Archive for hiking

Cerita Kami di Cibedug

Posted in School Work, social with tags , , , , on February 15, 2009 by technowyvern

Memasuki pekan awal pembelajaran di tahun 2009, murid-murid level 8 sampai 11 di MIT akan berkemah di kawasan Cibedug, Bogor. Meski sudah mempersiapkan ini dan itu, kami sesungguhnya tidak tahu bagaimana keadaan di sana dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Ini kemudian menimbulkan beberapa kesalahan dan kami terpaksa membuang “dead donkey” dari ransel-ransel kami. Tapi cerita mengenai itu nanti sajalah kuceritakan…

            Percaya atau tidak, absen pada hari Senin saat pekan sosial sepertinya sudah menjadi budayaku. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya, karena liburan tahun baru kemarin aku memang sakit. Untuk memulihkan diri dan meyakinkan bahwa aku sudah mulai sembuh, maka aku tak masuk di hari pertama itu. Lalu hasilnya: aku bersyukur tidak dijadikan ketua kelompok untuk acara berkemah.

            Apa pula sangkut paut antara tidak masuk dengan menjadi ketua kelompok? Yah, tahulah bagaimana segala hal mendasar yang harus diketahui atau diputuskan selalu dikerjakan pada hari Senin… dan karena aku tak masuk, maka tak ada yang bisa menjanjikan bahwa aku akan ikut kegiatan pekan itu. Jadi secara otomatis tak ada juga yang bisa mengangkatku jadi ketua, kan? Di situlah kaitannya.

            Budaya tidak masuk pada hari Senin atau budaya sakit pada hari Senin ini bisa jadi termasuk dalam sindrom “I don’t like Monday” yang entah kenapa telah menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Dan aku kebetulan adalah salah satunya. Inilah kenapa teman-teman, mentor-mentor, serta orangtuaku boleh merasa jengkel padaku jika menyangkut masalah rajin sekolah dan menjadi anak manja.

            Diputuskanlah untuk mengangkat Rifda (atau Bida) menjadi ketua salah satu kelompok. Sarah, Nafi, Anna, dan aku adalah anggotanya. Bida sendiri tidak ingin menjadi ketua kelompok, katanya. Tapi mau bagaimana lagi? Maka perundingan hari Senin terus berlanjut tanpa kuketahui ceritanya.

            Seperti yang mungkin telah ditebak oleh teman-teman, aku masuk sekolah di hari berikutnya. Aku katakan bahwa kesehatanku sudah membaik. Memang betul itu, tapi sebenarnya aku masih memiliki sedikit masalah pencernaan yang belum beres betul. Namun begitu mendengar rencana camping, tubuhku langsung beradaptasi dan menyesuaikan keadaan dengan kabar ini. Sudah menjadi kecenderunganku untuk tak mundur bila persoalan yang dihadapi adalah kepentingan bersama. Aku berpikir cepat dan memutuskan untuk ikut acara ini sebagai tanggung jawabku sebagai anggota. Aku kan tidak mungkin mundur setelah diamanahi barang-barang kebutuhan yang harus dibawa demi kesejahteraan kelompok?

            Hmm… aku tidak ingat apa lagi yang kami kerjakan di hari Selasa. Sepertinya hanya bagi-bagi tugas dan merencanakan kegiatan. Kami juga membuat peraturan-peraturan yang (walau tak banyak) kemudian terlupakan secara tidak sengaja olehku. Tidak tahu bagaimana dengan teman-teman yang lain. Untungnya kebanyakan dari peraturan yang ada adalah hal-hal umum seperti “buang sampah di tempatnya”, jadi aku hanya sempat dihukum sekali (akan kuceritakan detilnya nanti).

            Malam sebelum hari keberangkatan kami ke Cibedug, anak-anak berbelanja ke mini market terdekat untuk membeli kebutuhan kecil seperti snack dan mackerel kalengan. Aku sendiri sempat membeli voucher pulsa karena khawatir kalau tidak bisa menghubungi orang lain bila nanti ada keperluan mendadak.

