dan menunggu di tempat parkir. Aku pikir kami akan segera pulang setelah ini, tapi nyatanya aku, Rifda, Izhar, Kak Mira, Eko, Tesar, Kak Arie, dan Yahya harus menunggu cukup lama lagi karena kedua mobil yang menjemput tadi sudah penuh.

Jadilah kami berdelapan duduk-duduk di bawah pohon rindang di dekat Balairung dengan ditemani Kak Wanto yang walaupun membawa motor, tetap menunggui kami dan bahkan membelikan kami air mineral dingin.

Aku tidak yakin berapa lama kami berada di sana. Yang jelas, adzan Ashar telah berkumandang sejak lama dan beberapa mahasiswa telah berjalan melewati kami untuk pulang ke rumah. Aku sampai pasrah dan tak memiliki keinginan untuk menghubungi siapa-siapa lagi walau untuk sekedar menanyakan keberadaan Pak Yadi dan mobilku.

Alhamdulillah, Pak Yadi datang juga menjemput kami bersama Ihsan yang telah berganti baju. Kami langsung berkendara kembali ke perumahan Griya Tugu Asri setelah Kak Mira turun di lingkunan fakultas hukum. Kami sudah tak banyak berkata-kata di jalan karena lelah dan aku tak bisa memikirkan hal lain kecuali untuk segera mandi dan beristirahat.

Begitulah. Tiga hari yang penuh kegiatan.

DRIVING LESSON

Posted in pesan sosial with tags , , , on April 24, 2008 by technowyvern

Everyone needs to learn about the safe way of driving .. especially if they ride a motorbike. Well we can learn, we hope, from the story below:

Izhar has only learned how to ride a motorbike. He ride carelessly and he didn’t even wear his helmet.

As he reached a turn, he brushed against a pavement and got out from the road.

 

His motorbike kept moving. In panic, he accidentally bumped on a tree.

He fell down from his ride and hit the ground. His forehead was bleeding. Luckily for him, people who saw him lying on the ground, brought him to the hospital.

A few days later, Izhar had felt better. So he tried to ride on his motorbike again. But this time, he wore his helmet and he rode the bike carefully.

He promised he won’t ignore his safety anymore. And so finally, he reached the destination securely.