Archive for bakti sosial

Menolong Korban Kebakaran Ps. Kramat Jati

Posted in School Work, social with tags , , , on December 22, 2008 by technowyvern

Pada hari Ahad, 23 November 2008, terjadi kebakaran di perkampungan dekat pasar Kramat Jati yang menyebabkan hilangnya tempat tinggal bagi 391 jiwa yang bermukim di sana. Peristiwa tersebut diberitakan di televisi dan dimuat di koran, tapi aku baru mengetahuinya setelah para mentor menjelaskan bahwa kami semua (murid level 6 hingga 11) akan menolong korban-korban bencana tersebut pada pekan sosial kali ini.

            Seperti biasa, hari Senin kami semua berkumpul di saung. Aku agak heran juga ketika sampai ke teras belakang dan melihat banyaknya orang yang duduk mendengarkan Kak Syami berbicara. Setelah pelajaran tahfidz, aku tidak langsung pergi ke rumah Kak Riza dan sarapan dulu di rumahku. Makanya sewaktu melihat keadaan itu, aku jadi bingung. Aku kira tak akan ada tempat duduk buatku.

            Begitu kami disuruh menentukan PIC (person in charge), secara kompak, kami semua menegang. Aku merasa bersemangat walaupun gelisah juga. Dan Kak Riza menanti hingga ada yang bersedia mengajukan diri sebagai PIC, dan kakak mentor yang lain pun menunggu, dan kami semua pun menunggu.

Aku sampai frustasi karena tak ada yang tunjuk tangan. Kebanyakan malah menunjuk temannya atau memilih untuk diam sama sekali. Aku hampir saja mau menyalonkan diri, tapi aku sangat ingin seorang murid laki-laki yang memimpin kami untuk kegiatan ini. Jadi aku terus mengurungkan niatku.

Di saat-saat terakhir, Rafi bangkit dari duduknya dan menuliskan namanya di papan tulis sebagai tanda bahwa ia mengajukan diri. Kemudian Amir pun ikut menuliskan namanya, padahal ia ada kesibukan lain untuk pekan ini (entah robot atau roket air yang dikerjakannya). Lalu, karena Kak Riza memang menginginkan tiga nama untuk PIC, Tania bergerak cepat menuliskan namanya di depan. Sudah pasti ia kesal karena anak-anak lelaki yang mestinya bisa memimpin malah tidak mengajukan nama. Aku juga merasakan kekecewaan yang sama.

Setelah tiga nama terkumpul, ketiga-tiganya langsung diangkat sebagai PIC dan aku terheran-heran lagi karena mengira hanya akan ada satu PIC seperti biasa. Tetapi tak apa juga. Setidaknya kami memiliki Tania di antara mereka. Aku akan membantunya sebisaku dan aku yakin ia dapat diandalkan.

 Namun mengingat ketakutanku pada kata “menganggur” dan “free rider”, seharusnya aku langsung mencari-cari kesibukan yang dapat melepaskanku dari dua istilah yang dapat menurunkan derajat seseorang dalam komunitas sosial itu. Aku memang melakukan hal yang pantas di hari pertama, tapi tidak begitu di hari selanjutnya. Yah, pokoknya aku merasa kurang berpartisipasi.

Aku segera meminta para PIC untuk mengirimku ke lokasi kebakaran untuk mengadakan survei lapangan singkat. Aku, Eko, Rifda, Badii, Anna, Fatih, dan Kak Wanto pergi ke sana menggunakan mobil yang disupir oleh Pak Yadi (nama ini kelihatannya akan terus disebut dalam semua laporan sosialku). Kami semua mengobrol sedikit di perjalanan yang lumayan singkat itu. Dan rupanya, reaksi pertama kami sewaktu turun dari mobil adalah mengernyit mencium bau.