            Di hari keberangkatan, kami seharusnya berkumpul di masjid. Biasanya aku selalu berjalan kaki ke sana setiap pagi, tapi kali itu aku naik mobil. Karena mendapat bagian membawa tenda (yang sangat berat dan besar), aku tak ingin menyeret-nyeret kantung besar berisi benda itu sendirian. Yang ada di pikiranku pada saat itu adalah bagaimana caranya agar cepat sampai ke masjid, dan aku hampir mengabaikan beban tenda yang sejak awal sudah merepotkan. Aku pikir kami bisa saja membawa tenda itu bersama-sama nantinya.

            Teman-temanku memang sudah berkumpul semua waktu itu, tapi belum ada tanda-tanda mereka hendak berangkat. Aku segera menghampiri mereka dan bertanya mengenai keadaan. Rupanya kami tidak jadi naik angkot ke stasiun kereta api, dan kami juga diminta untuk berkumpul di rumah Kak Riza terlebih dahulu. Barang-barang teman-teman pun dimasukkan ke dalam bagasi mobilku dan Rifda untuk dibawa ke sana. Setelah itu kami briefing dan diberi masukan oleh Kak Riza untuk menimbang-nimbang, barang mana yang betul-betul perlu kami bawa dan mana yang hanya akan menjadi tambahan beban saja (dead donkey).

            Setiap kelompok diperintahkan untuk mengumpulkan barang-barang yang telah dipersiapkan—baik barang pribadi atau milik kelompok—dan diberi waktu untuk berdiskusi mengenainya. Aku melihat bahwa satu dua orang merasa keberatan dengan hal ini, entah karena apa. Sementara itu, aku sendiri tidak merasa terganggu, hanya saja aku malas mendiskusikan hal ini. Apa lagi begitu tendaku divonis sebagai kandidat dead donkey terparah… aku benar-benar kesal. Tetapi aku tahu bahwa itu memang benar, dan aku tak ingin pula bersusah payah mengangkutnya.

            Namun dengan ditinggalkannya sang tenda, ini berarti anggota kelompokku dan dua orang mentor perempuan yang ikut bersama kami akan kehilangan tempat tidur. Kami kan tidak mungkin berkemah tanpa tenda? Aku sempat merasa teramat bingung karena mengkhawatirkan nasib kami. Jadi aku perlu memastikan bahwa ada solusi yang bisa dilakukan untuk menutupi kehilangan besar ini.

            Selanjutnya, setelah beberapa botol air minum 1.5 liter, setengah liter minyak, serta tenda yang dibawa kelompokku telah dikeluarkan dari daftar barang yang akan kami bawa, kami semua mencoba untuk mengangkat barang-barang yang tersisa dan memutuskan apabila ada barang lain yang harus ditinggalkan pula.

            Bila dilihat sekilas, maka akan terpikir bahwa semua kebutuhan yang divonis sebagai dead donkey yang hanya akan merepotkan di atas itu termasuk penting. Aku sendiri juga resah melihatnya. Tetapi setelah kupikir ulang, dan kuketahui bahwa di tempat kami berkemah nanti sebenarnya dekat dengan perkampungan, maka barang-barang di atas (kecuali tenda) memang tidak kritikal amat untuk dibawa.

            Meski belum pasti benar apa yang akan kami lakukan untuk mendapat tempat tidur yang layak nantinya, kami pasrah dan ingin segera berangkat ke lokasi. Rasanya aku juga tak ingin mengulur waktu lagi. Untunglah teman-teman dari kelompok lain tidak memiliki masalah dalam perbekalan. Jumlah barang yang mereka bawa pas.

