Archive for silaturahim

Back To School: Halal Bihalal

Posted in School Work, social with tags , , , , , on October 17, 2008 by technowyvern

           Akhirnya hari-hari liburan menyenangkan selama tiga minggu berakhir pula. Aku kembali bersekolah pada tanggal 13 Oktober 2008. Pada saat itu aku tak mengira bahwa tema pertama yang akan kami hadapi adalah tema Sosial. Apalagi ketika dikatakan bahwa kegiatannya adalah Halal Bihalal. Aku pikir kami sudah lakukan acara itu saat kami bermaaf-maafan kemarin dulu, ketika hendak liburan.

            Rencananya di hari pertama dan kedua, anak-anak level 9 hingga 11 pergi bertandang ke rumah orangtua setiap anggotanya dengan tujuan bersilaturahim. Anak-anak dari level lain juga melakukan kegiatan yang sama. Tetapi, cara kami untuk mencapai tujuan-tujuan itulah yang berbeda. Ada yang pergi dengan naik kendaraan dan ada yang memilih untuk berjalan kaki.

            Level kami mengunjungi enam rumah di hari Senin. Rumah pertama yang kami kunjungi adalah rumah Thifal dan Rifda yang baru saja mendapatkan adik baru bernama Milhan. Kami duduk-duduk di beranda depan rumah mereka sambil menunggu Tante Tita—Umi Thifal—yang sedang dipanggilkan.

            Kami pun meminta maaf kepada Tante Tita dan Nenek Thifal. Siapa tahu kami pernah membuat keributan atau membuat rumahnya berantakan saat kami melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sana. Kami mengobrol sebentar dan makan cheese cake serta minum sirup jeruk. Kami juga sempat melihat Milhan. Milhan kelihatan amat sehat dan beratnya ketika lahir pun mencapai tiga koma sembilan kilogram. Dia sedang tidur saat itu.

            Rumah kedua yang kami kunjungi adalah rumahku. Letaknya tidak jauh dari rumah Thifal dan Rifda. Tetapi rupanya anak-anak level 2 (adikku Ihsan dan teman-temannya yang lain) serta Kak Wulan sedang berada di rumahku juga. Mama yang tadinya hendak menjemput Azzam di TKIT akhirnya tak jadi pergi. “Azzam bisa dijemput Pak Yadi,” katanya.

            Kami duduk melingkar di lantai ruang tamu tengah. Mama menyuguhkan kue-kue kering juga lapis legit dan sirup untuk kami. Mama pun bercerita tentang Ihsan yang pergi memancing ikan dan menangkap ubur-ubur. Ihsan menanggapi dengan ikut bercerita dengan nada bicaranya yang cepat seperti biasa.

            Setelah kami rasa cukup, kami berpamitan dan pergi lagi ke rumah Tania. Di sana kami bertemu Tante Ratna yang ternyata telah menyiapkan makan siang untuk kami semua. Maka kami pun makanlah di rumahnya setelah meminta maaf terlebih dahulu dan bercakap-cakap tentang ini dan itu.

            Sewaktu Dzuhur, anak-anak perempuan level kami salat di rumah Tante Ratna, berjamaah dan diimami oleh beliau. Sementara itu anak-anak laki-laki salat di masjid seperti biasa, baru kemudian mereka semua kembali ke rumah tersebut untuk makan siang bersama.

            Ketika sedang menunggu yang lain selesai menyantap hidangan, Adib tertidur pulas di ruang tamu rumah Tania. Aku bingung melihat gaya tidurnya yang berkesan santai walau tidur di rumah orang lain. Itu sepertinya akibat puasa di hari yang terik oleh matahari dan lelah karena harus berjalan kaki sepanjang puluhan meter (jika dihitung setiap rute yang kami ambil) untuk mengunjungi tiap rumah anggota level kami yang memungkinkan untuk dikunjungi. Aku pikir dia akan segera dibangunkan, tapi kami malah hampir meninggalkannya.

Aku minum sirup markisa hingga dua cangkir setelah selesai makan. Aku rasa aku memang mudah sekali kehausan. Dan kenyataan bahwa tas-tas kami tak kami bawa serta selama perjalanan membuat minuman yang disediakan di setiap rumah adalah pembasmi rasa haus dan gerah yang menyiksa kami (di sini kita dapat mempelajari majas hiperbola yang berarti melebih-lebihkan).