Seperti yang Kak Wanto katakan, Pasar Induk Kramat Jati sekarang tidak sebecek dulu lagi. Jelas-jelas ada ruko-ruko dan bangunan terbuka yang cukup luas bagi para pedagang untuk meletakkan barang dagangan mereka. Tapi hal ini tidak mengubah fakta bahwa ciri khas pasar adalah baunya yang menjijikkan. Sayur-sayur dan buah-buahan bertumpukan di atas genangan air, dikerumuni lalat. Padahal aku tidak melihat adanya tanda-tanda kebusukan pada sayur-sayuran dan buah-buahan itu. Tak tahulah mataku yang salah melihat, atau memang pedagang di sana biasa menyia-nyiakan dagangan mereka (ini tentu terdengar tidak lazim).

Truk-truk berwarna kuning diparkir di mana-mana di sekeliling bangunan. Kendaraan besar itu kadang membawa muatan yang berbau tidak sedap, kadang juga menurunkan para pekerja pasar yang berteriak-teriak tidak jelas. Aku lebih terkesan dengan sampah-sampah yang menggunung di setiap sisi pasar.

Kami diberitahukan bahwa jalan masuk terdekat ke perkampungan yang hendak kami kunjungi itu adalah dengan melewati selokan besar yang jelas-jelas tercemar limbah pasar. Untuk menyeberanginya, kami harus menunduk di bawah dinding semen yang berlubang dan melompati batu-batu kecil, naik ke jembatan kayu bambu yang lebarnya kira-kira sebesar satu ubin.

Agar lebih efektif, kami memilih untuk mencari ketua RT 07/02 itu saja ketimbang bertanya pada warga sekitar tentang penampungan korban kebakaran dan kebutuhan penyaluran bantuan. Tetapi alih-alih ketua RT, kami menemukan posko bantuan yang letaknya di samping masjid perkampungan tersebut. Di sana kami menemui Pak Madhi, selaku pengurus posko bantuan di sana.

Kepada kami, Pak Madhi menjelaskan rincian bantuan yang telah masuk dan keadaan di penampungan. Ia memberitahu kami apa saja yang diperlukan para korban pada saat itu dan bagaimana cara agar kami bisa ikut menyumbang.

Aku memperhatikan keadaan dan membuka-buka catatan pemasukan dana dan bantuan pada korban kebakaran untuk mencatat poin-poin penting yang bisa kami gunakan dalam perencanaan bakti sosial kami nantinya. Aku menanyakan beberapa hal kepada Pak Madhi dan mengobrol sedikit dengan warga sekitar yang menyapa atau yang terlihat ramah.

Sesungguhnya selama survei ini berlangsung, aku merasa canggung setiap kali berbicara pada orang-orang di sana. Mungkin karena kami orang asing atau karena perbedaan nasib yang sangat kentara, kedatangan kami yang tidak berisik pun sudah cukup menarik perhatian. Seorang ibu-ibu yang sedang menggendong balita bahkan berbicara dengan nada congkak pada kami, “Kalau mau nyumbang, nyumbang susu buat bayi aja.” Dia juga mengatakan hal-hal lain, tapi perhatianku teralih pada seorang ibu-ibu muda yang tiba-tiba berdiri di sampingku.

Lain dengan ibu yang bersikap sinis tadi, ibu yang satu ini tersenyum cukup lebar sehingga membuatku malu. Aku menganggukkan kepalaku dan menyapanya. Ia bertanya-tanya soal kunjungan kami dan bercerita sedikit mengenai kebakaran yang terjadi. Sepertinya ia hendak bercerita lebih banyak, tapi kami semua telah selesai melihat-lihat dan Kak Wanto mengajak kami untuk kembali ke mobil. Ibu tadi terus tersenyum seakan menunggu pertanyaan dariku, tapi aku malah pamit padanya dan segera melangkah pergi.

Jujur deh, aku merasa tidak enak waktu itu. Aku agak kaget karena setelah mendapat perlakuan yang agak kaku dan dingin dari warga lain, ibu muda tadi begitu ramahnya padaku. Yah, setidaknya aku tidak mengabaikannya. Tapi kalau saja aku tidak gugup waktu itu, mungkin aku bisa mendapatkan cerita yang bagus dan mendapat gambaran yang cukup mengenai masalah yang dihadapinya.