Kami semua berkendara ke stasiun UI Depok. Ketika turun di depan sederet mahasiswa yang menunggu bus datang, aku dan teman-teman yang ikut dalam satu mobil merasa malu. Kami pun bingung hendak berjalan ke arah mana. Belum lagi hujan turun, sehingga tanah becek menambah gaya jalan kami terlihat makin konyol dengan ransel-ransel di punggung dan kantung-kantung di tangan.

            “Ke mana yang lainnya?” kami terus bertanya pada satu sama lain.

            Sewaktu berangkat dari rumah Kak Riza tadi, mobil-mobil kami memang tak beriringan. Entah deh, tapi sepertinya romobonganku telat karena menunggu aku mempersiapkan makan siang yang lupa aku bawa. Aku juga sempat mengantarkan makan siang untuk adik laki-lakiku yang hendak pergi outbond ke Ciseeng. Jadi saat kami sampai di stasiun, teman-teman lain sudah tak ada di luar. Agaknya mereka telah masuk ke dalam, maka kami pun segera ikut masuk ke ruang tunggu.

            Tiket kereta telah dibelikan oleh para mentor untuk kami semua. Kami hanya perlu memegang tiket masing-masing dan menunggu kereta datang. Maka kami pun menunggu dan menunggu. Namun tidak lama kemudian, sebuah kereta api jurusan Bogor berhenti di depan kami dengan jumlah penumpang yang sangat padat. Aku tak pernah naik yang sepadat itu sebelumnya.

            Karena khawatir tidak sempat naik ke kereta sebelum ia mulai berjalan lagi (sesuai dengan lagu kereta api yang berbunyi, “Ayo kawanku lekas naik. Keretaku tak berhenti lama”), kami berdesakan dengan penumpang-penumpang lain untuk dapat posisi yang aman. Penumpang yang hendak turun menjadi kesal karena sulit keluar dari gerbong kereta, terdorong dan terhalang oleh kami-kami yang takut tertinggal. Keadaan pun menjadi agak kacau selama beberapa menit.

            Kekacauan kecil tadi membuat rombongan kami terpisah. Aku, Kak Annis, Anna, Izhar, Syafiq, Tesar, Eko, Ieuan, Kak Syami, dan Rozan mendapat tempat di gerbong depan sementara Kak Mira, Thifal, Tania, Nafi, Mia, Zurai, Bida, Sarah, Adib, Rafi, Yahya, Imad, dan Kak Redi mendapat tempat di gerbong belakang. Kami tak mendapat tempat duduk dan hampir tak mendapat tempat untuk berpegangan.

            Sewaktu kereta mulai berjalan, aku mendengar Tesar terkekeh di belakangku. Ketika aku menoleh untuk memeriksa apa yang ditertawakannya, aku sadar ranselku yang menggembung itu menyenggol seorang bapak-bapak yang berdiri tepat di antara kami. Ia terus terdorong oleh ranselku yang menggembung itu dan aku terus meminta maaf padanya sampai ia mendapat tempat duduk dan berhasil menyelamatkan dirinya dari gangguan kecil yang bisa ditimbulkan seorang anak muda dan sebuah ransel. Aku akan merasa lebih baik bila ia menanggapi permintaan maafku, tapi bapak itu hanya diam dan memasang wajah datar.

            Suasana di dalam kereta ekonomi sesungguhnya amat menarik untuk dibahas. Orang-orang yang sering memakai jasa angkutan ini pasti tahu betul segala fenomena yang biasa terjadi di sana. Aku sendiri selalu mencoba untuk mengantisipasi segala kemungkinan dan mencari cara untuk menyikapi keadaan dengan wajar.

            Kali ini, seorang pengamen yang memiliki kekurangan dalam penglihatannya berdiri di dekat kami sambil memainkan gitar kecil yang termasyhur itu. Kalau kita perhatikan, instrumen satu ini seakan-akan adalah pengiring andalan para pengamen jalanan. Sayangnya, benda itu hanya berfungsi untuk mengiringi saja. Jarang ada pengamen yang sungguh-sungguh memainkannya.