Kami segera pergi menuju rumah Yahya setelah berpamitan dengan Tante Ratna. Tetapi sebelum kami sampai ke jalan menanjak tempat pintu gerbang hijau perumahan Griya Tugu Asri berdiri ramah dengan segala kesederhanaan dan juga kerapuhannya, aku menyempatkan diri berlari pulang ke rumah karena ada suatu alasan dan perkara yang tidak bisa ditunda.

Aku kira aku telah ditinggal oleh yang lainnya karena aku tidak banyak menjelaskan kenapa aku berbelok ke rumahku. Aku hanya berlari-lari kecil sambil melambaikan tangan dan berseru, “Ntar aja! Gampang,” ketika Kak Mira bertanya apakah aku ingin mereka menunggu. Walau berkata begitu, aku bersyukur teman-teman bersedia menungguku karena sesungguhnya aku tidak tahu di mana letak rumah Yahya. Tadinya aku berpikir aku mungkin bisa menyusul mereka sebelum mereka hilang di pertigaan jalan.

Sesampainya kami di rumah Yahya, aku duduk di ruang tamu bersama anak-anak perempuan lainnya sementara anak-anak laki-laki menunggu di teras. Aku menyangka Umi Yahya—Bu Fathonah, mantan guruku sewaktu SD—sedang ada di rumah. Jadi aku menunggunya, tapi ternyata beliau tidak ada. Kami sempat bermaafan dengan seorang ibu yang sudah lanjut usia, tapi aku tidak tahu apakah ia adalah Nenek Yahya atau bukan.

Kami menyeberang ke gang kecil di sebelah mini market dan berjalan terus mengikuti jalan kecil melalui kawasan Nurul Fikri, kemudian berbelok ke perumahan Timah, untuk kemudian menuju ke rumah Syafiq yang teduh dan letaknya tepat di samping masjid Baitul Qur’an.

Sungguh lega ketika kami akhirnya sampai di rumah tersebut. Tetapi Umi Syafiq sedang ada tamu lain pada saat itu dan kami tak bisa langsung bercakap-cakap dengan beliau. Maka kami melihat-lihat marmot dan kelinci peliharaan Syafiq dan saudara-saudaranya terlebih dulu. Marmot-marmot itu lucu sekali dan kelihatan cukup aktif. Kelinci-kelincinya gemuk, berbulu putih dengan pola-pola bulat hitam seperti pada sapi. Pasti akan lebih menyenangkan jika saja aku dapat melihat mereka di alam bebas.

            Setelah kami selesai makan mangga dan minum sirup yang disuguhkan oleh Umi Syafiq, perjalanan kami lanjutkan lagi ke rumah Sarah. Kami bertemu dengan ibunya dan kakak-kakak mentor bercakap sedikit dengannya. Saat itu aku mencicipi kue-kue yang disediakan di meja dan sempat menanyakan pula pada Umi Sarah mengenai anak-anaknya. Kebetulan kakak Sarah yang paling sulung, Marwah, adalah teman sekolahku di SMP dan ketika masih kelas satu SMA.

            Begitulah kegiatan silaturahim yang kami lakukan dan tak kami lanjutkan lagi di hari kedua karena kurangnya waktu yang kami punya untuk menyelesaikan persiapan acara Halal Bihalal yang akan dilaksanakan pada hari Rabu.

            Kami semua telah memutuskan bahwa PIC atau person in charge kali ini adalah Sarah. Selain itu kami juga menentukan penanggung jawab untuk keper-luan konsumsi, perlengkapan, permainan, dan sebagainya. Aku sendiri terpilih (lewat hompimpah) sebagai MC acara Halal Bihalal bersama Thifal.

            Masalah konsumsi, sedapat mungkin kami tak boleh merepotkan orang tua, jadi diputuskanlah untuk membawa cemilan, makanan ringan, kue kering, atau apa saja yang ada di rumah dan dapat dengan mudah dipersiapkan oleh kami serta orang tua kami. Selain itu anak-anak diperkenankan membawa uang untuk berjaga-jaga apabila harus membeli sesuatu nantinya. Lalu perihal minuman pun kami meminta setiap anak untuk membawanya langsung dari rumah.