Sesampainya kami di rumah Kak Riza, aku dipersilahkan untuk memberi keterangan mengenai poin-poin hasil survei kepada teman-teman yang menunggu di saung. Jadi kukemukakan saja apapun yang ada di kepalaku sambil berharap informasi tersebut tidak sia-sia, agar informasi tersebut berguna, dan peran kami sebagai petugas inspeksi benar-benar terlaksana.

Setelah itu Rafi dan Amir membagi-bagikan tugas belanja. Aku tidak ingat aku dimasukkan ke seksi apa, tetapi sepertinya di bagian makanan. Tania saat itu sudah sibuk dengan teman-teman yang dimasukkan dalam kelompok Dana Usaha. Tak banyak lagi yang dapat dikerjakan karena jam pulang sekolah telah lewat. Kami memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan di hari Selasa.

Masalahnya, aku agak lupa ingatan soal pekerjaan di hari kedua tersebut. Aku tidak dapat mengingat banyak mengenai apa yang kukerjakan. Aku hanya ingat bahwa aku menuliskan sesuatu seperti “Posko Bantuan Korban Kebakaran Pasar Kramat Jati” di papan tulis yang diletakkan di depan rumah Kak Riza agar orang-orang yang kebetulan lewat atau yang ingin mengantarkan sumbangan dapat menemukannya dengan mudah. Aku menggambar api-api dan gambar-gambar sederhana di sana hanya untuk memberikan sentuhan yang “tidak monoton.”

Selain itu, yang kuingat hanya duduk di meja bundar dan membantu Thifal menghitung setiap dana yang masuk dan menghitung pengeluarannya. Kami tidak bisa menunggu hingga semua orang sudah menyumbang baru kemudian uang ter-sebut akan kami pakai untuk keperluan-keperluan. Jadi begitu ada barang yang harus dibeli, kami keluarkanlah dana secukupnya dari apa yang sudah terkumpul. Ini nantinya akan menyulitkan pendataan keuangan kami, tapi pada saat itu kami tak benar-benar memikirkan dampaknya. Lagipula, tak banyak pula waktu yang kami punya untuk menunggu pemasokkan dana.

Sepertinya ada hal-hal lain yang kukerjakan hari itu, tapi tak terlalu penting. Rasanya waktu itu aku sedang dalam mood yang payah. Kalau tidak salah, aku sempat membantu Kak Mira dan yang lain menuliskan daftar harga dan barang-barang yang hendak kami beli untuk disumbangkan. Hal seperti itu pun sebaiknya dipertimbangkan dulu, mengingat dana yang terbatas, kami tak boleh menentukan segalanya sembarangan. Paling tidak, semua bentuk bantuan yang kami berikan harus bermanfaat bagi para korban kebakaran.

Hari Rabu yang biasanya berfungsi sebagai hari action—di mana semua orang mengerjakan hal utama yang menjadi pokok kegiatan dalam sepekan—kali ini berubah menjadi “hari mempersiapkan segalanya” besar-besaran. Kami sibuk mengurus apapun yang dapat kami urus dan melakukan apapun yang dapat kami lakukan demi menyelesaikan segala keperluan. Sebagai gantinya, kami akan pergi ke lokasi kebakaran esok harinya.

Pada mulanya aku merasa amat bosan dan kesal ketika harus bersekolah di pagi hari (ini benar-benar membuktikan bahwa aku termasuk anak manja yang bahkan masih keberatan melangkah ke masjid meskipun masuk jam delapan. Tapi aku punya alasan), aku merasakan nyeri, ngilu, serta rasa tak nyaman yang amat menyebalkan di bagian perut dan pinggangku. Benar-benar tamu bulanan yang tak sopan. Tapi aku tahu ia akan membersihkan racun-racun dari tubuhku.