Hal yang sama pun terjadi pada pengamen di kereta tadi—ia hanya menepuk dan menggerakkan tangannya dengan asal di atas senar. Aku tak yakin apa gerakan yang dilakukannya itu benar “kocokan”. Lagu yang dinyanyikannya pun tidak jelas. Lucunya, ia terus menyerukan terima kasih pada para penumpang kereta karena telah mendengarkannya. Dan aku tak tahan untuk tidak tertawa kecil melihat ekspresi di wajah Izhar yang sangat berbeda dibandingkan dengan penumpang lainnya.

Pernah lihat raut wajah karakter dalam komik yang selalu datar? Dengan mata setengah tertutup yang menatap bosan dan bibir membentuk garis tipis, Izhar terlihat persis seperti itu. Dia menatap sang pengamen tanpa berkedip sementara orang-orang lain berusaha untuk tidak meliriknya. Sang pengamen sendiri terus bernyanyi tanpa memedulikan keadaan sekitarnya yang entah dapat dia lihat dengan baik atau tidak. Aku pun terus bergerak-gerak gelisah karena tak tahu harus berbuat apa.

Biasanya beberapa pedagang buah (variasinya mulai dari jeruk hingga melon) hilir mudik di dalam kereta api sambil membawa troli-troli atau keranjang-keranjang penuh berisi dagangannya. Mereka pindah dari satu gerbong ke gerbong lain dengan menyeruak di antara penumpang kereta yang jumlahnya tidak sedikit. Tapi mereka tidak selalu menawarkan dagangannya. Mereka hanya berjalan santai dan menoleh ke kanan dan kiri, memerhatikan apabila ada orang yang berniat membeli. Namun, kali ini tak ada pedagang buah yang lewat.

Para “Penjual Segala” (yang menjual berbagai macam barang—dari gunting hingga casing handphone) juga sedang tidak banyak yang lewat. Padahal mereka rajin menggantung dagangannya di sela-sela jeruji kipas angin pada kesempatan lain.

Melewati beberapa stasiun, gerbong kereta api pun berangsur-angsur menjadi sepi dan satu-persatu dari kami mendapat tempat duduk. Tesar mempersilahkan Kak Anis, Anna, dan aku untuk duduk duluan di bangku kosong yang ada di dekatnya. Maka kami pun mendorong Anna untuk menerima pemberian itu. Setelah itu aku duduk, lalu Kak Anis, Tesar, dan Rozan. Izhar, Eko, dan Ieuan lebih memilih duduk di lantai kereta sementara Syafiq dan Kak Syami tetap berdiri.

 

Sebelum kami sampai di tempat perhentian dan kereta sedang melambatkan lajunya, kami semua bersiap-siap untuk turun. Barang-barang yang kami letakkan di lantai pun kami angkat. Aku pun merapikan bajuku, walau tak ada gunanya juga aku melakukan itu. Lalu kami jalan beriringan ke luar stasiun, ke sebuah pasar yang sejak lama berada di belakang stasiun tersebut. Dan kami pun pergi ke jalan untuk mencari angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan ke Cibedug.

Seperti biasa, setiap kali kami pergi ke Bogor naik kereta, kendaraan yang akan kami pakai setelah itu pasti adalah angkot. Tapi kami mencarter lebih banyak angkot kali ini daripada biasanya. Aku lupa berapa tepatnya jumlah angkot yang kami sewa. Apakah tiga? Habisnya jumlah anggota kami semua sampai dua puluhan orang. Jadi tidak heran bila kami membutuhkan kendaraan umum dengan kapasitas yang lumayan. Lagipula akan lebih sulit bila perjalanan dilakukan dengan cara biasa. Kami kan bukan orang Bogor, jadi mana tahu rute angkot-angkot di sana… lebih baik sewa sekalian daripada tersesat nantinya.