            Hari Rabu pagi aku telat bangun karena tidurku tidak nyenyak. Aku sudah merencanakan untuk tetap mengikuti tahfidz di masjid, tapi pada akhirnya aku tak sempat ke sana. Aku ditelepon oleh Kak Mira dan diminta untuk mengirim supir dan mobil ke rumah Kak Riza untuk mengangkut barang-barang.

            Aku dan sejumlah anak lainnya harus menunggu mobilku dan mobil Pak Nunu kembali dari mengantar murid-murid lain ke lokasi acara di taman yang berseberangan dengan masjid kampus, dipisahkan oleh danau yang cukup luas dan pemandangan yang bagus.

            Ketika aku dan teman-teman yang berangkat paling akhir telah sampai di lokasi acara, aku melihat murid-murid lainnya sudah duduk rapi mengitari pohon yang rimbun di samping danau. Kak Mira dan Thifal juga sudah mulai mengajari anak-anak salah satu permainan ice breaking yang kami rencanakan. Dan mereka mulai menyanyikan lagunya.

 

I want to be your friend, a little bit more. I want to be your friend, a little bit more. I want to be your friend, a little bit more. I want to be your friend, a little bit more. A little bit, a little bit, a little bit more.”

           

            Wah, kupikir. Tidak enak juga kalau Kak Mira sampai menggantikan aku mengajari anak-anak permainan itu. Tetapi aku memilih untuk melakukan tugas dokumentasi saja hingga mereka berdua selesai. Aku merasa tidak percaya diri untuk langsung mengambil alih sebagai pembawa acara. Aku meminjam kamera Kak Fira dan mengarahkan lensa pada anak-anak yang sibuk meniru gerakan Kak Mira dan Thifal sambil bernyanyi.

            Kemudian aku berdiri di depan bersama Thifal dan melaksanakan tugasku sebagai MC. Aku melakukan pembukaan singkat yang agak canggung karena baru kurencanakan pagi-pagi setelah salat Subuh. Memang persiapan dan pelaksanaan acara yang terburu-buru selalu saja jadi kelemahanku. Apalagi aku demam pang-gung sejak dulu. Jadi mungkin aku terdengar agak kaku.

            Setelah pembukaan, sesi selanjutnya adalah sambutan dari ketua panitia atau PIC. Aku dan Thifal memanggilkan Sarah untuk maju ke depan. Tetapi dia rupanya lupa membawa teks sambutan yang telah dia buat. Ia belum hafal isinya karena kalau tidak salah, dia memang baru sempat menyiapkannya pada malam sebelumnya. Namun kami sudah terlanjur memintanya memberikan sambutan di depan, jadi apa boleh buat—bangkitlah ia dari duduknya.

            Sarah memang gugup saat itu, tapi dia menuturkan sambutan dengan baik. Kalau saja ia tak berkali-kali menoleh pada kami dan bertanya, “Terus apa lagi,” orang mungkin tak akan tahu bahwa ia belum siap memberikan sambutan. Aku dan teman-teman putri dari level 8 saja sempat bertepuk tangan ketika mendengar kalimat-kalimat awal Sarah dalam sambutannya tersebut.

            Setelah itu, kami bermain macam-macam permainan. Penanggung jawab-nya adalah Rifda dan Icah serta Adib dan Eko. Aku, Thifal, Yahya, Syafiq, Sarah, dan Tesar hanya membantu mereka menjelaskan cara bermain.

            Permainan berlangsung seru di pihak laki-laki tapi berjalan agak lambat dan membosankan di pihak anak perempuan. Rupanya beberapa permainan agak sulit dimengerti oleh adik-adik dari level kecil. Adzan pun berkumandang ketika anak-anak perempuan baru paham bagaimana cara bermainnya. Maka dibubarkan-lah permainan. Sebagian besar anak mengambil peralatan salat dan langsung lari ke masjid lewat jalan memutar.

            Teman-temanku ternyata memilih untuk makan siang terlebih dulu, baru kemudian salat Dzuhur. Aku tidak ingin pergi ke masjid sendirian, jadi aku ingin ikut mereka makan siang. Tapi Kak Mira mengajakku salat dan aku pun ikut saja dengannya. Toh aku merasa tak nyaman jika salat belakangan. Yah, sebenarnya aku hanya butuh seseorang untuk menemaniku ke masjid.