Entah bagaimana, Ustadz Duddin selalu saja memberikanku kenyamanan tersendiri yang bahkan bisa terasa hanya dengan melihatnya membagikan kertas fotokopi kumpulan haditsnya pada teman-temanku. Aku merasa agak mendingan setelah pelajaran tahfidz, tapi mood burukku berlanjut hingga aku sampai di rumah Kak Riza. Aku tidak langsung siaga dan mengulur waktu dengan duduk-duduk di samping Thifal sambil membantunya menghitung uang.

Aku heran juga karena menghitung uang rupanya bisa meringankan rasa sakitku walau tidak sungguh-sungguh hilang. Aku agak lamban dalam menghitung dan melakukan pekerjaan semacam ini membuatku lebih berkonsentrasi sehingga aku dapat melupakan sedikit rasa sakitnya dan bertahan duduk di sana.

Hal lucu yang kusadari di hari Rabu ini adalah suatu kebetulan yang hebat. Mungkin kebanyakan dari kami sedang semangat-semangatnya mengerjakan tugas (pada awalnya ini tidak berlaku buatku—seperti yang telah kusebutkan di atas), hingga orang yang memakai baju berwarna merah pada saat itu lumayan banyak jumlahnya. Semuanya ada tujuh orang: termasuk aku, Kak Mira, Devin, Thifal, Tesar, Adib, dan juga Badii. Aku menertawakan hal ini beberapa kali.

Mendekati istirahat salat Dzuhur, aku mendapat tugas membeli beberapa kardus air mineral 1.5 liter dan beberapa pak pembalut di toko dekat perumahan tempatku tinggal. Dan lagi-lagi, keperluan semacam ini pun diberikan budget terbatas sehingga aku memutuskan untuk menghubungi toko tersebut via telepon dan menanyakan harga-harga yang tersedia sebelum memesannya.

Kukira aku akan semakin tak bersemangat melewati siang, tapi yang terjadi malah hal sebaliknya. Ketika aku bosan, aku mulai membantu teman-teman dari seksi pakaian membungkus kardus-kardus berisi baju-baju bekas dengan kertas kopi berwarna cokelat. Awalnya aku masih mengerucutkan bibir karena rasa sakit di perutku masih berdenyut-denyut menyebalkan. Tetapi Rafi mengatakan sesuatu yang membuatku malu. Kurang-lebih ia berkata begini, “Kalau lagi sakit, jangan dibawa susah. Nanti makin menjadi-jadi sakitnya. Dibawa enak aja.”

Aku selalu tertawa jika sedang menghadapi Rafi. Masalah dulu, sewaktu aku sempat merasa amat kesal padanya, sudah lama hilang. Entah kalau nanti dia melakukan sesuatu yang membuatku sebal lagi. Tetapi saat ini, celetukannya yang sok bijak terdengar lucu dan memang pas sekali dengan keadaan. Sudah beberapa kali ini dia membuatku tertawa saat aku sedang bete. Jadi kupikir ini adalah suatu perubahan yang bagus sekali. Lebih baik banyak kawan daripada lawan.

Sesudah itu, kegiatan membungkus pakaian bekas terus berlanjut hingga semua pakaian yang layak pakai telah kami benahi. Aku senang sekali melihat betapa banyaknya pakaian yang terkumpul, hingga kardusnya bertumpuk-tumpuk di ruang komputer. Sungguh hebat. Aku tidak dapat menyangka jumlahnya.

Sebenarnya kami telah bekerja hingga lewat waktu pulang sekolah. Kami biasa pulang jam 2 siang, tapi kali ini aku bahkan tak tahu kapan tepatnya akan pulang. Tapi ini bukannya kali pertama kami mengalami hal seperti ini, jadi kami tidak gelisah. Sepertinya aku malah merasa sayang bila pulang lebih awal.

Karena jam makan siang tadi sudah lama lewat (sehingga perut mulai terasa lapar kembali), atau mungkin karena sedang ingin saja—Kak Syammi, Nafi, Icah, Izhar, dan Mia makan asinan di saung sambil istirahat sebentar dari pekerjaannya. Rafi, Badii, Devin, Sarah, dan beberapa anak lain juga sibuk bermain internet.