Begitu sampai di gang menanjak yang tak kutahu namanya (karena memang aku tidak ingat untuk melihat papan jalannya—bila pun ada), Kak Syammi memberi-tahukan bahwa kami akan berjalan kaki dari sana hingga ke tempat perkemahan, dan jaraknya berkilo-kilo meter pula!

Ah, lengkaplah sudah. Dengan beban tas ransel, alat-alat masak, dan sleeping bag: kami harus menanjak jalan berbatu dan berlumpur itu. Tapi keadaannya sama sekali tidak buruk, kok. Malah kami melakukan perjalanan yang lebih hebat lagi keesokan harinya. Aku bahkan senang karena anak-anak lelaki gagal memprediksikan kapan aku akan sampai ke lokasi (aku datang lebih cepat dari yang mereka kira).

Kami semua duduk di teras rumah pemilik lokasi perkemahan yang sebenar-nya adalah tempat anak-anak kawasan Cibedug bersekolah. Tempat sederhana yang terdiri dari satu mushala, taman dengan tiga buah saung, serta satu kios kecil berisi jajanan untuk anak-anak. Namun aku tak menangkap detail seperti itu dikali pertama aku menginjakkan kakiku. Aku malah bertanya-tanya, apa benar kami akan menginap di sana? Karena tempat itu tidak terlihat seperti lokasi perkemahan.

Ada beberapa murid SMP yang mencuri-curi pandang ke arah kami sambil berbisik-bisik ketika kami masih duduk-duduk di teras dan menunggu komando dari para mentor. Saat itu aku berpikir bahwa murid-murid SMP tersebut bersikap kurang menyenangkan. Tetapi aku tidak benar-benar ambil pikir (adakah istilah macam ini?) soal itu dan meneruskan obrolanku dengan Izhar.

Tak lama kemudian, kami salat dzuhur di taman bersaung yang telah kusebut sebelumnya. Ternyata kami akan mendirikan tenda di sana. Jadi kami tidak berkemah di tempat yang berhutan-hutan atau sepi seperti yang kukira. Tetapi syukurlah, kami memang membutuhkan saung untuk tempat tidur para mentor (kelompokku akhirnya dipinjamkan tenda oleh Adib) dan kamar mandi selama dua hari ini.

Setelah selesai salat dan meletakkan barang seadanya, kami semua diminta untuk berkumpul di mushala bersama anak-anak SMP tadi. Aku pun mengantisipasi kekakuan yang ada dengan bersikap konyol. Dan ketika aku dihukum bersama teman-teman lain karena kalah dalam permainan, aku bersikap seolah-olah aku menikmati hukuman itu. Pada akhirnya aku memang menikmatinya, karena toh hukuman yang dijatuhkan tidak buruk. Kami hanya perlu memperagakan sedikit deskripsi lucu untuk mendukung puisi tentang gajah yang dituliskan Kak Syammi di papan.

Aku berkenalan dengan beberapa anak perempuan dari sekolah itu. Mungkin ada sekitar 5 atau 6 orang. Tapi yang paling kuingat namanya hanya Maya, Syakila, Misnatih, dan Ayu. Tiga anak yang disebut pertama adalah anak-anak yang sempat mengobrol berempat denganku. Aku berimprovisasi saja karena pada awalnya aku melakukan ini hanya karena Kak Mira memberiku tugas untuk mewawancara mereka dan membuat suatu karya berupa puisi, sajak, atau biografi dari hasil perbincangan tersebut. Namun karena aku kekurangan informasi dan tidak berniat untuk melakukan tugas yang manapun, akhirnya aku menggambar Maya, Syakila, dan Misna. Yang kupikirkan waktu itu adalah sebuah karya seni sebagai pengganti.