            Kemudian ketika hendak mengambil wudhu, aku melihat seorang mantan kakak kelasku dulu sewaktu aku masih bersekolah di NF. Kak Farah namanya. Sepertinya dialah yang mengujiku masuk OSIS ketika SMP. Dan aku ingat betul ketika ia mengimami salat Maghrib berjamaah murid-murid perempuan di acara masa orientasi siswa baru.

            Aku dan Kak Farah mengobrol sebentar sebelum aku naik ke lantai dua masjid kampus untuk salat. Ternyata Kak Farah kuliah di jurusan Psikologi UI. Pantas saja dia semangat ketika aku bilang aku sedang tertarik bidang psikologi. Ia mengatakan padaku bahwa pelajaran yang didapatnya amat seru—mirip dengan respon yang diberikan seorang seniorku dari Karang Taruna.

            Begitu selesai salat, aku ingin cepat-cepat kembali ke lokasi acara agar dapat merasakan angin yang berhembus di atas permukaan danau yang tenang. Udara di jalan dan di lingkungan masjid terasa amat panas. Aku kehausan dan berharap bisa meminum sesuatu yang dingin, tapi aku lupa membawa dompet ke masjid. Dompet itu aku tinggalkan di tasku di tempat kami melangsungkan acara. Aku menyesal sekali.

            Teman-teman yang lain membeli teh kotak di toko buku di depan masjid. Seorang kakak mentor mentraktir mereka. Aku merasa tidak enak ingin meminta satu untukku, tapi akhirnya aku katakan juga. Sayang uangnya hanya cukup untuk membelikan empat teh kotak, jadi aku tidak kebagian. Namun Kak Mira mengalah untukku dan aku pun berhutang Rp2.500 padanya dan Kak Wulan.

            Setelah selesai makan siang, acara kami lanjutkan dengan pentas seni. Aku membawakan acara sendirian setelah istirahat makan siang karena Thifal harus pulang lebih awal untuk pergi ke dokter. Aku pun berusaha untuk membawa acara dengan santai, tapi jatuhnya canggung juga.

            Level yang tampil pertama adalah level 1 yang menampilkan nasyid berjudul Alhamdulillah dari Opick. Mereka agak malu-malu menyanyikannya, tetapi suara mereka terdengar jelas dan nada lagunya pun sudah pas.

Lalu tampilah level 2 yang menampilkan puppet show. Salwa menjadi narator sementara teman-temannya menjadi dalang yang menggerakkan boneka-boneka dari balik kain sarung.

Asad dan kawan-kawannya dari level 3 mempertunjukkan kebolehan me-reka membawakan dua buah nasyid dari Shaoutul Harokah. Sayang sekali anak-anak perempuannya hanya mengiringi dan tidak ikut bernyanyi.

Langit mulai mendung dan cuaca menjadi berangin. Acara yang masih cukup panjang akhirnya dipersingkat dan kami langsung melompat ke sesi tukar kado. Semua anak sudah diingatkan sebelumnya untuk membawa kado dengan harga minimal Rp5.000 tanpa batasan maksimal tertentu.

Begitu aku mengumumkan acara tukar kado, anak-anak langsung berteriak senang dan bertepuk tangan ramai. Padahal mereka terlihat lemas di acara pentas seni dan tak banyak memberikan apresiasi bagi teman-temannya yang tampil. Aku sungguh amat terkesan dengan fakta bahwa anak-anak kecil hanya membutuhkan sedikit alasan untuk berbahagia.

Anak-anak perempuan terburu-buru berbaris rapi, berjajar ke belakang, menunggu gilirannya mengambil kertas undian. Anak-anak laki-laki entah sangat bersemangat atau bagaimana: mereka berbaris rapi pada mulanya, tetapi segera berkerumun lagi mengitari tumpukan kado dan menatap teman-temannya yang mengambil undian dengan penuh antusiasme.

Aku lega karena sebentar lagi acara akan ditutup dan selesailah tugasku sebagai MC tunggal. Namun aku sebenarnya merasa senang juga bisa melakukan tugas yang biasanya tak diberikan orang kepadaku. Walau membutuhkan arahan dan tips-tips yang lebih banyak mengenai cara-cara yang menyenangkan untuk membawakan acara, aku bukanlah pilihan yang buruk untuk diamanahi tugas ini (atau begitulah pikirku).