Aku dan Sarah gemas sekali dengan urusan pencatatan keuangan. Ketika semua orang menyudahkan pekerjaan dan berniat melanjutkannya esok hari, kami masih berkutat dengan bon-bon dan Microsoft Excel. Kami lelah menghitung dana yang anehnya selalu berubah jumlahnya ketika dihitung ulang. Bahkan di saat-saat kami mengira jumlahnya tak akan berubah lagi, Hisyam memberikan sumbangan tambahan sebesar empat ribu seratus rupiah. Kami sampai tergelak.

Izhar bercerita mengenai pengalamannya beserta Tesar dan Rozan ketika mereka ditugaskan berbelanja di suatu supermarket. Beberapa orang pegawai di supermarket tersebut sempat mengganggu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Mungkin karena mereka membeli banyak sekali barang, padahal terlihat seakan masih sangat muda (sehingga dianggap tak memiliki cukup uang untuk membayar semua barang), mereka dijadikan incaran lelucon para pegawai. Untungnya Tesar berhasil membalas sang pegawai dengan celetukannya yang lucu. Ini membuat si pegawai jadi tak bisa mencemooh lebih banyak lagi.

Keesokan harinya, aku kembali telat pergi ke sekolah. Padahal semua orang sudah bersiap-siap agar cepat sampai ke lokasi bencana. Sudah begitu, selain telat, aku memakai baju yang berbeda pula. Teman-teman memakai seragam sekolah. Begitu juga para mentor. Seragamku yang pertama telah lama luntur dan aku tak pernah ingat untuk memesan gantinya.

Mobil-mobil yang akan dikendarai kami rupanya sudah siap, anak-anak sudah naik ke dalamnya. Beberapa masih hiruk-pikuk mengangkut barang. Tetapi jelas-jelas aku datang di saat semua orang sudah selesai melakukan persiapan. Aku ditertawai seperti biasa karena telat. Namun aku lega karena tak ada yang marah padaku karenanya. Malahan Kak Uning memberiku seragam baru untuk dipakai sebelum aku berangkat dengan kloter terakhir.

Sebelum pergi, aku diberi amanah oleh Kak Riza berupa uang lima ratus ribu rupiah untuk dibagikan kepada anak-anak korban kebakaran. Masing-masing diberi lima ribu rupiah saja, kata Beliau. Bila ada sisa, baru dibagikan lagi.

            Rombongan kami dipandangi oleh warga sekitar pemukiman ketika kami berjalan beriringan menelusuri jalan kecil di sana. Orang-orang menanyakan dari sekolah dan daerah mana kami berasal. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sambil lewat, tidak menyempatkan diri untuk berhenti dan menjawab lebih banyak pertanyaan lagi. Aku benar-benar tidak ingin ketinggalan rombongan.

Entah bagaimana, jalan yang kulalui kemarin dulu sewaktu pertama survei terasa berbeda saat ini, ketika aku sedang melaluinya lagi bersama teman-teman yang lain. Rasanya seakan lebih panjang, dan aku menemukan detail lain yang tak kutemukan sewaktu survei. Kupikir, benar juga bahwa manusia biasa memerhati-kan sesuatu dengan lebih baik dikali kedua mereka melakukannya.

Kami semua berkumpul dulu di masjid yang letaknya di belakang posko. Atau lebih tepatnya mungkin posko itu sebenarnya adalah bagian dari masjid yang digunakan sebagai posko bantuan untuk sementara waktu ini, karena keperluan mendadak. Pada saat itu, teman-teman yang telah lebih dulu sampai sedang duduk melingkar di teras dalam masjid. Aku melihat ada makanan dan minuman ringan yang tersedia bagi kami, diletakkan di tengah-tengah lingkaran.

Kakak-kakak mentor mengobrol sebentar dengan Pak Madhi dan beberapa orang lain yang mengurus bantuan bagi korban kebakaran mengenai rencana kami berkunjung ke pengungsian hari itu. Setelah menunggu keputusan (yang agaknya menyangkut masalah teknis) mentor dan pengurus posko, aku dan teman-teman pergi keluar masjid dan mengangkut beberapa kardus berisi sumbangan dari kami untuk dibawa ke tenda pengungsian. Kardus-kardus itu nantinya akan dijadikan bukti sekaligus tanda penyerahan bantuan dari kami kepada para korban.