Karena aku menggambar di tempat, mereka bertiga juga teman-teman mereka yang lain sempat melihat prosesnya. Mereka berkomentar bagus mengenai gambarku, tapi aku tahu salah satu dari mereka juga pasti memiliki bakat menggambar. Saat itu, Ayu yang telah kukenal sebelumnya karena sama-sama terkena hukum menunjukkan koleksi gambar karyanya sendiri yang dia simpan dalam binder. Menurutku gambar Ayu juga cukup bagus, hanya saja dia belum menemukan karakter khasnya sendiri (sama sepertiku) dan lebih sering mencontoh manga yang sudah ada.

Alhamdulillah, aku mendapat inspirasi untuk membuat sajak mengenai semua anak-anak sekolah itu ketika kami pulang di kemudian hari. Gambarku tidak diterima sebagai pengganti tugas karena tentu saja jauh lebih sederhana daripada seharusnya. Namun sajak yang kubuat pun tidak kalah sederhananya. Aku sungguh tidak mahir merangkai kata-kata puitis, apalagi membuat tulisan panjang mengenai riwayat hidup seseorang… Aku mungkin tidak akan dapat feel­-nya.

Begitu acara perkenalan itu dibubarkan, aku dan teman-teman dari MIT pun kembali ke tempat perkemahan dan mulai membenahi barang. Kami memasang tenda dan menyiapkan makan malam. Setelah itu ada permainan menangkap ikan di sawah berlumpur yang seharusnya bisa menjadi kegiatan yang lebih seru kalau saja aku tak terlalu jijik dengan ikan hidup. Sementara itu acara makan siang telah kami lakukan di sela-sela waktu salat Dzuhur tadi, dengan bekal yang dipersiapkan dari rumah. Dan salat Ashar pun sepertinya sudah dijamak bersama.

            Aku merasa tidak enak kalau harus jadi orang yang tidak melakukan apa-apa pada hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Maka karena aku menolak membersihkan ikan-ikan setelah melihat cara Izhar membunuh mereka dan bagaimana Tania, Adib, serta Kak Annis mengulitinya (meski memang begitulah caranya—tak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan), aku memilih untuk menyiapkan bumbu saja. Aku pun berniat pergi bersama Nafi ke warung untuk membeli cuka atau jeruk nipis dan kecap manis. Tapi belum sempat kami keluar dari area perkemahan, istri dari bapak pemilik tempat tersebut menanyakan keperluan kami dan serta merta memberikan kecap manis dan tiga buah jeruk nipis pada kami.

            Aku sungguh senang dan bersyukur atas pemberian ini, tapi aku merasa tidak puas karena aku tidak mendapatkan kebutuhan ini dari hasil usahaku sendiri. Maka aku pun mencari cara untuk melakukan sesuatu yang lain. Nah, kali ini aku mencoba membumbui ikan-ikan tersebut. Anna dan Nafi membantuku… atau lebih tepatnya, aku dan Nafi membantu Anna melakukannya. Di sini aku menemukan ketidakpuasan lain yang lagi-lagi membuatku kesal pada diri sendiri dan menjadikanku terjebak dalam suasana hati yang aneh, agak murung sekaligus angker. Hahaha.

Ke mana pun pergi, aku selalu tidak dapat tidur dengan cepat. Apalagi bila aku tak merasa nyaman, bisa-bisa aku tidak tidur semalaman. Hal ini pun terjadi saat tiba waktu bagi kami untuk beristirahat di perkemahan. Walaupun tenda kecil yang kami pinjam sesungguhnya sudah cukup enak, tapi aku benar-benar sulit tidur. Sarah yang juga kesulitan pada akhirnya tertidur dengan permen karet masih berada dalam mulut. Kalau saja aku tahu, dia akan kularang tidur sambil mengunyahnya. Untunglah ia tidak apa-apa karena permen karet itu tidak tertelan olehnya.