Karena aku terus berkeliling dan mengingatkan orang-orang untuk, “buang sampah di tempatnya, ya,” dan “tolong dibereskan barang-barangnya,” serta “kita operasi semut setelah ini,” juga “kadonya dibuka kalau semuanya sudah dapat bagian”—maka aku menjadi orang terakhir yang menarik undian tukar kado.

Aku mendapat kado nomor 27 berbungkus kertas kado warna biru. Kado yang kubawa diberi nomor 12 dan akhirnya menjadi milik Zurai. Aku berharap kado gantungan boneka dariku itu dapat melegakan hatinya (atau paling tidak tak akan merusak kegembiraannya bertukar kado). Aku khawatir karena aku rasa aku tidak begitu pandai memilih kado ataupun tahu betul benda apa yang bisa diterima oleh anak perempuan dengan kisaran usia 7 hingga 16 tahun.

Kak Arie diminta untuk menutup acara setelah sesi tukar kado selesai dan anak-anak selesai membersihkan sampah di sekitar lokasi acara. Kami pun berdiri dalam formasi lingkaran dan berdoa bersama. Lagi-lagi Sarah, selaku PIC, kami tunjuk untuk memberikan kesan-pesan terakhir sebelum acara usai.

Mobil jemputan pun berdatangan dan barang-barang diangkut ke dalam bagasi. Anak-anak yang lebih muda diberikan kesempatan pulang lebih awal. Aku dan anak-anak lain yang lebih tua mengalah dan menunggu sangat lama sampai bisa pulang kembali ke rumah Kak Riza.

Sebenarnya supirku (supir keluargaku—bukan supirku pribadi), Pak Yadi, diminta oleh Mama untuk menjemput adikku di SMP. Tetapi kami semua masih menunggu giliran untuk pulang dan mobil yang ada hanya mobil yang dikendarai Pak Nunu dan mobilku (oke, itu mobil Ayahku, tapi tak apalah disebut sebagai mobilku juga. Aku kan tidak menyatakan bahwa mobil itu benar-benar milikku. Aku hanya memakainya kalau perlu).

Sambil menunggu kendaraan, kami yang masih tertinggal di halaman luas universitas bermain-main sendiri untuk mengusir jenuh. Aku meminjam kamera milik Kak Fira dan meminta tolong kakak-kakak mentor untuk mengambil gam-barku dan teman-teman putri level 8 hingga 10 yang sedang bergaya.

Angin yang berhembus kencang menghilangkan penat dan rasa bosan yang melanda kami. Duduk di pinggiran danau, di atas gundukan tanah yang hijau oleh rumput; kami mengobrol dan bercanda, menikmati sore hari. Kami makan es krim tiga rasa (vanilla, cokelat, dan stoberi) sisa makan siang tadi yang dibelikan oleh Kak Riza, yang sudah tercampur aduk karena meleleh. Namun rasanya tetap enak dan dinginnya masih dapat menyegarkan tenggorokan kami.

Pak Yadi akhirnya datang dan menunggu di tempat parkir. Aku pikir kami akan segera pulang setelah ini, tapi nyatanya aku, Rifda, Izhar, Kak Mira, Eko, Tesar, Kak Arie, dan Yahya harus menunggu cukup lama lagi karena kedua mobil yang menjemput tadi sudah penuh.

Jadilah kami berdelapan duduk-duduk di bawah pohon rindang di dekat Balairung dengan ditemani Kak Wanto yang walaupun membawa motor, tetap menunggui kami dan bahkan membelikan kami air mineral dingin.

Aku tidak yakin berapa lama kami berada di sana. Yang jelas, adzan Ashar telah berkumandang sejak lama dan beberapa mahasiswa telah berjalan melewati kami untuk pulang ke rumah. Aku sampai pasrah dan tak memiliki keinginan untuk menghubungi siapa-siapa lagi walau untuk sekedar menanyakan keberadaan Pak Yadi dan mobilku.

Alhamdulillah, Pak Yadi datang juga menjemput kami bersama Ihsan yang telah berganti baju. Kami langsung berkendara kembali ke perumahan Griya Tugu Asri setelah Kak Mira turun di lingkunan fakultas hukum. Kami sudah tak banyak berkata-kata di jalan karena lelah dan aku tak bisa memikirkan hal lain kecuali untuk segera mandi dan beristirahat.

Begitulah. Tiga hari yang penuh kegiatan.

Advertisements