Walau ruangannya sempit, pada akhirnya kami semua tetap diajak masuk ke dalam tenda pengungsian yang beralaskan tikar seadanya. Tapi di tempat kami berdiri—di bagian depan atau mungkin lebih tepatnya di bagian kanan tenda yang dijadikan panggung dadakan untuk kami—pijakannya hanyalah tanah berumpun. Kardus-kardus berisi sumbangan yang telah kami angkat dari posko bertumpuk-tumpukan di belakang, menambah sempit tempat yang tersisa.

Sebagai PIC, maka Rafi diwajibkan menyerahkan bantuan secara simbolik kepada salah seorang wakil dari korban kebakaran Pasar Kramat Jati. Awalnya dia hendak memberi sambutan kecil juga, tapi Kak Syammi malah menggantikannya. Padahal aku ingin tahu apa yang akan Rafi katakan dalam pidato kecilnya (tolong sisipkan evil laugh di sini).

Waktu itu Thifal sempat mengambil gambar Rafi yang sedang berjabatan dengan cara yang menurutku cukup profesional. Bergabung bersama para korban yang duduk di tikar, ia memposisikan dirinya di bagian yang tepat dan mendapat sudut yang pas untuk memotret. Aku biasanya memilih untuk mengambil gambar seadanya saja bila keadaan terlalu ramai karena merasa malu dan segan. Tapi tak begitu dengan Thifal—ia tetap melaksanakan tugas dokumentasinya dengan baik meski harus menyusup dalam kerumunan.

Demi menyalurkan uang 500 ribu rupiah yang diamanahkan oleh Kak Riza, kami meminta izin kepada pengurus di sana untuk memisahkan korban kebakaran menjadi dua kelompok: yaitu kelompok orang tua dan anak-anak. Kami kan hanya akan membagikan sejumlah uang tadi kepada anak-anak, maka dipisahkanlah me-reka dari orang tuanya untuk menghindari keramaian yang (mungkin) terjadi saat para orang tua memastikan anaknya sudah mendapat bagian.

Aku, Thifal, Tania, Adib, dan Eko segera pergi bersama-sama ke rumah Pak Madhi. Kami telah diberi izin oleh beliau untuk melanjutkan acara sederhana kami (yang hanya diisi dengan sedikit lagu, permainan, dan sedekah) di rumahnya. Anak-anak yang telah dipanggil namanya satu-satu di pengungsian juga ikut dengan kami. Sayangnya ada banyak orang tua yang tak mau dipisahkan dengan anak mereka. Agaknya mereka sedikit penasaran karena kami sempat berulang kali meminta agar mereka bersedia meninggalkan anaknya.

Sungguh bingung ketika semua anak-anak sudah berkumpul, kami tidak tahu harus mengajak mereka bermain apa. Ide yang muncul di kepalaku hanya ide untuk mengajak mereka bernyanyi. Maka kumulai saja acara menyanyi “bersama” itu, yang berakhir seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan (metafora ini agak aneh, bukan?). Kami memang bukan penyanyi yang buruk, tapi rupanya pemirsa kami tetap kesulitan mengikuti. Kami berpikir untuk mengganti lagu, tapi sekali lagi Kak Syammi menolong muridnya yang kesulitan…

Harus aku katakan bahwa Kak Syammi memiliki bakat seorang performa, seorang entertain, yang dapat menghibur bahkan di saat orang lain bingung. Enak sekali gayanya mengajak anak-anak itu bermain. Aku kira permainan sederhana tidak akan menghibur, tapi rupanya tradisi tetap menjadi pilihan nomor satu. Dan nyanyian “kepala-pundak-lutut-kaki” yang termasyur itu pun meramaikan acara sederhana kami dengan anak-anak korban kebakaran. Aku dan kawan-kawan pun hanya bisa mengikuti alur Kak Syammi dan meramaikan seadanya—kami menjadi penggembira. Tapi aku tidak menyesal karena sebelumnya sudah berusaha.