Ketika Kak Mira datang ke tenda kami sekitar jam dua malam atau lebih, mataku langsung terbuka begitu mendengarnya berlutut di pintu tenda. Aku sungguh terjaga semalaman itu. Aku biarkan diriku berbaring tak bergeming untuk sementara dan menenangkan diriku yang sesungguhnya sangat ingin tidur. Lalu aku mengikat rambutku dan memakai kerudung. Anna dan Sarah pun bangun dari tidur mereka, juga anggota kelompok kami yang menumpang tidur di tenda milik Tania.

Aku tidak begitu ingat soal ini, tapi aku, Nafi, dan seorang lagi (apakah Mia?) sangat memerlukan waktu untuk pergi ke kamar mandi sebentar sebelum berkumpul di sawah bersama teman-teman yang lain. Kami berteriak meminta izin kepada kakak mentor, lalu melesat pergi ke kamar mandi. Tapi karena kamar mandi yang dipakai hanya satu dan urusan kami berbeda-beda, maka waktu 5 menit yang diberikan oleh Kak Annis pun terlewat sudah. Kami pun mendapat hukuman ringan sebentar.

Setelah itu, kami semua dipisah menjadi kelompok-kelompok kecil berjumlah dua orang, kemudian kami disebar ke seluruh penjuru area. Kami diminta menulis mengenai tujuan utama kami pergi ke sana, perasaan kami, kebohongan terbesar yang pernah kami lakukan, dan opini mengenai pasangan kami masing-masing.

Aku mendapat tempat di depan gerbang, berdua dengan Tania. Mengenai ini, aku berasumsi bahwa Kak Mira lah yang memasang-masangkan kami. Kalau tidak, aku dan Tania mungkin tidak akan bersama. Untunglah pasanganku Tania, jadi kami bisa berdiskusi dan menulis dengan jujur tanpa merasa terlalu terbebani. Masalahnya, kami lebih sibuk bercerita daripada menulis hingga tak sempat menyelesaikan seluruh bagian dari essay yang harus kami tulis. Untunglah kami tidak terkena hukuman apapun karena hal ini.

Menjelang subuh, kami semua mendapat nasihat panjang dari Kak Syammi. Isinya pas sekali dan mengena. Seperti biasa, aku akan menampakkan gaya kasual untuk menyembunyikan kegelisahanku. Jadi aku berdiri dengan sikap yang lumayan santai (menurutku) dan terus memposisikan badanku menghadap kakak-kakak mentor secara langsung yang berarti, “aku mengerti di mana letak masalahnya” atau sesuatu yang bahkan lebih percaya diri dari itu.

Pada saat salat Subuh, aku mendapat jatah sebagai imam bagi anak-anak perempuan dan aku benar-benar gugup karena harus membaca doa dengan suara yang tidak terlalu keras, tapi juga tidak terlalu pelan. Aku tidak tahu apakah salat yang kupimpin berlangsung dengan benar atau tidak, terlalu cepat atau sudah pas, dan seterusnya.

Kami membaca almatsurat (dengan dipimpin Syafiq) setelah salat subuh, mendengar kultum mengenai kejujuran dari Yahya, dan mengobrol sedikit sambil melepas ketegangan yang tertinggal akibat acara di malam harinya. Aku merasa amat mengantuk, tapi tak ada usahaku untuk tidur meski pun diberi waktu hingga jam tujuh atau delapan. Aku malah membuat sarapan dan bertahan tanpa istirahat.

Jam delapan, kami diminta berkumpul untuk ikut berjalan-jalan santai. Bila ada yang tidak ingin ikut, maka boleh saja menunggu di perkemahan. Tapi aku toh memilih untuk ikut berjalan-jalan daripada berusaha tidur karena tidak ingin melewatkan bagian yang paling kusenang, yaitu sight-seeing! Kuganti sandal yang sejak kemarin kupakai dengan sepatu kets, lalu kuambil botol air minumku dan bersiap untuk pergi.

Mau ke mana, nih? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sejak pertama kami memulai jalan pagi dengan melewati sawah-sawah yang basah dan terus dilanjutkan ke jalan menanjak yang berbatu-batu. Kami bahkan melewati tempat sapi perah dan perkuburan warga. Jalan yang kami lalui lama-kelamaan semakin sulit hingga membuat kami tersandung akar berkali-kali, persediaan minum kami habis, dan  keringat membanjiri tubuh kami.

Jadi kegiatan ini bukan hanya sekedar jalan-jalan pagi, pada kenyataannya.

Entah berapa kilo jauhnya kami berjalan, tapi lagi-lagi aku mendapat pengalaman hiking seru dengan pemandangan indah dan kondisi jalan yang bervariasi pula, membuatku menjadi amat bersemangat. Kami bahkan sempat berfoto-foto dulu dan menikmati suasana. Dan berterimakasihlah aku pada bapak pemilik tempat perkemahan, karena rute panjang dan berbukit-bukit yang dipilihnya berhasil membuatku amat kelelahan sehingga aku dapat tidur walau hanya setengah jam kurang begitu aku sampai kembali ke tenda.

Setelah mandi, makan siang, salat Dzuhur, dan membereskan barang-barang, kami semua segera bersiap untuk pulang. Tapi rasanya aku tak ingin terburu-buru meninggalkan Cibedug, walau tubuhku sudah sangat merindukan rumah.

Perjalanan turun ke jalan raya yang sudah tidak asing kini tak memberiku banyak dorongan lagi. berbeda dengan saat pertama datang, aku malah menjadi yang terakhir sampai ke tempat kami menunggu angkot. Di sini kami mendapat kesulitan membujuk supir-supir angkot yang lewat untuk menerima tawaran kami untuk menyewakan angkotnya untuk mengantar kami samapi ke Depok.

Ya, ke Depok. Kami tidak ingin naik kereta lagi sambil membawa barang-barang itu. Kami juga masih kelelahan karena acara jalan pagi tadi, sehingga kaki-kaki kami menjadi agak malas untuk dipakai berdiri terlalu lama. Alhamdulillah pada akhirnya ada juga angkot yang mau disewakan.

Adzan Ashar sudah lewat ketika kami sampai di rumah Kak Riza. Kebanyakan dari kami tertidur sepanjang perjalanan. Tapi aku tidak tidur. Aku terus memutar ulang lagu yang sedang menjadi favoritku dan menyanyikannya sendirian. Aku juga termasuk orang yang paling terakhir pulang ke rumah. Aku bahkan sempat melihat Kak Syami (yang tidak turut naik angkot bersama kami) turun dari ojek yang membawanya dan melihat Amir yang tersiksa karena muntah-muntah akibat makanan yang dimakannya siang tadi.

Sungguh menyenangkan ketika Kak Riza menawarkan es krim kepada kami yang tersisa, yang masih berleha-leha di teras rumahnya. Setelah makan es krim dan membantu adik-adik kelas menyiapkan bagian mereka, aku pun pulang ke rumah.

Tapi tidak semudah itu bagiku untuk pulang. Izhar terus-terusan menggangguku dengan bermain kucing-kucingan sambil membawa kabur carabiner milikku (meski aku tak terlalu keberatan bermain dengannya). Aku juga terpaksa meninggalkan tendaku yang telah lama menjadi dead donkey. Aku tak mampu mengangkutnya sendirian. Dan aku bahkan melupakannya hampir setiap hari. Dan kini sudah lewat sebulan, belum juga kubawa pulang tendaku itu!

Wah, sesungguhnya detail acara kami di Cibedug belum sempat kuceritakan dengan baik di sini. Tapi aku kehabisan waktu dan aku butuh tidur. Aku juga amat kelaparan. Kurasa cukuplah dulu sampai di sini. Lain kali bila ada waktu, akan kutambahi. Karena bila dipikir-pikir, memang ada pelajaran yang dapat kuambil dari acara berkemah ini. Bukan mengenai kejujuran, tapi mengenai tanggung jawab.

Advertisements