Sewaktu adzan Dzuhur, kami berhenti sebentar untuk mendengarkan. Tidak lama setelah itu, kami pun menyudahi acara dengan anak-anak itu. Kami meminta agar mereka berbaris dan keluar dari teras rumah Pak Madhi satu-persatu dengan rapi agar kami dapat membagikan sedekah dengan mudah.

Walau sudah ditangani olehku, Sarah, dan Adib sekaligus, proses sedekah tadi masih saja kacau. Banyak orang yang kembali masuk ke area teras setelah mendapatkan bagian dengan alasan mengambil alas kaki. Satu dua orang meminta kembali bagiannya padahal mereka jelas-jelas sudah mendapatkannya. Dan yang kami coba hindari akhirnya terjadi pula—hiruk pikuk yang disebabkan oleh para orang tua yang semangat empat lima memastikan anaknya dan anak saudara serta temannya juga sudah mendapat bagian. Bisa dimengerti mengapa mereka bersikap begitu antusias atau bahkan agresif terhadap hal ini. Rasanya menyedihkan sekali melihat betapa berharganya lima ribu rupiah bagi mereka.

Kalau tidak salah, uang sedekah tadi tersisa sekitar seratus ribu lebih. Uang ini kemudian diberikan kepada Pak Madhi untuk membeli keperluan lain bagi para korban kebakaran. Bagaimana pun caranya, uang itu harus tersalurkan sepenuhnya untuk kepentingan korban (terutama anak-anak dan manula). Rasanya melegakan setelah menyelesaikan tugas. Kami pun segera kembali ke masjid pemukiman dan berkumpul dengan teman yang lain.

Tadinya kami hendak makan siang dan salat Dzuhur di masjid pemukiman, tapi kami memutuskan untuk melakukan keduanya setelah pulang ke rumah Kak Riza. Kami berpamitan dengan Pak Madhi dan rekan-rekannya seraya melangkah pergi ke arah parkiran pasar. Alhamdulillah aku sempat berpamitan pula dengan ibu-ibu yang bekerja di dapur umum, yang kutemui di hari Senin ketika survei. Ia melambai balik kepadaku dan menganggukkan kepalanya.

Di hari berikutnya, hari Jumat, kami mencoba menyelesaikan laporan yang nantinya akan diberikan kepada warga perumahan dan orang tua murid yang telah menyumbangkan dana serta pakaian bekas bagi korban kebakaran. Aku, Thifal, Sarah, dan Tania bertugas menata laporan keuangan. Karena itulah kami sangat kebingungan ketika uang sejumlah lima ratus enam puluh sembilan ribu dua ratus lima puluh tiga rupiah tak tercatat pengeluarannya (nah, panjang benar kan kalau ditulis begini). Padahal, uang tersebut sudah habis tak bersisa.

Kami telah bolak-balik meneliti daftar belanja, menghitung ulang semua pemasukan dan pengeluaran, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada sejumlah uang tadi. Untungnya kami mendapatkan jalan untuk menyelesaikan perkara ini pada akhirnya (dengan bantuan kakak-kakak mentor). Senang juga ketika kulihat surat berisi laporan kami dibagi-bagikan kepada murid dan warga perumahan tempat kami bersekolah—walau kemudian diketemukan beberapa kesalahan pengetikan di dalamnya.

Dari kegiatan bakti sosial kali ini, aku mempelajari bahwa spontanitas pun bisa menjadi terarah dan membuahkan sesuatu yang baik. Karena kami hanya me-miliki dua sampai tiga hari untuk menggalang dana dan mempersiapkan semuanya, kami hampir melakukan setiap hal dengan spontan. Namun tujuan kami yang satu dan pikiran yang terfokus pada tema “menolong korban kebakaran”, membantu kami (atau lebih tepatnya, membantuku) untuk tidak melenceng terlalu jauh dari maksud semula kegiatan kami ini.